Pisang Goreng Pagi Hari

Aku terbangun sekitar pukul 05.30 wib. Tapi rasanya mataku masih diganduli batu sebesar gunung. Aku masih lagi tergeletak di tempat tidur. Terang sudah mulai mengetuk pintu. Tapi aku betul-betul turun dari tempat tidur pukul 07.30. Keluar kamar langsung masuk kamar mandi. Ternyata masih malas mandi.

Turun dari lantai 5, di ruang tamu kulihat Pak Pram sedang membaca koran: Kompas dan Jakarta Post. Kuucapkan selamat pagi. Ia tersenyum.

“Dingin di atas?”

“Tidak. Biasa saja. Seperti di Bandung saja.”

“Sarapan sana!” lagi-lagi makan yang ditawarkan.Pak Pram memang paling gemar menyuruh orang makan. Kalo datang siang disuruhnya makan. Datang malam juga disuruh makan. Pagi turun dari tidur lagi-lagi yang pertama diucapkan makan. Padahal dia orang yang paling malas makan. Paling banter makan cuma pagi hari dia. Siang sampai malam cuma rokok-rokok-dan rokok belaka dia.

Kulongok dapur, tak ada siapa-siapa. Kutinggalkan Pak Pram di ruang tamu. Aku menuju teras. Di pintu gerbang depan kulihat Mbak Titi dan Ibu Mae sedang belanja sayur. Belum ada yang mandi. Kuputuskan jalan-jalan di sekitar halaman saja. Menikmati udara pagi Bojonggede.

Mengitari halaman, aku turun tangga ke bagian bawah rumah, dimana terdapat kandang angsa, kolam ikan dan kolam renang. Aku duduk di pinggir kolam ikan. Ada Gurame, Mujair, Mas, dicampur jadi satu. Rombongan katak tidur di atas batang akar yang mengapung di atas air. Indahnya sajak pagi ini.

Di kejauhan kulihat Mbak Rina (Arina Ananta Toer) berjalan menuju gerbang ladang. Masuk ke kandang ayam, yang luasnya lebih luas dari ruang tamu rumah depan. Kususul dia. Masuk kandang ayam. Obrol-obrol soal ayam sembari memberi pakan ayam. Keluar kandang aku diajak ke ladang di belakang rumah. Luas sekali ladang ini. Kalau untuk camping ratusan orang kurasa cukup. Kalau mau bikin pasar malam pun bisa. Tapi ladang ini kan “bukan pasar malam”. Haha!

Di sana kulihat tempat Pak Pram biasa membakar sampah. Ya, hanya membakar sampah belaka yang sekarang mampu Pak Pram lakukan. Kerja fisik seperti mencangkul atau memangkas pohon sudah tidak lagi dapat ia lakukan. Ya, jadi jangan lagi membayangkan ladang di Bojonggede masih dirawat oleh Pak Pram. Kemerosotan fisik telah merengggut kekuatan tubuhnya. Tapi, jangan sekali-kali mengatakan di kupingnya kalau ia sudah tua. Bisa tak terima dia. Hahaha! Ia memang selalu sok merasa muda terus.

Beberapa saat kebelakang Ibu Mae atau anggota keluarga lain suka jengkel dengan ulah Pak Pram karena suka menebang pohon tanpa kejelasan maksud. Kadang rumpunan pohon pisang sudah tumbang ditebangi. Atau mengga dipangkasi. Setelah itu, ya sudah. Pohon-pohon itu hanya jadi korban penebangan saja. “Papi tu’ suka nebang-nebang kagak jelas gitu. Pada abis tu’ po’on!” seru Ibu Mae suatu kali dalam logat Betawi yang kental.

Pak Pram bangun cukup pagi. Sekitar jam 04.30 atau 05.00 ia sudah turun tempat tidur. Menyeruput kopi lalu menyulut rokok. Setelah itu sarapan. Setelah sarapan, ia mulai membacai koran-koran hari itu. Setelah ia baca, ia tandai, baru kerja kliping dari koran yang telah ia baca.

