Pergi Ke Timur (1)
Secuil Catatan Perjalanan
Kamis, 9 Desember 2004
Kereta api ekspres malam Turangga mulai membelah malam. Menyusuri bentangan rel jalur selatan Pulau Jawa yang dingin kesepian. Aku duduk di sebelah ibu dengan postur tubuh yang lumayan ‘ndut’, yang kerjanya hanya tidur dan tidur belaka. Dua buah dus besar berisi 300 eksemplar buku Melacur terpaksa kuletakkan di depan kakiku. Karena sudah tak ada tempat di bagian rak atas.
Kucoba pergi tidur, namun sulit sekali. Aku membolak-balik sepucuk buku Melacur, karya sahabatku, Ella, yang kan kutemui di Surabaya esok harinya. Lagi-lagi sulit untuk tidur.
Jika mengingat proses pengambilan dua dus berisi 300 eksemplar buku itu dari percetakan, sungguh menggelikan sekaligus menegangkan! Bagaimana tidak, tadinya buku itu hendak kukirim melalui paket. Agar aku bisa santai saat pergi ke Surabaya. Tapi, sore pukul 18.00 merupakan jadwal keberangkatan keretaku. Namun buku baru kelar dan dipak dalam dus oleh percetakan pada Kamis siang harinya. Sableng! Siang itu aku berkejaran antara percertakan di Caringin, rumah di Turanga, dan stasiun di Kebon Kawung.
Hujan deras tak kenal ampun. Tapi kalau nekat membawa dus itu, resikonya besar juga. Bisa habis kebasahan malah. Buku ternyata sudah dibawa mobil boks percetakan, hendak dikirim ke alamat, namun musti mampir dulu ke Penerbit Pustaka Latifah di Margahayu sana. Wuih, Gila! Untung aku sempat berbohong pada kawanku pemilik percetakan: bahwa keretaku berangkat pukul 16.30! Hehehe!
Percetakan memang sedang penuh karena harus mengejar pengerjaan soal ujian SMP. Padahal materi buku Melacur dan Izinkan Aku Mencinta karya Iin sudah masuk sejak lama. Tapi pengerjaan soal ujian sekolah, siapa yang berani menunda! Bisa tidak ujian ribuan anak sekolah nanti…
Kembali ke dalam kereta. Beruntung aku duduk di gang, tidak di jendela. Karena dengan begitu aku bisa keluar masuk bordes, dan merokok sendirian di sana. Aku memang tidak bisa tidak merokok dalam waktu lama. Merokok sendirian di bordes seperti ini memang mengasyikan. Sembari meliriki mbak-mbak pramugari yang melenggak-lenggok manis serta kemayu!
Dulu, aku sering sekali merokok di bordes kereta saat dalam perjalanan menyusuri Pulau Jawa. Tapi bukan dengan kereta eksekutif, melainkan bisnis. Kenapa bisnis, karena di bordes aku bisa merokok dengan pintu gerbong terbuka. Jadi angin malam dapat dengan leluasa menampar-nampar wajahku.
Waktu ransum makan dibagikan, aku pun melahapnya. Karena seharian memang belum tersempat makan. Tapi tentu saja aku tak dapat menyentuh sepotong ayam bakar berbumbu. Duh, aku hanya mencomot telur rebus tanpa rasa! Huek!
Jum’at, 10 Desember 2004
Waktu kereta mampir di Stasiun Tugu Yogyakarta, aku turun. Aku selalu menyempatkan turun kalau kereta berhenti di Yogya. Karena aku tau betul, di Stasiun Tugu kereta diberi kesempatan mengisi air persediaan bagi kamar mandi. Dan sudah barang tentu memakan waktu tak sebentar.
Aku menghirup udara Yogya. Kota dimana dulu aku pernah mengimpikan kuliah di UGM. Yah, saat itu baru lulus SMA (bukan SMU!), pikirku, kuliah di PTN itu segala-galanya. Maka UMPTN pun gagal mengantarkanku menembus UGM. Baru beberapa tahun sesudahnya, aku menginsyafi kebodohanku: ternyata PTN bukan segala-galanya.
Aku berjalan melewati gerbong demi gerbong. Di barisan depan, aku bertemu seorang kawan yang hendak ke Surabaya. Jazzuli namanya. Ia duduk sendiri, karena penumpang di sebelahnya telah lagi turun di Yogya.
“Wah, aku pindah ke sebalahmu saja!” tawarku.
Akhirnya bersama dia, kita pun memboyong barang-barangku untuk pindah ke bangkunya. Nah, kini lebih leluasa… Karana aku bisa meletakkan dus di rak atas. Kita pun berbincang sekedarnya. Tetap saja tak bisa tidur. Halaman “Jiffest” di harian Kompas pun kulalap habis. Kereta mulai membelah kesenyapan dini hari di bumi timur…
Baiklah. Singkat cerita, sampailah aku di stasiun Surabaya Gubeng pagi harinya. Karena tak banyak yang bisa kuceritakan selama perjalanan Yogya-Surabaya. Lebih-lebih hanya berisi kegiatanku bolak-balik antara bangku dan bordes untuk (lagi-lagi!) merokok. Kalau menceritakan apa yang kupikirkan selama perjalanan, rasanya tak begitu perlu bagi orang lain selain aku. Karena kupikir, hal itu merupakan konsumsi pribadi, yang kiranya tak begitu penting untuk dikonsumsi orang lain selain diriku.
Aku berpisah dengan Jazzuli, kawan seperjalanku. Aku malas berbasa-basi dengannya. Jadi aku memilih berpisah di dalam kereta saja. Dia sudah entah mengeloyor kemana. Tapi, brengsek juga kawan-kawan di Surabaya ini. Sudah kukatakan aku duduk di gerbong 2, tapi tak ada yang nongol barang satu pun. Sialan! Jadinya aku menggendong ranselku di punggung, dan menggotong dua buah dus besar berisi 300 eksemplar buku. Sableng! Kepalaku jelas tertimbun dus, tak tampak!
Bersambung ke Pergi Ke Timur (2)

