Journey To The Rooftop of The World #28
Tutuplah pintu rumahmu, rapat-rapat. Aku akan segera datang mengetuknya. Seusai perjalanan panjang ini – setelah kugenapi nubuat ini – kukira akan sampai juga saatku untuk kembali. Tutuplah pintu rumahmu, sedemikian rapat. Kuncikanlah. Agar dapat kupaksakan hasratku menuju-Mu. [Ags. Arya Dipayana]
Pesawat Thai Airways dengan nomor penerbangan 433 jurusan Bangkok-Jakarta berputar-putar di atas Bandara Soekarno Hatta dalam keadaan hujan lebat. Pilot mengabarkan bahwa kami telah berada di langit Jakarta. Tiba-tiba ada rindu yang menyeruak: aku kembali ke Indonesia! Negara tempat di mana aku dilahirkan dan dikenal sebagai orang yang mendiami kepulauan Nusantara.
Roda pesawat menyentuh landasan dengan lembut. Orang-orang bersorak. Sebagian saling pandang dan tersenyum senang. Ya, kami telah mendarat di Jakarta. Di dalam pesawat jurusan Bangkok-Jakarta ini pun tak aneh bila terdengar orang bercakap-cakap dalam Bahasa Indonesia. Bahasa yang hampir tak kudengar nyaris dalam sebulan terakhir ini. Ada perasaan senang ketika mendengar kembali bahasa tersebut digunakan.
Pesawat merapat di Terminal 2. Penumpang keluar dan pramugari menyunggingkan senyum paling manis yang bisa mereka berikan. Akhirnya aku kembali menginjakkan kaki di tanah air. Antrean panjang di bagian imigrasi sudah dapat memastikan: ya, inilah Indonesia. Setelah urusan bagasi beres, aku mulai menggendong ransel lagi, keluar dari Terminal 2 dan celingukkan mencari shuttle travel/bus jurusan Bandung.
Continue reading →
Journey To The Rooftop of The World #27
Han, memang bukan sesuatu yang baru. Jalan setapak setiap orang dalam mencari tempat, di tengah-tengah dunia dan masyarakatnya, untuk menjadi diri sendiri, melelahkan dan membosankan untuk diikuti. Lebih membosankan adalah mengamati yang tidak membutuhkan sesuatu jalan, menjangkarkan akar tunggang pada bumi dan tumbuh jadi pohon. [Pramoedya Ananta Toer, Anak Semua Bangsa]
Aku sayang sekali sama ranselku. Mereknya deuter. Warnanya perpaduan antara hitam dan abu-abu. Volumenya 75 liter (60+15). Belinya (setelah putar-putar seluruh outdoor equipment) di Bandung. Harganya, lebih baik tidak perlu disebutkan. Hehehe. Yang pasti si deuter ini cukup keren. Baik untuk sekadar dipandang maupun disandang. Kalau kita menggendongnya, dijamin bahu, punggung, dan pinggang kita takkan letih dibuatnya. Teknologinya cukup ciamik.
Ketika kali pertama tiba di kota Kodari, Nepal, Eva si Denmark baru menyadari kalau ransel kami sama-sama deuter. Aku pun baru menyadari kalau ransel Eva pun deuter.
“Hei, ransel kita ternyata sama-sama deuter.” tukas Eva sembari menepuk-nepuk ranselku dari belakang.
“Oya?” aku melihat ke punggung Eva. “Wah, iya. Mantap!”
“Keren!”
Saking sayangnya, aku takkan pernah membiarkan si deuter itu kotor atau berdebu. Kecuali saat digendong, aku selalu membungkusnya dengan rain cover ketika ia harus masuk ke bagasi bus maupun bagasi pesawat. Selain bakal aman dan terlindungi, dengan rain cover warna biru menyala, si deuter teramat mudah untuk dikenali ketika aku hendak mengambilnya dari bagasi bus atau di carousel bandara.
Continue reading →