Sedikit Catatan Peluncuran Buku Tragedi Kemanusiaan 1965-2005
Oleh Daniel Mahendra
Buku Tragedi Kemanusiaan 1965-2005 diluncurkan pada hari Kamis 29 September 2005 pukul 18.00 wib di PDS HB Jassin TIM Jakarta. Hingga pukul 12.00 siang buku baru berangkat dari percetakan untuk dikirim ke Penerbit Malka.
Jangan ditanya bagaimana kebat-kebitnya aku menunggu datangnya buku. Selain kualitas cetakan, jarak berangkat menuju ke TIM menggelontori pikiranku. Dengan tol Cipularang jarak memang semakin singkat. Tapi kuperkirakan akan tiba keluar tol saat jam pulang kantor. Olala, akan betapa macetnya Jakarta.
Mas Pringgo, koordinator panita Jakarta, sudah bolak-balik mengontakku. Ini memang acara bersama. Kerjasama antara Penerbit Malka dan Lembaga Sastra Pembebasan. Undangan sudah disebar, leaflet sudah dibagi-bagikan, dan poster sudah ditempel di mana-mana. Sementara buku hingga sesiang ini belum lagi datang. Stresnya bukan alang kepalang!
Belum lagi jika mengingat pembicara yang akan hadir meliputi Gus Dur, Eep Saefulloh Fatah, Asvi Warman Adam, Ilham Aidit, plus Rieke Dyah Pitaloka, Pramoedya Ananta Toer dan Franky Sahilatua yang akan menyumbang suara malam nanti.
Ternyata dimana-mana macet. Bandung pun tak mau kalah untuk ketularan macet. Mobil percetakan ketiban macet. Pukul 13.30 buku datang. Aku berlari memburu mobil. Kulihat kualitas cetakan, tak begitu mengecewakan. Aku bisa bernafas sedikit lega. Sekarang soal berangkat ke Jakarta.
Tak ambil pusing. Aku pun berangkat. Dengan sekitar 200 lebih buku di bagasi belakang, mobil kupacu penuh. Jarak Malka menuju gerbang tol Pasteur memang cepat dengan melewati Jalan Layang Paspati. Tapi seturun di jalan layang, kemacetan mulai menyemut. Aku mulai mengumpat-umpat dalam hati.
Beberapa meter menuju gerbang tol, ternyata pom bensin di sebelah kiri jalan sudah tidak ada alias tutup. Olala, haruskah aku mengumpat-umpat lagi. Ternyata pom bensin di sebalah kiri jalan sudah berganti dengan bangunan yang sedang dibangun. Aku sudah jarang ke daerah sini. Jadi tidak memperhatikan. Mau tak mau mobil musti kuputar arah, kembali ke jalan samping, menuju pom sebelah. Dan macet belum lagi insaf.
Sampai pom bensin (dengan segala kemacetan yang menyemut!) gerbang pom ditutup. “Bensin habis!” ujar petugas pom. Hah!! Apa-apaan ini?! Mentang-mentang besok tanggal 30, dimana tanggal 1 akan direncanakan kenaikan harga BBM, maka pom bensin kehabisan bensin? Masyallah! Pikiranku dikejar-kejar acara jam tujuh malam. Jam mulai merembet ke arah 14.30 karena macet. Aku makin stres.
Tidak bisa tidak, aku harus berteriak pada petugas pom. “Pertamax!!” teriakku keras. “Oh, pertamax ada.” sambut petugas. Aku pun terhibur. Tapi di dalam masih ada antrian beberapa kendaraan.
Singkat cerita, tanki pun terisi. Mobil kupacu lagi. Memutar balik arah menuju gerbang tol. Dan bercumbu dengan kemacetan yang tiada nikmat sama sekali. Aku di ujung kemacetan (adakah kemacetan berujung?).
Pukul 15.00 aku mulai meluncur di jalan tol. Kecepatannya, aku sendiri sudah jarang memperhatikan. Yang kuingat selalu di posisi 140 km/jam. Musik berdentum keras. Dan jalan tol Cipularang kulumat habis. Lancar dan tak kenal ampun. Beruntung mobil ini matic. Sehingga aku tak musti repot berganti-ganti perseneling.
1,5 jam kemudian aku sudah sampai ujung Jakarta. Betapa teknologi telah melipat dunia. Jarak Bandung-Jakarta sudah bukan soal lagi. Tapi yang jadi soal adalah, masuk kota Jakarta. Itu satu soal tersendiri. Pada saat menjelang jam bubar kantor pula. Kendaraan pun mulai menyemut.
