Pram dan Peninggalan Perpustakaannya
Saat menghadiri acara “Pram Seratus Hari” yang diselenggarakan pada Senin 7 Agustus 2006 lalu di Goethe Haus, Jakarta, tentu saja aku bertemu banyak kawan. Salah satunya (atau salah dua?) aku bertemu dengan Agus dan Ratna.
Agus dan Ratna adalah mahasiswa FIB UI. Ratna sendiri sudah lulus dan bekerja. Agus kalau tak salah masih lagi skripsi. Aku mengenal mereka saat diundang jadi pembicara di UI 12 April 2005 tahun lalu bersama Pram, Martin Aleida, dan Richard Oh. Sejak itu kami memang jadi sering berkontak.
Yang menarik, Agus, Ratna dan beberapa kawan lain sudah setahun lebih ini “mengurus” perpustakaan Pramoedya Ananta Toer di rumahnya Bojonggede. Mereka memposisikan diri sebagai sukarelawan yang memang berinisiatif “mengurus” perpustakaan tersebut. Aku sendiri merasa sulit mendiskripsikan kata “mengurus” tadi. Yang pasti, perpustakaan Pram di Bojonggede ditata, dibuat katalog, dengan sistem komputer (seperti banyak kita tau: Pram tak pernah menggunakan teknologi komputer dalam mengelola perpustakaannya), buku-buku dikategorikan dengan berbagai kategori judul, tema, penulis, penerbit, dsb.
Setiap Sabtu kawan-kawan UI ini datang. “mengurus” perpustakaan Pram hingga senja tiba. Hanya seminggu sekali memang. Sudah berjalan satu tahun lebih kalau aku tak salah hitung. Memang jadinya terasa lebih baik. Karena yang kurasa sejak awal, perpustakaan di rumah Bojonggede menurut penilaianku terkesan berantakan. Semua buku, jurnal, majalah, data, dokumen, kliping koran, masuk jadi satu begitu saja.
Seingatku, perpustakaan Pram saat masih tinggal di Utan Kayu Jakarta sangat rapi. Rapi sekali. Seberantakan-berantakannya seorang Pram, masih saja terlihat rapi. Dulu lantai atas rumah Utan Kayu memang praktis menjadi daerah “kekuasaan” Pram semata. Perpustakaan, ruang kerja, kamar tidur Pram ada di sana semua. Ada ruang untuk khusus buku, ruang penyimpanan kliping-kliping koran, majalah-majalah, jurnal, dan meja kerja. Semua mendapat tempat khusus. Berbeda dengan rumah Bojonggede. Perpustakaan menempati satu lantai di lantai 2 dengan luas ruangan yang, menurutku, tak seberapa untuk ukuran perpustakaan yang menyimpan ribuan dokumen sebanyak itu.
Barangkali karena dulu Pram masih aktif bekerja di rumah Utan Kayu. Semenjak kepindahannya ke Bojonggede, tahun 2000an ke atas, kerja Pram praktis hanya mengkliping koran. Itu pun ia lakukan di dapur atau di ruang tamu. Sehingga barangkali tak aneh bila perpustakaan di Bojonggede terkesan berantakan. Hingga datanglah kawan-kawan dari UI yang berbaik hati itu.
Kalau hari Sabtu aku masih tinggal di Bojonggede, pasti bertemu dengan mereka. Oya, dulu di perpustakaan ini masih ada Sisi, cucu Pram, yang bekerja mengelola perpustakaan ini dari jam 9 hingga jam 5, setiap hari. Tapi 2 minggu sebelum Pram masuk rumah sakit menjelang tutup usia, Sisi mengundurkan diri.
Sejak Pram meninggal, penghuni rumah Bojong lebih banyak tinggal berpusat di rumah Utan Kayu Jakarta. Praktis selama itu pula kawan-kawan dari UI absen “mengurus” perpustakaan. 3 bulan lamanya. Hingga bertemulah aku dengan sejoli Agus dan Ratna ini di Goethe Jakarta.
Dalam pertemuan itu Agus bermaksud mengajakku membicarakan soal yang berkenaan dengan kelanjutan perpustakaan.
“Kelanjutan perpustakaan?”
“Ya.”
“Kenapa?”
“Karena praktis sejak Pram meninggal kita lama tidak ke sana lagi.”
“Sepertinya kita butuh waktu tak sedikit untuk membicarakan ini. Tidak malam ini.” tawarku.
Akhirnya kita menyepakati pertemuan antara sejoli Agus-Ratna, Mbak Astuti, serta aku sendiri yang entah sebagai siapa. Di Bojong, hari Sabtu 12 Agustus.
