Prosa Bandung dan Bintang di Surga

Posted by penganyamkata on January 22, 2005 under Kliping | Be the First to Comment

Pikiran Rakyat, Sabtu, 22 Januari 2005

Eriyandi Budiman

PROSA Bandung, saya andaikan sebagai karya-karya prosa yang lahir di Bandung. Baik berupa cerpen dari yang pendek hingga panjang, maupun novel. Sedangkan untuk esai hingga biografi, sementara saya kesampingkan dahulu. Baik lahir dari sastrawan asli Bandung, maupun dari para perantau (utusan daerah) yang umumnya kuliah di beberapa perguruan tinggi di Bandung. Sedangkan dari sisi penerbitan, agak lain, yakni dapat saja terbit di Bandung, atau di kota lain, terutama Jakarta yang merupakan pusat media masa ataupun penerbitan sastra. Sedangkan dari segi bahasa ada dua, yakni Sunda dan Indonesia.

Dalam pandangan selintasan ini, saya sedikit mencatat ada pergerakan prosa yang cukup kuat di Bandung, terutama di era 60-an hingga 80-an, meski puncaknya berkisar di tahun 70-an, saat majalah Aktuil berkibar, juga masih diseganinya media masa Sunda yang peduli sastra, seperti majalah Mangle dan Gondewa.

Tahun 60-an adalah tahun yang subur dengan sastrawan Sunda yang banyak bergerak di kancah prosa, khususnya carpon(cerpen). Nama-nama seperti R. Ading Affandie, Kis W.S., Ahmad Bakrie, Juhana, Yus Rusyana, Karna Yudibrata, Moh. Rustandi Kartakusumah, Memed Sastrahadiprawira, Ki Umbara, Samsu, Syarif Amin, Moh. Ambri, Tjaraka, Adang S., Aam Amilia, Ami Raksanagara, Rachmat M. Sas Karana, Sayudi, Tini Kartini, MA Salmun, Wahyu Wibisana, Abdullah Mustappa, dan lain-lain yang produktif dalam menghasilkan karya-karya prosa berbahasa Sunda. Nama-nama itu akan bertambah jika ditambah dengan penyair atau yang khusus bergerak dalam menciptakan puisi Sunda, baik berupa pantun hingga tembang. Di bidang kritik Ajip Rosidi muncul dengan kekuatan lain bersama Duduh Durahman.

Saat itu, juga muncul sastrawan Sunda yang bergerak ke prosa Indonesia, seperti Achdiat Kartamihardja, Utuy Tatang Sontani, termasuk Ajip Rosidi. Di tahun 70-an, prosa Sunda dan Indonesia makin tumbuh di Bandung, dengan munculnya nama-nama seperti Usep Romli H.M., Yoseph Iskandar, Godi Suwarna, Aan Merdeka Permana, Tatang Sumarsono, Taufik Faturohman, Holisoh ME (untuk prosa Sunda). Dalam sastra Indonesia (yang menggunakan bahasa Indonesia), muncul nama-nama seperti Remy Sylado, Saini K.M., Jakob Sumardjo, Beni Setia, Kurnia Effendi, Arie F. Batubara, dan Eddy D. Iskandar yang bergelut dalam dua bahasa (Sunda dan Indonesia) .

Mungkin agak bisa dikatakan, bahwa tahun 70-an hingga 80-an adalah masa keemasan (khususnya) prosa Bandung. Baik berbahasa Sunda maupun Indonesia. Karena, para sastrawan yang muncul di tahun 60-an dan 70-an, terbilang produktif hingga tahun 80-an. Dalam sastra Sunda, nama-nama seperti Aam Amilia, Eddy D. Iskandar, Godi Suwarna, Aan Merdeka Permana, Joseph Iskandar, Holisoh ME, dan Tatang Sumarsono, terbilang para carponis Sunda yang sangat produktif. Sedangkan yang bermain dalam sastra Indonesia tercatat nama-nama yang produktif berkarya prosa yakni Beni Setia, Kurnia Effendi, Arie F. Batubara, Eddy D. Iskandar, Pipiet Senja, Abdullah Harahap, dan Remy Sylado. Genre novel juga mencapai keemasannya dalam periode ini, termasuk yang muncul dari nama besar seperti Ajip Rosidi, dan berpuncak produktivitasnya pada Eddy D. Iskandar dan Abdullah Harahap.