Maka jangan ditanya jika aku musti beberapa kali kehilangan arah untuk menuju TIM di Jalan Cikini. Aku tak hapal benar jalan di Jakarta (memangnya ada yang hapal?). Aku pun tersasar-sasar.
Singkat kata, gerbang TIM di Jalan Cikini Raya kumasuki. Mobil kuparkir. Matahari sudah pamit pulang. Hari mulai gelap. Kukontak Mas Pringgo. Aku berlari menuju PDS HB Jassin. Saat berjalan di parkiran, aku sempat tercekat demi melihat jalan ke arah kampus IKJ (Institut Kesenian Jakarta). Ada kenangan yang membekas di sana. Tapi dengan cepat kulupakan.
Sesampai di PDS, kuhubungi beberapa kawan panitia, minta tolong membawa berkotak-kotak buku. Panitia pun berhamburan. Senang sekali melihat kerja mereka. Aku membawa sekotak. Tapi langsung diambil alih.
Buku pun dipajang. Orang-orang yang sudah datang mulai berkerumun. Berebutan membeli. Suasana mulai ramai. Tamu-tamu pembicara mulai memasuki ruangan. Kulihat Budiman Sudjatmiko datang. Aku menghampiri dan menyalami. Kemudian Eep Saefulloh. Mas Pringgo memperkenalkanku pada Ilham Aidit, putra DN Aidit. Franky Sahilatuan pun nongol. Aku mulai bisa bernafas malam itu. Buku sudah aman. Pembicara pun mulai hadir. Aku mulai bisa menyulut rokok di pojokan.
Suasana terus ramai. Kue-kue dan jajajan pasar mulai bertamasya dari meja, ke tenggorakan hadirin, terus berselancar ke perut. Kopi dan teh dihidangkan. Tiba-tiba kulihat sosok yang cukup kekenal: itu dia Bung Awie, Si Cambuk Berduri itu! Tertawa-tawa dia menghampiriku. Kedatangan Rieke Dyah Pitaloka yang sedianya akan membacakan sajak tak kuketahui. Tiba-tiba sudah ada di dalam ruangan.
Kemudian Gus Dur pun memasuki ruangan. Tak berapa lama nongol Pram. Langsung berjalan diapit dan diantar oleh beberapa orang ke kursi bagian depan. Ia hanya mengenakan (lagi-lagi!) celana training biru, sendal kulit, kaus oblong, jaket warni khaki, mengenakan topi, menggamit tongkat. Sableng! Pakaian rumahan gitu! Pakaian yang biasa dan selalu ia kenakan untuk tidur, baca koran, makan, kasih makan ikan, dan terima tamu di rumah. Tidak mengenakan batik sama sekali. Aku hanya ngakak. Ngakakku ditanggap Ibu Mae yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingku.
“Eh, sudah di sini…” serunya.Dari kejauhan Mbak Titi (Astuti A Toer) sudah melambaikan tangan.
“Ayo silahkan… silahkan… Santai saja…” ujarnya padaku. “Kok aku yang jadi tuan rumah ya?” candanya lagi. Yang ini kalimat sableng!Tak berapa lama kulihat Pak Hatma menghampiriku dengan senyum menyejukkannya. Ah, ketemu lagi kita!
Acaranya demi acara pun dimulai. Saat Gus Dur unjuk bicara, Pram malah berdiri dari tempat duduk, berjalan ke belakang. Sableng juga, pikirku!
Saat berjalan ke belakang, tak ada yang menghiraukannya. Barangkali orang tak tau kalau itu Pramoedya. Pakaian yang dikenakannya itu barangkali. Terlampau rumahan sekali. Ibu Mae entah kemana. Mbak Titi, juga entah kemana. Pram berjalan sendirian. Wah, bisa nyasar ini. Ia sudah celingukan. Dalam desakan orang, aku berusaha memburunya. Ia masih celingukan. Mencari entah siapa. Ia mulai bingung dalam keramaian orang. Ketika matanya menubruk sosokku, ia menaikkan alis, giginya ia pamerkan tanda girang. Kupeluk dan kupegangi tangannya. Ia manut saja.
