Perempuan dan Senja

 

ia melepaskan hari dan digantungkannya di tali jemuran

membuka keringat yang melilit, yang tak jelas lagi apa warnanya

mengendap-endap membasuh lorong waktu yang tak pernah tuntas

terus begitu setiap harinya

o, kasih yang tak sampai: apa yang kau tunggu

lelakimu telahlah beristri dan tak mencintaimu lagi

tapi toh tetap saja kau olah hari, keringat, dan waktu

demi anak-anakmu dari lelaki yang pernah begitu kau cintai

di sini aku termangu-mangu: menyaksikan kesunyianmu

 

Bandung, 6 Januari 2002

This entry was posted in Sajak. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>