<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Prosa Bandung dan Bintang di Surga</title>
	<atom:link href="http://www.penganyamkata.net/2005/04/22/prosa-bandung-dan-bintang-di-surga/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.penganyamkata.net/2005/04/22/prosa-bandung-dan-bintang-di-surga/</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sat, 07 Jan 2012 17:33:41 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
	<item>
		<title>By: mona</title>
		<link>http://www.penganyamkata.net/2005/04/22/prosa-bandung-dan-bintang-di-surga/comment-page-1/#comment-4579</link>
		<dc:creator>mona</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 05 Nov 2008 02:04:43 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://danielcmahendra.wordpress.com/2007/04/30/prosa-bandung-dan-bintang-di-surga/#comment-4579</guid>
		<description>IMPERIUM: POLITIK, RETORIK, KORUPSI

INDONESIA masih jauh dari yang kita cita-citakan. Demokrasi kita belum jalan sebagamana mestinya. Sebagai misal, peraihan jabatan politik yang tampaknya tidak (terlalu) bergantung pada komitmen dan kompetensi, tapi lebih ditentukan aksesibilitas pada elit berwenang dan uang sehingga jabatan politik jadi berharga mahal. Hal tersebut tak mustahil bertaut dengan tetap, atau malah tambah maraknya korupsi. Padahal korupsi bukan saja pencurian kekayaan dan pengkhianatan terhadap negara, dan dengan penipuan. Tapi pun mengakibatkan pemiskinan, kesenjangan dan kecemburuan, susutnya kepercayaan dan kepedulian sosial, kemalasan, merapuhnya solidaritas kewargaan dan terancamnya keutuhan bangsa.

Oleh karena itu, selaiknya jika kita terus mencari inspirasi dan belajar demi menguatnya komitmen dan kompetensi untuk memungkinkan Indonesia bebas dari korupsi, jauh komunikasi politik yang manipulatif, dan makin demokratis. Untuk ini, Imperium bisa menjadi salah satu sumber. Memang Imperium sebuah novel. Tetapi selain berangkat dari realitas, novel pun selalu sang pemungkin terbitnya inspirasi dan gairah belajar. Terlebih novel yang mengais berbagai hal penting dan relevan seperti Imperum yang pula jelas ditulis berdasar riset yang tajam, tekun dan telaten. 

Jadi, berbincang mengenai Imperium secara terbuka bisa jadi membuka kemungkinan-kemungkinan baru bagi berlanjutnya usaha-usaha membawa Indonesia ke arah yang kita cita-citakan bersama. Maka berangkat dari novel Robert Harris (Imperium), kami—Institut Nalar Jatinangor bekerja sama dengan Jurusan Manajemen Komunikasi Fikom Unpad, Gramedia Pustaka Utama, dan H.U. Kompas Jabar—berencana mengadakan DISKUSI TERBATAS “IMPERIUM: POLITIK, RETORIK, KORUPSI”. Pembicara diskusi yang berlangsung pada Senin (17/11/08), pk. 13.00-16.00, di Grha Kompas Gramedia, Jl. LREE Martadinata 46 Bandung, itu adalah: F. BUDI HARDIMAN (STF Dryarkara), JALALUDIN RAHMAT (Fikom Unpad), &amp; SURYOHADI DJULIANTO (Penasehat KPK).

Peserta diskusi dibatasi 150 orang (membayar Rp 50.000,- termasuk novel Imperium, sertifikat, kudapan, koran Kompas). Bagi yang berminat, untuk informasi &amp; pendaftaran dapat menghubungi INJ (085220144691 atau 022 76172661 atau institutnalarjatinangor@yahoo.com)**

monas last blog post..&lt;a href=&quot;http://monasylviana.wordpress.com/2008/09/22/wawancara/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;Wawancara&lt;/a&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>IMPERIUM: POLITIK, RETORIK, KORUPSI</p>
<p>INDONESIA masih jauh dari yang kita cita-citakan. Demokrasi kita belum jalan sebagamana mestinya. Sebagai misal, peraihan jabatan politik yang tampaknya tidak (terlalu) bergantung pada komitmen dan kompetensi, tapi lebih ditentukan aksesibilitas pada elit berwenang dan uang sehingga jabatan politik jadi berharga mahal. Hal tersebut tak mustahil bertaut dengan tetap, atau malah tambah maraknya korupsi. Padahal korupsi bukan saja pencurian kekayaan dan pengkhianatan terhadap negara, dan dengan penipuan. Tapi pun mengakibatkan pemiskinan, kesenjangan dan kecemburuan, susutnya kepercayaan dan kepedulian sosial, kemalasan, merapuhnya solidaritas kewargaan dan terancamnya keutuhan bangsa.</p>
<p>Oleh karena itu, selaiknya jika kita terus mencari inspirasi dan belajar demi menguatnya komitmen dan kompetensi untuk memungkinkan Indonesia bebas dari korupsi, jauh komunikasi politik yang manipulatif, dan makin demokratis. Untuk ini, Imperium bisa menjadi salah satu sumber. Memang Imperium sebuah novel. Tetapi selain berangkat dari realitas, novel pun selalu sang pemungkin terbitnya inspirasi dan gairah belajar. Terlebih novel yang mengais berbagai hal penting dan relevan seperti Imperum yang pula jelas ditulis berdasar riset yang tajam, tekun dan telaten. </p>
<p>Jadi, berbincang mengenai Imperium secara terbuka bisa jadi membuka kemungkinan-kemungkinan baru bagi berlanjutnya usaha-usaha membawa Indonesia ke arah yang kita cita-citakan bersama. Maka berangkat dari novel Robert Harris (Imperium), kami—Institut Nalar Jatinangor bekerja sama dengan Jurusan Manajemen Komunikasi Fikom Unpad, Gramedia Pustaka Utama, dan H.U. Kompas Jabar—berencana mengadakan DISKUSI TERBATAS “IMPERIUM: POLITIK, RETORIK, KORUPSI”. Pembicara diskusi yang berlangsung pada Senin (17/11/08), pk. 13.00-16.00, di Grha Kompas Gramedia, Jl. LREE Martadinata 46 Bandung, itu adalah: F. BUDI HARDIMAN (STF Dryarkara), JALALUDIN RAHMAT (Fikom Unpad), &amp; SURYOHADI DJULIANTO (Penasehat KPK).</p>
<p>Peserta diskusi dibatasi 150 orang (membayar Rp 50.000,- termasuk novel Imperium, sertifikat, kudapan, koran Kompas). Bagi yang berminat, untuk informasi &amp; pendaftaran dapat menghubungi INJ (085220144691 atau 022 76172661 atau <a href="mailto:institutnalarjatinangor@yahoo.com">institutnalarjatinangor@yahoo.com</a>)**</p>
<p>monas last blog post..<a href="http://monasylviana.wordpress.com/2008/09/22/wawancara/" rel="nofollow">Wawancara</a></p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