“Mau kopi?” tawarku ketika melewati meja saji. Ia mengangguk.Pram pun kutarik ke belakang. Ke luar ruangan. Duduk dekat toilet. Merokoklah kita di sana. Orang-orang di sana mulai menyalami Pram. Aku memilih menjauh. Ngobrol dengan kawan-kawan yang kutemui di Jakarta. Ibu Mau pun menghampiri Pram. Duduk di sampingnya. Mas Franky Sahilatua datang menyalami Pram.
“Pak Pram saya Franky!”Pak Pram mengibaskan tangannya tanda tak dengar.
“Franky!”Sekali lagi Pak Pram mengibaskan tangannya.
Ibu Mae memanggilku. Minta dibantu. Aku pun menghampiri. Kuteriakan di kupingnya, “Franky Sahilatua!!”
“Oh…” ujarnya.
“Penyanyi!!” teriakku lagi.
“Ayo…” ujar Pram sembari tangannya menyuruh Mas Franky bernyanyi.Mas Franky pun tertawa. “Nanti, di depan.”
Acara diskusi terus berlanjut. Sesi tanya jawab pun berlangsung seru dan panjang. Hadirin minta acara terus dilanjutkan. Rieke Dyah alias Oneng membacakan sajak. Semua terpana. Entah oleh sajaknya atau entah oleh kecantikannya. Aku sendiri lebih memilih kecantikannya. Hahaha! Mas Franky pun unjuk gigi.
Sebelum itu semua Pram sudah minta pulang. Wajah Ibu Mae dan Mbak Titi tampak kecewa. “Aku masih kerasan di sini, tau tuh papi!” ujar Ibu bersungut. Aku tertawa geli mendengarnya.
“Mami mau di sini dulu? Aku antar Papi pulang…” tawar Mbak Titi.
“Terus aku pulang sama siapa…” kata Ibu Mae manja. Giliran aku yang ngakak. Aku pun mengantar Pram dan keluarga ke parkiran mobil.Di bawah Mujib Hermani sudah siap menuntun Pram. Mas Pringgo masih sempat mengantarkan sampai bawah. Di parkiran mereka bertiga pun bersiap berangkat.
“Nggak tidur Utan Kayu saja Mas?” tawar Mbak Titi.
“Aku langsung pulang ke Bandung malam ini Mbak…” seruku.Ford Everest hitam pun menderu.
Mas Mujib sudah kembali ke PDS. Teringat dengan pesanan buku Bung Tanzil, aku pun mampir ke toko buku di pinggir TIM. Kulihat Joze Rizal Manua sedang melatih teater. Wow! Asyik sekali suasana malam ini. Buku yang kucari tak ketemu. Habis! Kabar mengecewakan musti kubawa pada Bung Tanzil di Bandung. Malah aku yang belanja buku, demi melihat beberapa buku yang tak kuat kalau tak kubeli. Sialan!
Aku kembali ke atas. Ngobrol cukup panjang dengan Pak Hatma. Terima kasihku pada Pak Hatma yang menunjukkan jalan menuju keluar Jakarta. Arah yang beliau tunjukkan sangat terperinci dan mudah kuikuti. Sekali lagi aku musti berterima kasih. (Rencana hendak SMS begitu sampai tol menuju luar kota kuurungkan demi mengingat waktu). Pak Hatma orang yang cukup hangat untuk diajak berbincang. Entah sudah berapa kali aku bertemu. Baik di Bandung, Jakarta, maupun Bojonggede. Ia sendiri tinggal di Bekasi.
Acara masih terus berlangsung. Ada kejadian lucu. Penyair Yonathan Raharjo memperkenalkanku pada Sihar Ramses Simatupang. Sihar adalah cerpenis yang cermerlang yang juga wartawan Suara Pembaruan. Kami pun bersalaman sembari tersenyum-senyum.
Kubilang, “Aku sudah menyimpan nomor hp-mu. Dikasih Bang Heri Latief!”
Dia pun membalas, “Lho, aku pun sudah menyimpan nomor hp-mu. Dikasih Pak Martin Aleida. Bahkan nomor Malka pun aku menyimpan.”
Kami pun saling menunjukkan serta memastikan nomor masing-masing. Setelah itu tertawa ngakak. Konyol juga pertemuan ini, batinku.
“Aku iki Jowo lho Mas!” ujar Sihar dalam Jawa yang kental.
