Cerpen Daniel Mahendra dan Rella Mart

“Boleh aku menciummu?”

“Bukankah itu sering?”

“Bukan di pipi atau kening seperti biasanya.”

“Lalu?”

“Aku ingin mengecup bibirmu!”

“Mengapa harus di bibir?”

“Mengapa? Karena aku ingin mengecupmu saja, di bibir.”

“Jadi hanya ingin?”

“Emh, ya, hanya ingin. Mungkin kamu sangat tau kalau aku sayang kamu. Tapi, barangkali akan menjadi bullshit kalau kukatakan aku ingin mengecup bibirmu karena sayang kamu,”

“Ya-ya-ya, jelas aku sangat tau, dan tidak perlu dipertanyakan lagi untuk waktu selama tigabelas tahun dan dengan segala peristiwa yang terjadi. Hubungan kita telah teruji untuk menyimpulkan kita memang saling menyayangi. Tapi untuk mengecup bibir…”

“Kenapa?”

“Jika kemudian satu kecupan itu memporakporandakan bangunan yang telah tigabelas tahun itu, kamu siap?”

“Uh! Sulit menjawabnya. Jelas aku tak ingin bangunan itu rusak. Kamu marah mendengar aku ingin mengecup bibirmu?”

“Sama sekali tidak. Rasanya aku kehilangan rasa marah atasmu.”

“Paling tidak pandanganmu menjadi sedikit berubah akan aku?”

“Merubah yang tigabelas tahun hanya karena permintaan mengecup bibir? Tidak mungkin! Bahkan hal itu tak merubah sama sekali perasaan sayangku atas kamu. Tetap!”

“Hmmm… harusnya tak kukatakan tadi. Maaf ya, aku memang lancang berkata seperti itu.”

“Aku sangat menghargai kejujuran. Aku senang kamu mengatakannya. Aku bisa memahamimu.”

“Salahkah seorang sahabat mengecup bibir sahabatnya?”

“Tapi sebelumnya aku hanya mengecup bibir seseorang yang dinamakan kekasih, bukan sahabat.”

“Aku paham, dan aku coba menghormati itu. Tapi, apakah sepasang sahabat juga tidur berdua sembari saling berpelukan seperti sekarang ini? Juga seperti yang selama ini kita lakukan?”

“Hanya tidur dan berpelukan. Emh… Yang kurasakan seperti Teletubies, kita berpelukan dengan rasa sayang. Dua anak kecil yang tidak berprasangka apapun, hanya rasa nyaman, sayang. Tapi untuk mengecup bibir… aku seperti anak kecil yang tiba-tiba terlempar ke dunia orang dewasa.”

“Lalu apa bedanya dengan mengecup bibir? Toh hanya mengecup. Lagi pula hal itu tak mungkin kulakukan pada sembarang perempuan tanpa adanya perasaan apapun,”

“Bisakah kau bantu menjawab pertanyaanku: bagaimana jika puluhan lelaki yang selama ini menjadi sahabatku, yang juga punya rasa sayang, ingin mengecup bibirku dengan ijin terlebih dahulu, apakah aku harus mau?”

“Maaf, tapi apa berarti aku tak ada bedanya dengan mereka? Mengecup keningmu, tidur berpelukan seperti ini? Dan masa persahabatan kita selama tigabelas tahun ini?”

“Semuanya berbeda. Tidak ada yang tigabelas tahun, tidak ada yang tidur dan berpelukan seperti ini, bahkan sedekat, sedalam dan sememahami seperti kita. Hubungan kita seperti sajak Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni yang tampak sangat absurd itu. Jika mengecup bibir, apakah ada nama untuk yang lebih absurd dari itu?”

“Sajaknya sendiri mungkin tidak absurd. Barangkali judulnya kukira. Tapi, bukankah di dunia ini memang penuh dengan sesuatu yang absurd?”

“Mungkin.”

“Aku memang menyukaimu, bahkan begitu menyayangimu. Aku bangga akan kamu. Juga dengan hubungan persahabatan kita yang tigabelas tahun ini. Tapi sulit membayangkan jika kita musti memuarakan hubungan persahabatan ini pada sebuah percintaan yang bertele-tele seperti kebanyakan orang.”