Dari Ladang aku masuk dapur. Menyeruput kopi yang telah dibikinkan Ibu Mae. Tak tau apa yang musti kukerjakan, aku berjalan ke ruang tamu. Menemani Pak Pram kerja kliping.

Dari caranya bekerja aku salut bukan main. Banyak kawan-kawan ya mengatakan aku sangat keterlaluan dalam menyimpan dokumentasi. Majalah baru tak kan kubiarkan kubaca tanpa alas di meja. Musti dilapisi dulu agar cover majalah tak kotor atau terlipat. Buku pun musti laksana baru terus-menerus. Untuk hal-hal seperti itu aku memang berlebihan dan tak bisa ditawar-tawar (termasuk jadi menjengkelkan orang-orang yang membaca dengan semangat normal). Tapi melihat cara kerja Pak Pram, kurasa aku tak ada apa-apanya.

Kerja Pak Pram cukup rapi. Sangat rapi. Rapi sekali. Ia menandai berita yang musti ia gunting dengan pulpen. Setelah itu ia mulai mengguntingi. Cara kerjanya, karena faktor usia, sangat lamban. Tapi begitu rapi. Sangat rapi. Setelah diguntingi, ia lipat dengan alas yang sudah terformat ukurannya. Sisi berita yang telah ia gunting, ia lem dengan lipatan kertas putih. Sehingga semua ukuran kliping berukuran sama persis. Baru setelah itu ia tumpuk. Setelah ditumpuk, ia gelangkan dengan kertas menyimpul. Jadinya, kliping koran hari itu tampak rapi, bersih, dan terjaga.

Aku membantu mengumpulkan kliping-kliping koran yang telah lagi ia guntingi. Atau lebih tepatnya membacai: gerangan berita apa saja yang ia kumpulkan. Kadang aku bertanya, kenapa ini diambil, atau kenapa berita itu tak diambil. “Ya tinggal begini ini kerja saya setiap hari.” Cukup lama aku menemaninya kerja kliping di ruang tamu. Sembari merokok? Tentu saja! Kami berlomba-lomba dalam hitungan batang. Pada hitungan kesekian, ia hendak mencomot bungkus rokoknya, ternyata habis. Matanya jelalatan, hendak mengambil bungkus rokokku yang masih setengah isi di ujung meja. Aku ngakak saja. Dan pisang goreng hasil ladang pun jadi sarapan pagi ini.

Usai kerja kliping, ia membereskan meja. Ini tak kalah menakjubkan. Ia memberesi semua bekas guntingan kecil koran yang tak terpakai dan membuangnya ke dalam asbak. Teliti, rapi, bersih. Nyaris tak ada sisa guntingan koran yang tak terpakai ia biarkan di atas meja. Hal terkecil sekalipun. Cara kerjanya cermat sekaligus mengagumkan. Gunting, cutter, lem, sendok lem, ia susun kembali. Cara kerjanya membuatku iri.

Baru setelah itu aku dan Pak Pram duduk-duduk di teras rumah. Lagi-lagi menyulut rokok. Ngobrol tanpa isi. Sisi, cucu Pak Pram, datang. Ia bekerja di perpustakaan Pak Pram di lantai 3. Rumahnya di Citayam. Hanya beberapa kilo saja dari Bojonggode. Bekerja dari pukul 09.00 pagi hingga 17.00 sore. Ia menaiki teras, mencium pipi Pak Pram, kembali turun ke halaman, masuk dapur, menyapa Ibu Mae, Mbak Titi dan Mbak Rina, lalu naik ke atas.

Bosan ngobrol di teras, aku menyusul Sisi ke perpustakaan. Ia senang aku datang. Mimiknya berbeda saat melihatku di teras ketika ada Opanya, dibanding ketika melihatku di perpustakaan atas. Ketika di depan Opanya tampak betapa ia menjaga sikap. Begitu melihatku di perpustakaan, kelakuan aslinya kumat: centil! Hahaha!

Pagi itu kuhabiskan waktu cukup lama di perpustakaan. Diselingi obrolan dengan Sisi, aku “mengobrak-abrik” perpustakaan Pak Pram. Apa saja kubacai. Kulongoki. Sisi bekerja mendata dokumentasi kliping Pak Pram yang segunung itu di meja tengah. Aku berputar-putar dari rak ke rak.

