Curahan Hati Seorang Aktivis

Posted by penganyamkata on October 1, 2001 under Ulasan | Be the First to Comment

Resensi Selamat Datang di Pengadilan | #2

Jumpa, Edisi 20/Th.XI/2001

Oleh G. Kuswara

Judul Buku: Selamat Datang di Pengadilan
Penulis: Daniel Mahendra
Tebal: 107 + xvii halaman
Penerbit: Malka

Ada luka meninggalan rezim yang berkuasa selama 32 tahun. Luka yang diderita sebagian besar rakyat negeri ini, yang terus menggumpal menjadi gundukan kemarahan massalh anak bangsa. Terlebih ketika roda reformasi semakin melenceng keluar jalur. Tidak adanya penanganan hukum yang serius terhadap berbagai pelanggaran yang dilakukan oleh penguasa-penguasa rezim Orde Baru dan kroni-kroninya.

Kondisi ini akhirnya menimbulkan ketidakpercayaan kepada pemerintahan yang berkuasa saat ini, terutama kepada institusi penegakan hukum akhirnya menyebabkan rakyat melampiaskannya dengan cara yang mereka ketahui, mengadakan pengadilan jalanan oleh massa kepada penjahat-penjahat yang berhasil mereka tangkap.

Rasa sakit, dendam, kemarahan dan kemuakan terhadap rezim Orde Baru yang tidak terlampiaskan akhirnya berubah jadi ketidakpercayaan terhadap keseriusan pemerintahan sekrang dalam penegakan hukum. Ini menimbulkan kecenderungan untuk menghakimi sendiri di masyarakat.

Pengadilan dan penghakiman oleh Daniel diwujudkan dalam buku kumpulan cerpennya yang pertama dengan judul Selamat Datang di Pengadilan. Sekilas, sebagai judul Selamat Datang di Pengadilan tidak memiliki keterkaitan dengan cerpen-cerpen di dalamnya. Dalam buku ini tidak satu pun berisi cerpen dengan judul Selamat Datang di Pengadilan yang bisa dipakai mewakili menjadi judul buku ini.

Keterkaitan antara judul dan cerpen-cerpen di dalamnya baru jelas terlihat setelah kita masuk lebih jauh ke dalam benak pengarang lewat cerpen-cerpennya. Dari sana kita akan tahun yang kita masuki adalah sebuah pengadilan, pengadilan ala pengarang tentu saja.

Di sini Daniel menjelma berganti-ganti menjadi pembuat hukum, hakim, jaksa, korban, saksi dana algojo sekaligus. Dan terdakwanya di sana ada pemerintah rezim Orde Baru, militer, pikiran-pikiran kolot yang picik bergantian. Kesemuanya didudukkan oleh Daniel di kursi terdakwa dan satu demi satu diadili dan tentu saja diputuskan bersalah.

Dari sekitar sebelas cerpen yang hadir di buku ini, hampir seluruhnya jika tidak bernuansa muram dan penuh luka, maka yang hadir adalah kekesalan dan kemarahan, pada titik tertentu terasa sekali pangarang tidak sekedar menggerutu, melainkan memaki.

Cerpen-cerpennya menampilkan banyak kareakter aktivis kampus dengan beragam sisi kehidupan untuk disimak. Ada sentuhan romantisme kehidupan seorang aktivis, lengkap dengan kisah cinta, cemburu, pengkhianatan dan kebimbangan yang menjelaskan jika seorang aktivis adalah manusia biasa juga sama dengan lainnya. Benturan antara idealisme dan realitas sangat terasa sekali di setiap tulisannya.

Daniel adalah seorang jurnalis. Sebagai jurnalis ia merekam semua pergulatan tersebut dengan baik, mencatat segala peristiwa yang dilihatnya baik dialami langsung atau secara tak langsung. Nuansa seorang jurnalis muncul dalam beberapa cerpennya (lihat Pacarku Seorang PenyairKemudian Jadilah Ia Wartawan). Daniel juga seorang penulis, semua pergulatan batinnya sebagai aktivis, catatan-catatannya sebagai seorang jurnalis akhirnya melebur dan menghasilkan karya-karya yang bisa dinikmati dan diterbitkan dalam kumpulan cerpen Selamat Datang di Pengadilan.

Ada beberapa kelemahan dalam buku ini, sedikit keteledoran penulis dalam memaparkan cerita sehingga cukup mengganggu dan membingungkan pembaca (lihat Bangsaku yang Fasis). Untungnya ini terjadi di awal cerita, kepercayaan pembaca terhadap penulis bisa hilang –terlebih ini Bangsaku yang Fasis karya yang muncul pertama- pembaca mungkin saja memutuskan untuk tidak meneruskan membaca cerita yang lain.

Lalu masalah tata letak, ada beberapa halaman yang kosong, tidak terisi naskah. Ada kesan terburu-buru. Entah ini keteledoran sang penata letak atau hal yang disengaja –kecenderungan artistik mungkin. Tapi jelas ini pemborosan ruang sekaligus mengganggu, yang sebenarnya bisa dihindari.

Pengarang mungkin tidak membawa genre baru dalam perkembangan sastra Indonesia mutakhir, tapi sebagai karya yang telah ditulis dan diterbitkan –dengan segala kelebihan dan kekurangannya- ini adalah sumbangan bagi perkembangan sastra Indonesia. Terlebih keberanian penulis untuk menerbitkan dan memasarkan sendiri buku ini patut mendapat penghargaan tersendiri.

Comments are closed.