ternyata masih melulu kamu yang duduk bersemadi di ujung sana,
tanpa pamrih, tanpa keluhan, tidak disertai berbagai keinginan
ternyata masih melulu kamu yang berdiri memandangiku di sana,
tidak mengejar, tidak dikejar, tidak mendahului, tidak didahului
ternyata masih melulu kamu yang bersandar di sana,
tanpa cinta, tanpa cumbu, tanpa lenguh, tanpa peluh
ternyata masih melulu kamu yang tersenyum di sana
dengan seribu makna yang tak pernah kita rumuskan hulu-hilirnya
tiga belas tahun bukanlah masa yang sebentar
untuk memahami bahwa dunia bukanlah milik orang-orang sentimentil
bukan juga waktu yang terlalu lama untuk tetap mengerti
bahwa apa yang terjadi selama ini:
merupakan kwantitas sekaligus kwalitas yang tiada ada bandingannya
kau selalu ada untuk aku
kau pun siap menghilang untuk aku
masih juga kau yang memapahku kembali ketika kuterjatuh
juga masih engkau yang memberikan bahu saat aku menangis
kau orang paling mengerti atas kesepianku yang tak pernah tuntas ini
tapi bukankah setiap orang pun pernah mengalami masa-masa surut?
kumohon, betul-betul kuminta:
meski kita begitu saling menyayangi,
jangan pernah terbit sederet kalimat cinta yang memabukan dari mulutmu
karena hanya kaulah satu-satunya yang tersisa yang tinggal kumiliki
yang tidak pernah mengotori perjalanan bersih ini
dengan seribu kalimat yang selalu berakhir sia-sia itu
jika kita berani melanggarnya satu kalipun saja,
maka tumpaslah satu-satunya sisa yang kubanggakan
hanya karena engkaulah satu-satunya yang bisa berpikir obyektif tanpa pamrih
karena jika tidak demikan,
kau hanyalah satu dari deretan panjang yang tak berkesudahan
lantas bagaimna caranya aku membedakan kau dengan mereka?
aku tak mengizinkan itu terjadi!
jika kita berani melanggarnya satu kalipun saja,
maka selesai sudah pemaknaanku tentang suka cinta
tumpas pula segala keinginanku atas ribuan pemaknaan suka cinta
yang selalu saja bergelimpangan digerogoti peran
yang selalu saja bertumbangan dimakan ego
yang selalu saja berhamburan diausi kebutuhan
yang selalu saja berserakan dilalap keinginan
yang selalu saja berakhir sia-sia
dan waktu masih tetap terus berjalan
hingga kita menentukan sikap atas hidup kita sendiri
yang tersisa hanyalah hingga datangnya hari pernikahanmu
yang kau sendiri tak pernah memikirkannya sekalipun
entah kapan!
namun jika waktu itu pun tiba (kau tetap manusia normal toh?)
maka tibalah saatnya bagiku melepaskan seluruh perjalanan ini
melepas kau pergi
bersama suamimu yang terkasih
yang kau nikahi di hadapan Hyang Widi dengan segala cinta yang suci
di luar pura aku berjalan sendiri, tanpa kau, tanpa kau, tanpa kau sahabatku
: satu-satunya manusia yang tak pernah menginginkan apa-apa dariku
bukankah kita selama ini sepakat
bahwa keinginan adalah sumber penderitaan?*
17 Oktober 2005
* kalimat ini dari lagu Matahari, Iwan Fals



