Cerpen Daniel Mahedra
“Turun kau dari mimbar!!!” sambar Tarmiji lantang. “Turun kataku!!!” teriaknya dari tengah-tengah kerumunan penonton.
Sontak si Lelaki Penyair menghentikan sajaknya. Terbata-bata: siapa orang yang dengan kurang ajar menyentaknya seperti itu.
“Kau! Kau tak pantas membaca sajak di tempat ini, Bung!! Kau lebih pantas ngamen rock ‘n roll di emperan kota Belanda sana! Pergi Kau!!”
Si Lelaki Penyair menatap mata Tarmiji. Tapi tak berbuat apa-apa. Baru tiba di Indonesia, sudah dipermalukan sebegini hina, batinnya. Kerumunan penonoton pun mulai terusik dan bergerundel. Suasana malam pembacaan sajak yang hening dan puitis tadi tiba-tiba saja pecah berantakan.
“Kau! Kau tak lebih dari penyair sekedar!! Tak lebih!!!” sembur Tarmiji sembari ngeloyor meninggalkan kerumunan penonton. “Ahoi… si penyair sekedaaar…!” mulut Tarmiji bau alkohol.
Si Lelaki Penyair terduduk di panggung baca. Matanya mengiringi kepergian Tarmiji yang terkenal sompral dan tengik itu. Penonton yang telah menginsafi keterusikannya, menyuruh si Lelaki Penyair kembali membacakan sajak-sajak rock ‘n roll-nya. Tetapi si Lelaki Penyair masih lagi terdiam. Terngiang ucapan Tarmiji: penyair sekedar… penyair sekedar…
Ai… si Lelaki Penyair turun dari mimbar. Kepalanya tertunduk ragu. Penonton merasa tak enak hati melihatnya. Beberapa kawan si Lelaki Penyair berusaha mencegat serta membujuknya untuk kembali ke panggung baca. Tetapi si Lelaki Penyair terus ngeloyor dengan kepala tertunduk. Matanya murung. Nampak ia berusaha menahan amarah yang berjompak-jompak. Ia meninggalkan ruangan. Pergi ke jalan raya, mencegat taksi. Kembali ia terngiang kalimat Tarmiji: penyair sekedar… penyair sekedar…
Oh-oh! Si Lelaki Penyair nampak gulana.
* * *
Tarmiji memang bukan orang sembarang. Ia penyair yang terhitung punya nama di negeri ini. Sajak-sajaknya liar, berani, dan jujur. Buku kumpulan sajaknya sudah tak terhitung. Ia digaji orang untuk bersajak. Tarmiji memang penyair terkenal. Hobinya bersajak, minum plethok, dan main perempuan. Kalau ada penyair muda yang mulai berani unjuk kemampuan, ia tanpa sungkan ‘kan mencibirnya. Bahkan di depan panggung baca sekalipun. Selama ini orang-orang tak berani menyumpahi Tarmiji. Selain terkenal, bau alkohol dari mulutnyalah yang membuat orang-orang menaruh hormat sungguh padanya. Ya, Tarmiji merasa ia bukan sekedar penyair. “Aku memang penyair sungguhan!” akunya suatu hari (tentu sembari mabuk!).
* * *
“He Bung, mengapa murung begitu?”
Si Lelaki Penyair terkaget dari lamunannya. Tak menyadari kedatangan Saban, kawan lamanya yang namanya mulai diperhitungkan di panggung kepenyairan. “Rupanya kau Saban.”
“Alah… baru dibilang gitu aja sedih!” ujar Saban mencomot sebatang rokok. “Sudahlah, jangan kau anggap serius omongan si Tarmiji itu. Mulutnya mau bir!”
“Mulutku pun selalu bau bir, Ban!”
“Nah, sama saja ‘kan!”
“Apa sih maksud penyair sekedar itu, Ban?”
“Alah… lupain aja!”