Singkat cerita, pada hari Sabtu 12 Agustus pagi aku sudah bersiap mengepak ransel, pulang ke Bandung. Keluar kamar aku langsung turun ke dapur. Kulihat Ibu Mae sedang memotong-motong ikan asin yang siap dibalado.
“Ngopi Daniel?”
“Ngeteh aja Oma…” sahutku sembari mencomot mug di lemari dapur.
Tak kulihat penghuni lain di rumah ini. Entah pada kemana. Aku membawa teh ke teras depan dengan rokok di tangan. Tak berapa lama ada motor berhenti di depan gerbang. Yang dibonceng tampak kesulitan membuka gembok gerbang. Tapi mereka berhasil masuk. Begitu helm dibuka, ternyata sejoli Agus dan Ratna. Demi melihat tampang mereka berdua, dalam hati sudah terbit satu kalimat: “Walah, gagal kepulanganku ke Bandung pagi ini!” Aku betul-betul lupa telah punya janji bertemu dengan mereka. (Sorry!)
Singkat kata, kita ngobrol di perpustakaan. Duduk di lantai berempat: sejoli Agus-Ratna, Mbak Astuti, dan aku.
Inti dari pembicaraan adalah: setelah Pram meninggal, hendak dibawa kemana arah perpustakaan ini. Pram jelas telah tiada. Seluruh dokumentasi di dalamnya hendak diapakan. Ribuan buku, ensiklopedi, jurnal, majalah, kliping koran, dokumentasi pribadi, foto-foto, film-film di dalamnya musti tetap terawat. Sementara 3 bulan berselang perpustakaan ini nyaris lengang tak tersentuh “pengelolaan”.
Agus menanyakan apakah perpustakaan ini bakalnya akan dibuka untuk umum. Sementara Mbak Astuti berpendapat, dari pihak keluarga sudah barang tentu belum lagi terpikir hendak dikelola bagaimana perpustakaan Pram untuk waktu dekat ini. Sejoli Agus-Ratna memastikan bahwa kawan-kawan UI bermaksud akan tetap “mengurus” perpustakaan ini sebagai sukarelawan.
Sempat pula kita bicarakan soal biaya pengelolaan serta pendanaan. Mbak Astuti sendiri masih berkepentingan menanyakan soal “ongkos” kawan-kawan UI yang setiap Sabtu datang ke Bojong. Sejoli Agus-Ratna menegaskan bahwa posisi kawan-kawan tetap sukarelawan yang berinisiatif. Sekelumit pembicaraan menyangkut soal lembaga-lembaga pendonor yang kini mulai melakukan pembiayaan pada perpustakaan beberapa tokoh sejarawan. Namun kita masih bersepakat, kalau dari kita yang meminta bantuan dana dari pihak luar untuk pengelolaan, lebih baik tidak. Meminta-minta, apalagi dana, rasanya bukan mentalitet yang wajib dikembangkan. Kita bersepakat akan hal itu.
Hingga kita memutuskan untuk menuntaskan dulu program terdekat dari kawan-kawan UI, yaitu menyelesaikan menyusunan buku terlebih dahulu. Soal majalah, jurnal, dll, apalagi materi dokumentasi untuk ensiklopedi yang tersusun panjang bukan main itu, menjadi agenda kerja berikutnya.
Di akhir pembicaraan, sempat kuusulkan soal layout ruangan. Aku merasa perpustakaan Pram di Bojonggede tidak nyaman secara layout ruang. Apakah Mbak Astuti dari pihak keluarga Pram memberikan kebebasan untuk membuat nyaman perpustakaan ini. Mbak Astuti mempersilahkan.
Apa maksud dari cerita ini? Aku hendak berbagi cerita bahwa: Pramoedya Ananta Toer yang kita kenal, baik karya maupun sosoknya, meninggalkan perpustakaan yang butuh kejelasan arah. Kalau dibuka bagi peruntukkan umum, musti jelas aturan mainnya. Kalau tetap dijadikan perpustakaan pribadi, musti jelas pula fungsinya. Kalau dibiarkan terlantar tanpa arah, betapa kita telah memiliki kontribusi dalam ikut membiarkannya.
Aku tak bisa mengatakan ini merupakan pekerjaan rumah bagi siapa.
-Kebutuhan dan impian manusia adalah tanpa batas, sedang kemampuan usaha manusia sangat terbatas (Nyanyi Sunyi Seorang Bisu 2, hal 153)-
Bandung, 16 Agustus 2006.

