Pagi di Suatu Senja

 

aku merasa bangun di sore hari

mengapa kehidupan dimulai saat matahari pamit pulang

mustinya kau tikam saja aku dengan wangi mata-Mu

sementara pertemuan di antara kita tak pernah tuntas

aku berjalan di atas malam

menyeruput ombak yang tak pernah letih menggemuruh

labirin menenggelamkanku pada sesuatu yang tak terpahami

ngilu hati ini merasakan kedekatan kita

mustinya aku tau apa judul hubungan ini

ambilah, ambilah aku dan jadikan milkiMu selama-lamanya

biar keluar kata-kata ini secara semestinya

tapi aku tetap saja tidur saat matahari mengetuk pintu

 

Bandung, 22 Januari 2002

This entry was posted in Sajak. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>