Di Jakarta

pada sebuah kemacetan kota kita bertemu

memikul buku dan sedikit pelukan kalau perlu

biarkan ada cerita di sana

hingga kita kembali ke ranjang masing-masing

yang selalu pengap dengan kesepian

mengapa kita musti letih memagut jangkar

kalau ternyata kita memang ditakdirkan:

sebagai sekadar si pembuat cerita

di mana kita memainkan lakon di dalamnya

beri kecupan, sedikit pelukan kalau perlu

dan kita kembali membuat cerita lain

untuk sekadar dikenang di kemudian hari

tak lebih!

 

Bandung, 10 Maret 2005, 04.04

This entry was posted in Sajak. Bookmark the permalink.

2 Responses to Di Jakarta

  1. Yoga says:

    Sajak yang cerdas Niel. Excellent, ijin copy paste untuk keperluan non komersial hehehe….

    Yoga, terakhir menulis Barangkali

    DM: Walaaahhh… kamu kok jalan-jalan sampe ke “sajak”, Yug? Ambil lah.

  2. Yoga says:

    Suwun yo Dan

    Yoga, terakhir menulis Seperti Apa Jodoh Anda?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>