Ketika Memutuskan Hidup Independen Secara Total

(Sebuah Catatan Omong Kosong)

Di bulan Maret 2004 aku masuk rumah sakit. Jenis sakitnya sendiri aku kurang jelas. Katanya sih infeksi pencernaan. Makanku memang tak pernah tertib. Baru beranjak makan kalau teringat saja.

Saat berbaring di rumah sakit dan diinfus, banyak sekali waktu yang tersaji. Aku jadi banyak berpikir: mau apa sebetulnya? Artinya, aku memang bekerja, namun apa sebetulnya yang aku kerjakan… Bagaimana dengan impian yang selama ini aku miliki…

Kerja bagiku memang mengasyikan. Aku tak pernah takut untuk kerja keras. Sekeras apa pun itu! Karena aku suka bekerja. Aku bisa total kalau sedang mengerjakan sesuatu yang kusuka. Aku memang gila kerja. Aku bisa bekerja 24 jam penuh tanpa istirahat. Hingga seakan 24 jam dalam sehari rasanya terasa kurang. Tak tidur sama sekali atau hanya tersempat tidur barang 2-3 jam sudah biasa bagiku. Untuk hal satu ini aku memang terlalu berlebihan. Hingga terkadang aku melupakan hal-hal yang tak kalah penting lainnya, semisal: hubungan interaksi dengan keluarga, waktu istirahat, waktu relaksasi atau hiburan, pacaran, juga yang paling penting: ibadah.

Kembali soal bekerja: tapi kerja dari media ke media seperti selama ini, lama-lama aku jadi berpikir: apa yang kubangun? Aku seperti tak membangun apa-apa. Media dalam bentuk tabloid, koran, majalah, radio pernah kurasakan semua. Lagi pula aku bukan jurnalis yang handal. Aku bukan orang lapangan yang gesit.

Dulu, aku memang suka iri dengan kawan-kawanku yang begitu cekatan ketika di lapangan. Mereka seperti begitu mudah dan cekatan kalau sudah menembus berita atau narasumber. Berbeda dengan aku. Aku mau dan berani melakukan semua itu, tapi aku merasa kurang gesit. Maka kusadari betul: aku orang yang berani mengorbankan keringat dan darah di hadapan komputer. Maksudnya, aku memang tak lincah di lapangan, tapi kalau sudah menulis di depan komputer, aku bisa mempertaruhkan diriku untuk tulisan demi tulisan.

Di luar profesi kejurnalistikan, di luar aku masih saja suka menerima order research. Datangnya bisa dari mana saja. Dari sebuah LSM, perusahaan, atau rekanan perusahaan research di Jakarta yang membutuhkan data di Bandung. Aku memang sempat mendirikan Bandung Polling Center. Datanya kerap digunakan Kompas, Pikiran Rakyat, RRI Bandung, MQ Radio, atau beberapa media lokal lainnya. Uangnya tentu saja lumayan dan tak sedikit. Tapi terkadang, data dengan harga 500 ribu pun kuambil.

Lebih dulu lagi, aku malah bergabung dengan kawanku di dunia fotografi. Setiap hari Minggu kerjaku tak lain dari motret acara pernikahan. Dari pagi sampai menjelang malam. Prosesi orang berakad nikah hampir bosan kusaksikan. Tapi lama-lama aku merasa jenuh dengan pekerjaan ini. Kerjanya dari itu ke itu saja. Akhirnya aku memutuskan berhenti di bisnis fotografi.

Di waktu luang, terkadang aku masih mau mencarikan buku bagi siapa saja yang membutuhkan judul buku tertentu. Ya, soal jualan buku, dari dulu aku memang sudah memulainya. Dari tingkat kecil-kecilan tentu saja. Aku membeli dengan harga sedikit di atas penerbit, dan kujual dengan harga normal. Asyiknya, aku bisa mengambil secara konsinyasi.

Keuntungan dari bisnis buku kecil-kecilan seperti ini memang tak begitu besar. Juga tak begitu signifikan dari segi pendapatan. Namun asyiknya, aku masih bisa merasakan terjun di lapangan perbukuan. Dengan beberapa distributor dan toko buku pun terjalin jaringan yang akrab.

Ya, sejak lulus SMA, memang selalu saja ada yang kukerjakan di luar kuliahku. Di samping menulis tentu saja. Karena jujur saja, sejak lulus SMA aku merasa malu kalau harus terus-menerus meminta dana dari orang tua. Hingga akhirnya di tahun 1995 (yang berarti 2 tahun setelah kelulusan SMA-ku, 1993), aku memutuskan untuk berhenti minta dana dari orang tua. Baik itu uang saku, biaya kuliah atau kebutuhan lain. Kalau diberi, tentu tak boleh kutolak. Namanya juga pemberian orang tua. Tapi intinya: aku sudah tak pernah minta. Ya, sejak 1995. Kalau ini tahun 2005, berarti sudah 10 tahun.

Bersambung ke Majikan Atas Diri Sendiri (3)