Rumah Malka Gelar “Nostalgia Bersama Si Roy”
Suara Merdeka Cyber News, Minggu 08 Mei 2005, 11.34 WIB
Bandung, CyberNews.
Masih ingat novel petualangan Balada Si Roy? Novel karya Gola Gong ini pernah sangat popules pada akhir 1980-an. Untuk mengenalkannya kembali, Rumah Malka, Bandung akan menggelar acara bertajuk “Nostalgia Bersama Si Roy, Re-Launching Novel Balada Si Roy serta Karakter Penulisan Gola Gong Masa Kini Bersama Gola Gong.”
Acara hasil kerja sama Rumah Malka dan Toko Buku Sastra Jalan PHH Mustopa ini tidak hanya berisi Re-Launching Novel ‘Balada Si Roy’, namun juga diskusi langsung dengan sang penulis Gola Gong sehingga akan diketahui bagaimana karakter penulisan Gola Gong masa kini. Acara ini akan diselenggarakan Minggu, 29 Mei 2005 pukul 14.00 WIB.
Disebutkan, acara yang didukung penuh oleh Penerbit Beranda Hikmah ini terbuka untuk umum. “Novel Balada Si Roy sangat ringan karena memang diperuntukan bagi remaja. Gola Gong tidak terlalu banyak memakai unsur-unsur metafor, malah sebaliknya, ia memakai gaya tutur khas remaja,” ujar Firman Venayaksa, mahasiswa S2 UI Depok, dan Vocalis Hajjar Aswad.
“Tulisan yang sangat realis ini justru menjadikan novel ini bisa diterima di kalangan remaja. Roy adalah simbol, mewakili generasi yang ingin terbebaskan dari unsur-unsur yang membelenggu jiwa remaja,” tambah PJ Program Rumah Dunia tersebut.
“Secara keseluruhan Balada Si Roy tidak menunjukan minat yang terlalu spesifik pada kultur kota. Ia lebih menjelajahi wilayah-wilayah sosial kemanusiaan. Ia bolak-balik antara fenomena sosial dan ruang pribadi. Ruang pribadi adalah tempat Aku menimbang, mengambil keputusan, merasa bertanggung jawab, ragu, menyesal, marah, sedih, terharu, jatuh cinta dan bahagia. Aku menampilkan dimensi rampaknya melalui perjalanan. Rumah, kota tempat tinggalnya, semua perempuan, bahkan cinta ibu yang menyamankan, adalah ruang yang terlalu sesak untuk kepenuhan Aku yang muda dan bergejolak,” kata Heru Hikayat, Perupa, dan simpatisan Rumah Dunia.
“Roy adalah proses mengalami kehidupan di banyak kota, desa, gunung, hutan, pantai, kampus, pesantren, dan jalanan,” kata alumni FSRD ITB Bandung ini.
Untuk diketahui, Goal Gong yang lahir di Purwakarta,15 Agustus 1963 pernah kuliah di FASA UNPAD Bandung. Setelah diterbitkannya seri petualangan Balada si Roy pada tahun 1989, ia menjadi wartawan tabloid Warta Pramuka (1990-1995) dan tabloid Karina (1994-1995). Ia juga sempat menjadi reporter freelance di beberapa media massa.
Ia lalu terjun ke dunia televisi menjadi penulis skenario, di antaranya komedi situasi Keluarga Van Danoe di RCTI (1993) dan Pondok Indah II di Anteve. Pada tahun 1995 Gola Gong bergabung dengan INDOSIAR dan terlibat dalam produksi kuis Terserah Anda dan sinetron Remaja 5. Tahun 1996 ia hengkang ke RCTI dan menggarap opera sabun Dua Sisi Mata Uang, (Agustus 2000), komedi situasi Ikhlas (Ramadhan 1997), Papa (Lebaran 2000), komedi superhero Sang Prabu (1999), mega sinetron Tauke Tembakau (tayang 2001), drama misteri Maharani , Pe-De dot kom, dan program spesial Tanah Air.
Beberapa novelnya seperti Petualangan si Roy, Mata Elang, sampai Aku Seorang Kapiten sedang disinetronkan PT Indika Entertainment. Sinetron yang diangkat dari novel trilogi Islaminya (Pada-Mu Aku Bersimpuh) ditayangkan pada bulan Ramadhan 2001 di RCTI, serta Al Bahri Aku Datang dari Lautan di TV7.
Selain menulis novel, puisi-puisinya pernah dimuat di HAI, Republika, Suara Muhammadiyah, tabloid Hikmah, Mitra Desa Bandung, dan Harian Banten. Antologi puisinya bersama Toto ST Radik terkumpul dalam Jejak Tiga, Ode Kampung,dan Bebegig, serta tergabung dalam Antologi Puisi Indonesia 1997 versi Komunitas Sastra Indonesia. Untuk mengantisipasi Banten jadi provinsi, Gola Gong menjadi pemimpin redaksi tabloid Meridian (Bacaan Anak Muda Banten) hingga kini. ( habieb sl/Cn08 )


Ingin tahu, apakah di era cyber Balada si Roy masih bisa mewakili generasi ini, seberapa besar gap budaya jaman Gola Gong menulis BSR dan masa kini. Tak rela kalau BSR hanya jadi monumen romantisme masa tertentu. Bagaimana Dan?
Yoga, terakhir menulis Tembok Penghalang