“Ya-ya-ya, itu juga aku tau. Juga berbagai macam ketakutan jika kita akan berubah, karena hubungan persahabatan semacam ini sudah luar biasa menyenangkan. Aku tidak ingin ada yang berubah dari masa tigabelas tahun ini. Juga sesuatu menjadi berubah hanya karena mengecup bibir.”

“Tau kah kamu, terkadang aku khawatir jika membayangkan masing-masing dari kita menikah nanti. Bagaimana rupa persahabatan kita. Akankah masih sedekat ini? Kini umurmu telah lagi duapuluh sembilan. Aku sendiri menjelang tigapuluh. Dan dunia terus berjalan. Kita sendiri ikut berputar di dalamnya. Realitas dan impian saling berebut tempat. Yang kutau, kamu perempuan yang begitu bisa memahami aku. Tapi kamu sahabatku.”

“Sahabat yang telah tigabelas tahun begitu dekatnya. Ya, sahabat. Kelak atau mungkin tak lama lagi kau menikah, aku juga, walau entah dengan siapa nantinya. Kira-kira kamu dulu atau aku dulu ya? Jika kamu dulu, aku harus bagaimana? Jika aku dulu, kamu bagaimana ya… Ah, mungkin sebaiknya kamu dulu. Kepala tiga dulu kan…

Oh, tidak-tidak-tidak. Siapapun yang duluan menikah, maukah kamu berjanji untuk tidak berubah? Jadi kesimpulannya, kita harus mencari pasangan yang paham akan hubungan kita…”

“Seseorang yang paham dengan hubungan kita? Bagaimana mungkin? Suamimu atau istriku membiarkan kita tetap tidur sembari berpelukan seperti ini? Gila!”

“Hahaha! Tentu saja tidak begitu…”

“Boleh aku tanya sesuatu?”

“Apa itu?”

“Pernahkah terbersit dalam pikiranmu, hubungan persahabatan ini berangsur menjelma menjadi sejoli kekasih seperti kebanyakan orang?”

“Sebersit pernah, justru pada awal kita kenal. Tapi setelah tigabelas tahun ini, aku tak ingin beranjak sedikitpun dari persahabatan yang luar biasa indah ini. Dan sepertinya untuk tidur sambil berpelukan hanya bisa kita lakukan sebelum ada suamiku atau istrimu.”

“Pada awal kita kenal? Ya aku ingat. Hei… ingatkah kamu bagaimana saat kita kenal pertama kali dulu?”

“Kurasa aku lebih ingat daripada kamu! Komunikasi awal kita menggunakan jari. Kamu di parkiran motor SMA, dan aku di halte bis. Bercerita tentang pertemuan kita di Gumuk Kerang. Aku ingin memberikan foto temanmu dan kamu mencoba memahami dengan wajah culunmu. Hmm… itu tigabelas tahun yang lalu. Tigabelas tahun sejak awal aku telah melihat duniamu walau samar. Dunia dengan atmosfir yang sama denganku.”

“Sama denganmu? Maksudmu?”

“Dunia kesendirianmu yang kadang-kadang tampak gelap. Caramu memandang seseorang yang seolah selalu ingin merogoh isi jiwanya… Aku melihat diriku ada padamu.”

“Ya, setelah bertahun lamanya aku tak pernah tau kalau kau pernah manaruh rasa padaku. Aku sendiri melihatmu sebagai individu yang menarik. Sosok yang menyenangkan. Lain dari yang lain.”

“Ya. Itu mengapa aku tak pernah menunjukkan rasa sukaku kepadamu.”

“Sejak itu kita mulai dekat, saling telpon dan aku kerap main ke rumahmu. Aku selalu terharu jika mengingatnya. Di ruang tamu aku kerap mengiringimu menyanyi dengan gitar. Suaramu maut!”

“Hei, kau pun pernah mengiringiku dengan gitar saat aku menyanyi di acara sekolah.”

“Oh ya?”

“Kau tak mengingatnya?”

“Aku lupa.”

“Kau memang pelupa!”

“Kau pernah mematikan lampu ruang tamu saat aku bertandang ke rumahmu. Kupikir, sedang gila rupanya kamu. Aku datang kok malah diajak ngobrol bergelap-gelap.”