Berbeda dengan karya-karya prosa Sunda (carpon, cartibag, carita nyambung, novel) yang banyak terbit di Bandung (oleh penerbit di Bandung), prosa Indonesia karya sastrawan Bandung lebih banyak diterbitkan di Jakarta, seperti Cypress dan Pustaka Jaya. Ini membuktikan bahwa, sejak awal, banyak penerbit di Bandung enggan menerbitkan karya sastra Indonesia. Hanya penerbit yang peduli pada sastra Sunda yang lebih militan. Mungkin karena penerbit buku-buku Sunda (juga majalah) yang ada di Bandung, umumnya juga sastrawan, atau sangat peduli pada sastra Sunda. Barangkali, itulah sebabnya, banyak sastrawan Bandung yang menulis dalam sastra Indonesia, khususnya prosa, terutama jenis novel, lebih banyak memilih Jakarta sebagai tujuan penerbitannya.

Kondisi ini, terus terjadi. Baik di tahun 90-an hingga 2000-an. Yakni, kepedulian penerbit di Bandung terhadap sastra berbahasa Indonesia sangat kurang. Apalagi di tahun 90-an, yang merupakan masa kurang produktif para cerpenis maupun novelis di Bandung. Kondisi ini berbeda dengan prosa Sunda, yang frekuensinya relatif terjaga. Cerpenis dan novelis Aam Amilia, Holisoh ME, Godi Suwarna, Aan Merdeka Permana, Tatang Sumarsono, Usep Romli, masih terus produktif. Disusul nama-nama yang mulai muncul di tahun 80-an dan produktif di tahun 90-an seperti Budi Rahayu Tamsyah, Hadi AKS, Cecep Burdansyah, serta disusul sastrawan prosa yang baru muncul di era 90-an seperti Darpan Ariawinangun, Dadan Sungkawa, Deden Abdul Aziz, Dadan Sutisna, Nunu Nazaruddin Azhar, Usman Supendi, Dian Hendrayana, Tony lesmana, dan lain-lain. Tahun 1990-hingga 2000-an, muncul kumpulan-kumpulan prosa mereka (umumnya carpon), seperti Oknum (Hadi AKS), Nu Harayang Dihargaan (Darpan Ariawinangun), Pantun Pangrajah (Usman Supendi), Anak Jadah (Cecep Burdandyah), dan Lalakon Bimbang (Dian Hendrayana), dan sebuah novel (novelet) Panganten (Deden Abdul Aziz). Selain itu, muncul pula karya kompilasi sastrawan muda seperti yang terbit dalam kumpulan Campaka Mangkak(Paguyuban Pangarang Sastra Sunda), dan Ti Pupen Tepi Ka Pajaratan Cinta (Mekar Parahyangan dan Girimukti/Kiblat). Tahun 1990-an hingga 2000-an, juga mencatat terbitnya beberapa karya prosa (carpon dan novel) sastrawan Sunda yang masih produktif, seperti Ajalna Sang Bentang Film (Duduh Durahman), Demung Janggala, dan Galuring Gending (Tatang Sumarsono), Kembang-kembang Petingan (Holisoh ME), Lembur Singkur (Abdullah Mustappa),Paguneman Jeung Fir’aon (Usep Romli HM), dan lain-lain.

Para pengarang prosa Sunda di Bandung (umumnya), memang memunyai tradisi bersastra yang relatif terjaga, dan memunyai tradisi penerbitan yang juga terus ada, meski tak sebanyak di tahun-tahun 70-80-an. Meski tak banyak lahir pengarang prosa, sastrawan Sunda juga memunyai regenerasi yang cukup lumayan. Apalagi penghargaan dalam bentuk hadiah sastra, mulai muncul dan tetap ada di tahun 2000-an hingga kini. Begitu pula dengan giatnya kembali Ajip Rosidi lewat penerbitan Girimukti Pasaka lalu Kiblat Buku Utama, yang selain menerbitkan karya-karya sastra baru, juga menerbitkan kembali sastra-sastra Sunda lama.

* * *

BERBEDA dengan prosa berbahasa Sunda, nasib prosa berbahasa Indonesia di Bandung mengalami penurunan, dan miskin regenerasi. Tahun 90-an adalah masa yang kurang produktif. Hanya Beni Setia yang paling produktif di tahun-tahun ini. Apalagi kemudian Beni Setia hengkang ke Madiun, sedangkan Arie F. Batubara dan Kurnia Effendi urban ke Jakarta. Apalagi Remy Silado yang jadi motor sastra Bandung (kontemporer) sudah lebih dahulu juga memilih Jakarta, dan Ajip Rosidi berada saat itu jauh di negeri Honda. Sedangkan Eddy D. Iskandar lebih banyak bergiat dalam jurnalistik dan film/sinetron. Ada nama lain seperti Wilson Nadeak, Prasetyohadi, dan Aliefya M. Santri, namun juga kurang produktif.