“Tapi ia mengolokku di depan banyak orang, Ban!”
“Lantas kenapa? Kau mustinya bangga dengan sebutan penyair sekedar. Karena kau memang bisanya cuma segitu. Buat apa kau malu mengakui kemampuanmu itu*?”
“Kau pun menyebutku sebagai penyair sekedar, Ban, kawanku?”
“Haha… Coba kau pikir, Bung, apanya di negeri ini yang tak sekedar? Semuanya serba sekedar. Pemerintahannya sekedar, parlemennya sekedar, partai-partai politiknya pun sekedar. Semuanya sekedar basa-basi, Bung! Orientasinya hanya money… money…!”
Si Lelaki Penyair tercenung mendengar penuturan Saban. “Tapi ia mengatakannya di depan umum!”
“Alah… ucapan orang berbau alkohol, siapa yang mau percaya, Bung!” ujar Saban menguatkan.
“Jadi aku ini memang penyair sekedar, Ban?”
“Ya, kau, aku, si Tarmiji tengil itu, semuanya hanya sekedarnya!”
“Jadi siapa yang pantas disebut penyair sungguhan, Ban?”
“Ini dunia, Bung, bukan sorga. Tak ada yang sempurna!”
“Kau memang kawanku, Ban!”
“Sudahlah! Menulis sajaklah lagi. Banyak-banyak!”
* * *
Malam itu angin bertiup lembab. Tak sehat bagi siapapun untuk berkeliaran di luaran rumah. Tak terkecuali bagi penyair sekalipun. Dan Tarmiji sedang asyik-masyuk bersama seorang perempuan muda di sebuah sudut pendopo seni. Mulutnya bau bir. Ia tak menyadari kedatangan si Lelaki Penyair yang sudah berdiri di hadapannya. Dengan mata setengah terkatup ia menatap kaget si Lelaki Penyair.
“Ahoi, si penyair sekedar rupanya! Ada apa, Bung?”
“Tak ada apa-apa! Sorry kalau aku mengganggu. Tapi mungkin betul katamu, aku memang penyair sekedar. Sebagai penyair sekedar, aku sekedar ingin memukul hidungmu!!” ucap si Lelaki Penyair sembari mengacungkan kepalan tangannya, siap meninju.
Tarmiji terkesiap. Si perempuan muda sudah berlari menghindar. “Hoi… hoi… aku sedang tak sadar, Bung! Maafkan aku… maafkan aku!”
Tangan kiri si Lelaki Penyair sudah mencengkeram kerah jaket Tarmiji. Yang kanan masih teracung mantap.
“Hoi… hoi… begini rupanya adat penyair kita?” teriak Tarmiji minta ampun.
“Penyair kita katamu? Kenapa tak kau embeli kata sekedar, Ha?!” si Lelaki Penyair masih emosi.
“Tidak… tidak… Saat itu aku lagi mabuk. Sekarang pun sedang mabuk. Ampun, Bung, ampun!” mulut Tarmiji memang bau tengik.
“Huh!! Rupanya kau sekedar penyair sompral. Keberanianmu tai kucing, Tarmiji! Tai kucing!! Sekedar keberanian di atas kertas dan di panggung baca. Mana keberanianmu dalam kehidupan nyata?! Kaulah penyair sekedar itu!!” si Lelaki Penyair meninggalkan Tarmiji begitu saja. Tangan kanannya yang sudah terkepal ia masukkan ke dalam celana. Pergi ke sisi jalan raya, mencegat taksi.
Tarmiji terbengong-bengong. Dikira ia akan dihajar habis malam itu. Ia merasa malu bukan alang-kepalang. Celananya basah bau pesing.
* * *
Rumah Malka, Bandung, 27 April 2003.
*Sajak ‘Saya Suka Sebutan Penyair Sekedar’, diambil dari antologi puisi Heri Latief, ‘Ilusiminimalis’.