Kutemukan sebuah naskah berjilid. Dulu aku pernah melihat naskah itu di sini. Tapi malas kulongok. Kali ini kuambil naskah berjilid bungkus hijau itu. Di depannya tertulis “Saman”, tanpa ada nama penulisnya. Tentu kawan-kawan tau naskah siapa itu. Di halaman pertama dan kedua tampak beberapa coretan serta koreksi tulisan Pram dengan pulpen tinta merah. Ia membetulkan letak koma, mencoret beberapa kata, membubuhkan tanda tanya, dll. Aku tersenyum saja melihat naskah terkoreksi itu. Toh naskah itu kini telah terbit dan dicetak berulang-ulang kali. Best seller!

Tiba-tiba Pak Pram masuk ke ruang perpustakaan sembari menyeret sendal kulit. Melihatku ia mengulum senyum. Kelakuannya bikin aku ingin tertawa. Persis anak kecil hendak naik ranjang. Tanpa mengucapkan apa-apa ia masuk kamar, yang letaknya persis di sebelah perpustakaan. Tidur dia!

Dari lantai 3 kulihat sebuah mobil memasuki halaman. Suara musik berdentum-dentum keras dari dalam. “Om Yudhi datang,” seru Sisi. Rupanya Mas Yudhi (Yudhistira Ananta Toer), anak bungsu Pak Pram, datang dari Jakarta. Aku kembali tenggelam di perpustakaan. Sisi turun ke bawah. Lalu kembali ke atas membawa sepiring pisang goreng yang langsung kuserbu. Aku kembali tenggelam di perpustakaan. Cukup lama.

Kupikir, kok santai-santai sekali aku hari ini. Aku pun naik ke lantai 5. Mandi. Usai mandi aku mengemasi ranselku. Aku harus pulang. Pulang adalah yang terbaik. Aku termasuk orang yang merasa “berdosa” jika mendapati diri tak mengerjakan apa-apa. Tiba-tiba aku rindu Bandung. Pekerjaan di Bandung menungguku. Aku turun. Di lantai 3 aku berpamitan pada si centil Sisi.

Hari sudah siang. Di ruang tamu kulihat Ibu Mae, Mbak Titi dan Mbak Rina sedang tenggelam dalam tayangan tv. Tak kulihat Mas Yudhi. Aku berjalan ke teras. Matahari sedang menyiram rumah besar ini dengan teduhnya.

Tak berapa lama Pak Pram turun. Ngeloyor ke dapur. Ibu Mae berdiri, beranjak dari ruang tamu. “Sana makan sama Pak Pram!” suruhnya. Aku bersorak girang.

Pak Pram sudah menekuri meja makan. Ibu Mae mengambilkan aku nasi dari ricecoocer. Kemudian menyodorkan gelas tinggi besar pada Pak Pram. Dan gelas ukuran sedang padaku. Dan berdua aku pun makan siang bersama Pak Pram. “Wah, hari ini banyak lalapnya!” serunya girang. Yang dimaksud lalap bukanlah lalap dalam pengertian sambal dan lalapan. Melainkan sayur!

Setiap dari suapnya ia selalu menggigit bawah putih. Sambil makan ia bercerita soal khasiat bawah putih yang dapat menyembukan luka. Maklum, penyakit gula Pak Pram di atas 600.

Di meja makan rumah sendiri, cara makan Pak Pram cukup rapi. Rapi sekali. Ia menyendok setiap suapnya dengan sangat teliti. Baru setelah itu sendok ia lolohkan pada mulutnya. Begitu rapi. Tak ada yang tertumpah.

Usai makan ia menggasak jeruk. Ia menyodorkan jeruk padaku. Karena berkali-kali menyodorkan jeruk, jadinya aku pun menggasak jeruk, meski sedang tak ingin-ingin amat.

Kuputuskan pulang siang ini. Namun ternyata rencana tinggal jadi rencana. Nyatanya aku harus menunda kepulanganku hingga sore hari. Apa yang terjadi?

Malka, Bandung, 17 September 2005, Sabtu, 03.00 wib