Dalam sastra Indonesia di Bandung, khususnya prosa, muncul juga nama-nama baru di tahun 90-an, seperti Agus R. Sarjono, Hikmat Gumelar, Mona Sylviana, Yus R. Ismail, Moh. Safari Firdaus, dan Cecep Syamsul Hari. Di tahun 2000-an muncul Pandu A. Hamzah, Nenden Lilis Aisyah, Erwan Juhara, Tetet Cahyati, Suhendra Juhara, Edi Warsidi, Dewi Sartika, Dewi Lestari, Anjar, Sakti Wibowo, Jamal, Daniel Mahendra, Arief Sanjaya, Badui Subhan, dan beberapa cerpenis yang bergabung di Forum Lingkar Pena cabang Bandung.

Tahun 2000-an mencatat tercuatnya kembali prosa Bandung, dengan meledaknya karya novelSupernova-nya Dewi Lestari (2001, disusul novel Akar), dan terpilihnya novel Dadaismekarya Dewi Sartika sebagai pemenang pertama Sayembara Menulis Novel DKJ (2004), serta karya novel Pandu A. Hamzah (di peringkat lima). Di sisi lain, Lousiana-lousiana novel karya Jamal juga mengalami cetak ulang, dan Pipiet Senja sangat produktif menulis dalam prosa Sunda maupun Indonesia. Sedangkan karya-karya lama Abdullah Harahap mulai banyak dibuat sinetron.

Tahun 90-an merupakan awal kebangkitan kembali prosa Bandung, terutama ketika banyak karya (khususnya cerpen) Beni Setia dan Yus R. Ismail, banyak dimuat di media-media nasional, sepertiKompas, Media Indonesia, Republika, Koran Tempo, majalah sastra Horison, dan Matra, serta media nonsastra seperti Nova, Kartini, dan lain-lain. Dan tahun 2000-an makin mengukuhkan banyaknya sastrawan di Bandung yang memilih jalur prosa.

Munculnya kembali prosa Bandung, juga dimeriahkan dengan terbitnya buku-buku, baik novel maupun kumpulan cerpen. Selain karya Dewi Lestari, Dewi Sartika, Jamal, Anjar, Pipiet Senja, Sakti Wibowo, dan Yus R. Ismail, penyair Junirso Ridwan muncul dengan kumpulan cerpenBendera Merah, Soni Farid Maulana dengan karya Di Ranjangmu Aku Tahu Aku Mati, dan Dari Kamar Belakang (Nenden Lilis A), Aku Tahu di Laut Aku Akan Mati (Cecep Syamsul Hari), dan Saini KM. Bahkan beberapa cerpen lama kritikus sastra Jakob Sumardjo juga diterbitkan. Saya juga menyimak ada beberapa sastrawan muda Bandung (yang kuliah/pernah kuliah) di beberapa perguruan tinggi di Bandung, namun jarang menulis di media masa, yang karyanya akan diterbitkan.

Lalu, ada apa denganmu, Prosa Bandung? Angin segar? Mungkin. Toh dari dahulu juga “angin” itu segar bugar. Yang jelas terbaca adalah makin menguatnya beberapa penulis muda di Bandung, untuk bergelut dalam bidang prosa. Baik yang merangkap sebagai penyair, esais, atau apa saja, maupun yang hanya memilih karya prosa jenis cerpen dan novel. Meski karya yang berkualitas hanya satu-dua, namun kesemarakan ini menjadi penting dicatat dan dilanjutkan. Kondisi ini, juga mesti dibina dengan hal-hal di luar teks, seperti harus makin seringnya para penulis prosa ini bertemu untuk bertukar pandang, atau bahkan melakukan suatu gerakan yang menimbulkan citra baiknya prosa Bandung. Para penulis prosa Sunda mungkin lebih tampak akrab, sering bertemu, dan terorganisasi dibanding para penulis prosa Indonesia di Bandung. Keadaan ini, dapat menjadi pelajaran berharga tentunya, khususnya bagi penulis prosa Indonesia yang lebih banyak asyik sendiri. Bagaimana pun, pertemuan atau silaturahmi, biasanya banyak menghasilkan gesekan-gesekan yang indah. Dan pertemuan itu, adalah laiknya kita membuat bintang di surga, atau menghasilkan sesuatu yang baik di tempat yang juga baik.***

Comments are closed.