Bumi Manusia, Akhirnya!

Akhirnya, Bumi Manusia cetakan tahun 2005 kelar!

Pagi itu (Selasa, 3 Oktober 2005) Mas Yudhi (Yudhistira A Toer) datang ke Bandung.

“Aku bawa Bumi Manusia!” katanya di telpon.

Wow! Aku bersorak girang.

Ada adik ipar Mas Yudhi yang dirawat di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. Aku meluncur ke sana. Ia keluarkan dua pucuk Bumi Manusia. Satu untukku. Satu lagi untuk Nadia. Karena perkunjungan besuk, jelas Mas Yudhi tak bisa mampir ke Malka.

Akhirnya cetak ulang seri pertama Tetralogi muncul! 

 

Bukan apa-apa. Waiting-list di Toko Buku Malka Bandung atas buku Bumi Manusia begitu panjang. Dalam bulan-bulan terakhir orang telpon tiada putus-putusnya demi menanyakan datangnya Bumi Manusia. Akhirnya kelar juga.

“Baru kemarin selesai. Malah oleh percetakan baru dikirim duaratus eksemplar.”

Wow! Berarti masih fresh from the oven! Dan aku beruntung sekali mendapati oleh-oleh pagi itu. Meski hanya dua pucuk. Gratisan pula. Hehehe!

Terakhir ke percetakan di Bogor baru cover yang kelar dicetak. Tapi belum diembos. Kini buku sedang kutimang-timang.

“Paling besok buat display acara peluncuran Jalan Raya Pos di CCF sebagian. Sebagian bisa dibawa ke Bandung untuk Malka.” ujar Mas Yudhi. (Peluncuran buku Jalan Raya Pos, Jalan Daendels, CCF Salemba Jakarta, 16.00 wib).

Wah… bisa-bisa Malka merupakan toko buku pertama yang memajang Bumi Manusia. Bagaimana tidak, 200 eksemplar yang baru dikirim percetakan, jelas tidak mungkin langsung berani didistribusikan.

“Jalan Raya Pos sendiri baru kelar hari ini,” tambah Mas Yudhi. “Besok sekalian bawa saja ke Bandung.”

“Dipasang harga berapa?” selaku.

“Bumi Manusia delapan puluh ribu. Kemahalan nggak?”

Aku hanya senyum-senyum. Sebagai pedagang buku dimana mahasiswa merupakan pasar terbesarnya, harga buku setebal 538 halaman, rasanya memang akan memberatkan mereka. Tapi soal harga jual, sudah barang tentu aku tak akan ikut-ikut. Tapi satu hal pasti: dari harga jual yang dipatok, harga di Malka jelas akan menjadi lebih murah dibanding harga normal. Hehehe!

Jika dibanding buku Menggelinding 1 yang memiliki tebal 548 halaman, Bumi Manusia yang 538 halaman malah jauh lebih tipis beberapa centimeter. Setelah kuperhatikan, penggunaan kertas memang berbeda. Fisik kertas Menggelinding 1 HVS putih bersih. Sementara Bumi Manusia sedikit kekuning-kuningan. Jika melihat ukuran gram kertas, rasanya sama saja. Namun tetap saja Bumi Manusia jauh lebih tipis dibanding Menggelinding 1 yang dipasang harga 72 ribu perak (di Toko Buku Malka hanya 64.800 perak).

Karena kesibukan belaka, aku tak sempat men-scan cover buku tersebut untuk ditengok kawan-kawan di milis. Beribu maaf.

Nah, Insya Allah pada hari Kamis 6 Oktober 2005, Bumi Manusia dan Jalan Raya Pos, Jalan Daendels akan terpajang dengan manisnya di Toko Buku Malka.

Begitulah kiranya.

Sampai bertemu di ibu kota.

 

 

This entry was posted in Catatan Harian, Pramoedya. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>