Purnama

 

di bulan empat belas kau menelpon aku

mengabari tentang kuning telur yang merindu

tak kah kau, aku pun menikmati auranya di genting rumah

aku mengkhayal bahwa kau pun mencumbui seperti mataku

sukmaku terbang terbawa sinar lelembutnya

pergi mengikuti kemanapun kau pergi

menjaga dirimu hingga batas waktu yang tak tertentukan

mengancani tidurmu yang lelap di samping ranjangmu

dan masuk ke dalam tubuhmu yang manja

terus saja begitu tak berkesudahan

sampai kapan kubegini…

 

September 1999

This entry was posted in Sajak. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>