“Jowo opo! Simatupang kok Jowo!” balasku ngakak. Sihar memang kuliah di Unair Surabaya dulu. Tak aneh bila bahasa Jawanya cukup lancar. Dan kami pun ngobrol di belakang ruangan, bertiga dengan Yonathan.
Malam terus berlanjut-berlanjut-berlanjut hingga habis tandas. Sebelum usai acara, seorang pria yang tadi sudah diperkenalkan padaku datang menghampiriku. “Punya rokok?” pintanya. Aku mengeluarkan Gudang Garam Surya 16-ku. Ia mencomot sebatang. Ia llham Aidit, putra DN Aidit. Aku ngobrol cukup lama dengannya di belakang ruangan. Obrolannya cukup memberikan kesan dan sangat terbuka. Rokok pun terus mengepul.
Budiman Sudjatmiko angkat bicara. Para hadirin angkat bicara. Acara makin malam makin ramai. Mereka-mereka yang pernah jadi korban Orde Baru. Baik PKI maupun yang dituduh PKI. Yang entah suaminya hilang. Ayahnya hilang. Istrinya hilang. Anaknya hilang. Berkumpul malam ini. Bukan untuk berseru-seru tentang PKI. Tapi berbicara soal keadaan, kondisi, dan masa depan mereka.
Aku banyak bertemu teman malam ini. Itu pula yang menyebabkan setiap ada acara di Jakarta, aku tak pernah bingung musti tidur di mana. Selalu ada teman yang bertemu di acara tertentu.
Acara pun usai. Pembicara mulai turun panggung. Hadirin mulai berangsur pulang. Kulihat Pak Koesalah Soebagyo Toer (adik Pram) beserta istri sudah bersiap menuruni tangga. Menyesal aku tak tau kehadirannya. Entah di mana aku saat mereka datang. Beberapa kali aku selalu bertemu dengan beliau. Berlanjut ke email. Adik Pram yang lain yang cukup dekat denganku tentu Pak Soesilo Toer. Semua tinggal di Depok.
Aku terduduk lemas di kursi. Kusadari baru kali ini aku duduk sejak di mobil tadi. Rasanya jam sudah pukul 23.00 malam. Mas Ilham Aidit pamit. Kawan-kawan panitia mulai beres-beres. Mas Pringgo, si koordinator acara, kutahu betul ia yang paling letih dari semua ini, tampak berwajah puas dan gembira. Mbak Dira, Ipar Heri Latief mulai membereskan buku-buku. Dari 240 buku, sisa tinggal 75 buku. Aku merasa senang bukan dengan jumlah buku yang keluar, tapi karena acara malam ini nyaris sesuai dengan yang diharapkan. Kami pun saling bersalaman dan berpamitan. Semua pulang. Semua senang.
Sampai bawah, kutinggal mobil di parkiran. Aku berjalan menuju halaman depan TIM. Makan malam pun tergelar. ‘Apa dia dulu kerap makan di sini saat kuliah dulu?’ tanyaku dalam hati demi tiba-tiba teringat akan seseorang yang pernah kuliah di IKJ. Ah, sudahlah.
Aku pun beringsut pulang. Mengikuti rute yang diberikan Pak Hatma. Mobil kupacu pelan. Masuk by pass, aku bersiap meninggalkan Jakarta. Mobil tetap kupacu pelan. Paling banter Cuma 100 km/jam. Rata-rata kupacu 80-an.
Heri Latief, penggagas buku serta acara ini, SMS dari Amsterdam: ‘Malam ini kita sedang merayakan launching buku Tragedi 65 bersama ayam kuning ala Ratih, sop kambing ala Heri, dan ngobrol soal politik dan kekuasaan’. Kurang lebih begitu isi SMS-nya. Senang sekali aku dengan isi SMS itu. Sayang sekali mereka berdua tak bisa hadir di tengah-tengah acara di Indonesia.
Mbak Titi pun menyusul SMS: ‘Sudah mau istirahat Mas?’. Kubalas: ‘Walah, lewat Cikampek saja belum Mbak…’
Dan mobil pun meluncur pelan… pelan… pelan menuju Bandung.
Tepat jam 3 pagi sampai di Malka. Satu lagi malam dari sedikit malam-malam menyenangkan yang kumiliki terlewati.
04.30 aku baru terlelap. Jam 06.00 sudah musti bangun. Olala!!
Rumah Malka, 5 Oktober 2005, 00.45 wib
Tak bisa tidur menjelang sahur hari pertama puasa.