“Hahaha!! Kamu masih mengingatnya?”

“Ya. Melihat itu, tiba-tiba almarhum ibumu menghidupkan lampu ruang tamu sambil berkata, ‘Habis tante marahin dia, Dan. Malu kalau keliatan nangis. Makanya lampu ruang tamu dimatikan’, ujar ibumu tertawa-tawa.”

“Uh, sudah! Jangan kau lanjutkan cerita itu.”

“Hahaha!! Sudah sejak saat itu aku bisa merasakan, berhubungan denganmu begitu tulus. Tanpa pamrih. Tidak disertai dengan berbagai keinginan. Itu juga mengapa kamu lebih mengikhlaskan sahabatmu untuk pacaran denganku ya? Hahaha! Padahal kamu suka aku ‘kan? Tapi hubungan kita saat itu tak berubah. Sama sekali tak berubah. Meski pada akhirnya aku pacaran dengan sahabat baikmu itu, walau akhirnya putus.”

“Siapa bilang aku ikhlas?”

“Ha? Jadi, maksudmu?”

“Saat itu hawa kekecewaan cukup pekat… Hahaha! Tidak-tidak… Aku sendiri masih takut soal cinta saat itu. Bukankah dulu aku berpikir hanya ingin sekali saja pacaran, itu pun dengan suamiku. Sekarang barangkali hal itu hanya ada di dongeng Neverland. Aku tahu energi itu lebih menarik jika dibawa ke arah persahabatan seperti saat ini. Aku jadi ingat halaman sekolah kita, saat kita aktif di teater, OSIS, juga Merpati Putih. Ah… Kau jangan pernah pergi ya…”

“Hmmm… Bertahun lamanya aku baru menyadari, ternyata banyak hal yang mempertautkan kita. Entah itu teater, OSIS, Merpati Putih, dunia penulisan, bahkan jurusan kuliah jurnalistik kita pun sama. Kamu di Surabaya dan aku di Bandung. Sejak itu kita saling berkirim surat. Sudah ratusan suratmu di lemariku.”

“Kamu ingat, pada salah satu surat kita di awal kuliah? Kita pernah berjanji bahwa suatu hari kelak kita akan perang tinta?”

“Perang tinta?”

“Ya, perang karya dalam berimajinasi. Mengirimkan buku karyaku padamu adalah obsesi terbesarku saat itu.”

“Dan kini semua itu telah berangsur menjadi kenyataan. Masih ingat saat kita ke Toko Buku Toga Mas Surabaya? Membanggakan sekali saat mendapati buku kita bersanding di display sebuah toko buku. Bersanding! Betul-betul bersanding! Bukan kita yang menyandingkannya.”

“Lalu kita sibuk memotret display itu dari banyak sisi, memandang sambil tertawa-tawa!”

“Buku dengan nama kita tertulis di sana. Juga saat kita pada akhirnya bersanding sepanggung menjadi pembicara. Uh!”

“Kita memulai dari belajar menulis bersama hingga bicara serius soal sastra. Rasanya baru kemarin kita kenal.”

“Jadi, apakah kita musti tetap bersahabat?”

“Ya, apakah kau ingin yang lain?”

“Seperti apa misalnya? Yang kukhawatirkan justru jika kita memuarakan hubungan persahabatan ini pada sebuah percintaan yang banyak diagung-agungkan orang, aku takut kehilangan apa yang telah kita bangun selama ini. Terlebih aku takut kehilangan kamu!”

“Ya, jika begini saja sudah begitu menyenangkan, aku pun tak ingin bentuk lain yang justru malah merusak.”

“Kau tetap menyayangiku?”

“Tak berubah sedikit pun!”

“Tetap mau mendengar keluh-kesahku?”

“Tak perlu kau tanya lagi!”

“Tetap mengangkatku saat aku jatuh?”

“Sudah barang tentu!”

“Tetap mencariku saat aku sedang hilang pegangan?”

“Itulah guna kita bersahabat!”

“Tetap menerangiku saat-saat kegelapan, ketakutan, kebingungan?”

“Setiap saat!”

“Jadi, boleh aku mengecup bibirmu?”

“Tapi…”

* * *

Bandung, 10 Juli 2005

Minggu, 11.49 wib