Anjangsana

Banyak email yang masuk ke dalam inbox dan bertanya: ‘mengapa sekarang jarang menulis di blog?’ Atau tak jarang para pengirim email itu kerap mengisahkan: ‘kalau datang ke blog penganyakata dan mendapati tidak ada tulisan baru, rasanya seperti pulang dengan tangan hampa’. Ada lagi pengirim email yang berkata: ‘begitu rutinnya saya ke blog penganyamkata, hingga saya harus meng-copy tulisan yang ada di sana dari warnet, untuk saya baca di rumah. Tetapi kalau tak ada tulisan baru, suka kecewa juga’.

Mendapati email-email semacam itu tak pelak membuatku sedikit gusar, tersudut, dan merasa serba salah. Tapi mereka sepenuhnya tak salah. Maka sebisa mungkin aku menyodorkan argumen yang memang sesuai dengan kondisi yang sedang terjadi sebagai balasan.

Sesungguhnya hampir tak ada yang tak bisa ditulis. Setiap gerak inci dalam kehidupan kita bisa kita tulis bukan? Bahkan selembar daun gugur dari pohon sekalipun, dengan berbagai makna serta metafora, tetap bisa menjadi bahan tulisan yang menarik dan ciamik kalau kita mau mengolahnya.

Hal paling utama yang membuatku kendur menulis di blog sebetulnya hanya satu: aku kerap tak sempat berkunjung ke blog kawan-kawan yang sudah menorehkan komen di blog penganyamkata. Bisa dibayangkan, setiap ada tulisan baru, mereka selalu komen. Tetapi aku selalu saja absen untuk melakukan kunjungan balik. Memang betul, tak satu pun yang dengan terang-terangan melakukan protes akan hal itu. Buktinya, setiap aku mem-posting tulisan baru, mereka tetap saja komen meski aku belum lagi berkunjung dan memberikan komen di sana.

Continue Reading »

Hati-hati dengan Apa yang Kau Tulis!

When you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it
[Paulo Coelho, The Alchemist]

Bagi sebagian pembaca blog ‘Penganyam Kata’, mungkin masih lagi ada yang mengingat tulisan dengan judul ‘Who Are You?’ dalam serial ‘The Waiting Is Almost Over’. Tulisan itu di-posting pada 3 Mei 2009 jam 20.00 malam.

Tulisan ‘Who Are You?‘ berkisah tentang seorang lelaki bernama Dan yang datang ke almamater SMA-nya dan memberikan pelatihan penulisan kreatif pada siswa-siswa di sana. Kisah itu tentu saja fiksi belaka. Semata hasil karanganku saja. Membayangkan pada suatu hari aku ingin kembali ke SMA dan menularkan pengalaman tentang dunia tulis menulis.

Siapa nyana, nyaris setahun kemudian hal itu betul-betul terjadi persis seperti apa yang kutulis. Memang tidak di SMA-ku, melainkan di SMA Terpadu Krida Nusantara – Boarding School, Bandung. Ceritanya, pada acara bincang novel di Pesta Buku Bandung 23 Februari 2010 lalu, seorang lelaki bernama Pak Wildan menawariku dan Lisa Febriyanti (penulis novel Iluminasi) untuk memberikan pelatihan menulis kreatif seputar pengalaman menulis novel di SMA-nya. Setelah beberapa kali kontak, gayung pun bersambut.

Continue Reading »

Menunggu Purnama di Pagi Hari

Jiwa yang tersiksa, itulah neraka. Jiwa yang bahagia, itulah surga
[Cok Sawitri, Sutasoma]

Sudah lama tak berkunjung ke Bandung. Sekali ada kesempatan ke Bandung yang pertama-tama dituju malah sebuah warung kopi di Jalan Alketeri dekat Kantor Pos Besar Asia Afrika. Turun dari kereta langsung melesat ke sana. Jaraknya tak begitu jauh dari stasiun kota.

Hari masih jam tujuh pagi. Seperti kebanyakan kota, pagi selalu ramai sebagai permulaan hari. Orang-orang berkendara menuju tempat kerja. Pedagang membuka tokonya. Dan anak-anak berangkat ke sekolah. Mobil, motor, bus, angkot, dan sepeda saling berebut tempat. Semua memiliki satu tujuan: rutinitas! Maka ketika aku melihat diriku, aku jadi geli sendiri. Seorang lelaki dengan ransel di punggung. Menyibak pagi mencari secangkir kopi. Apa yang hendak dicari?

Kumasuki warung kopi itu. Warung Kopi Purnama namanya. Berada di deretan bangunan tua. Dulu, ketika Jalan Asia Afrika masih terkenal sebagai De Groote Postweg atau Jalan Raya Pos, jalur itu memang digunakan sebagai pembatas antara daerah inlander di selatan dengan irlander di utara. Itulah mengapa, hingga kini kalau diperhatikan betul, bangunan-bangunan di selatan Jalan Asia Afrika di kota Bandung akan tampak sangat pribumi sekali. Sementara di bagian utara masih begitu banyak gedung-gedung perkantoran atau hunian bercorak Eropa peninggalan pemerintah Hindia Belanda.

Continue Reading »

The Epitaph Trilogy

Dear Teman-teman,

Untuk selanjutnya, setiap ulasan novel Epitaph akan disimpan di The Epitaph Trilogy secara khusus. Hal ini dimaksud agar usaha pendokumentasian dapat dilakukan lebih cermat serta rapi, dan tak tercampur dengan tulisan-tulisan lain.

Tak lupa kuucapkan ribuan terima kasih pada teman-teman, baik yang telah mengulas maupun yang mengikuti tulisan-tulisan tersebut. Dukungan teman-teman adalah energi yang tak terhingga bagiku secara pribadi.

Selepas ulasan dari Pak Idris Pasaribu kemarin ini, tiga pucuk ulasan sudah termuat di The Epitaph Trilogy sebagai kelanjutan:

1. Menyusuri Misteri “Eptaph” oleh Rara Ajeng Dewantari Radesya,
2. Novel, Berita, dan Sastra oleh Ipon Bae, dan
3. Epitaph oleh Amang Suramang.

Hingga saat ini sudah 14 ulasan yang berkenaan dengan novel Epitaph. Tentu saja aku berharap ini tak berhenti hingga di sini semata. Sehingga dari sana pula aku dapat belajar dan bercermin melalui sudut pandang pemikiran yang berbeda.

Continue Reading »

Next Page »