Pram dan Rumah Bojonggede

Apa yang terjadi dengan kediaman Pram di Bojonggede sejak 100 hari sepeninggal Pram? Tidak terjadi apa-apa. Rumah itu tetap kukuh berdiri. Tetap 6 lantai tingginya. Tetap lapang halamannya. Tetap luas ladangnya. Tetap rindang pepohonannya. Tetap cerewet angsanya. Tetap berkecipak kolam ikannya. Sama saja. Tak ada yang beda. Bedanya: sudah tak ada Pramoedya Ananta Toer tinggal di sana.

Pada hari-hari biasa saat Pram masih lagi hidup, rumah ini dihuni oleh empat orang. Maemunah Thamrin, istri Pram. Astuti Ananta Toer, anak keempat Pram. Arina Ananta Toer, anak kelima Pram, dan Pram sendiri. Pram dan Ibu Maemunah menempati kamar di lantai 3. Astuti di lantai 2. Sementara Arina di lantai 4. Sejak Pram meninggal, Astuti berinisiatif menemani Ibu Maemunah di kamar lantai 3 lantas mengosongkan kamarnya di lantai 2. Sehingga kini praktis rumah berlantai 6 ini dihuni hanya oleh 3 orang perempuan.

Pada siang hari rumah dan lingkungan sekitar tetap berjalan seperti biasa. Ada Arif, lelaki berumur 25 tahunan, yang bertugas mengurus segala urusan rumah hingga kebun. Dari mencuci mobil hingga mengganti air kolam renang. Dari mengepel lantai (enam lantai tentu saja. Bayangkan!) hingga memangkas rumput halaman. Sejak pagi Arina sudah bisa dipastikan mendekam di kandang, bermesraan dengan ayam-ayam kesayangannya. Astuti lebih banyak di perpustakaan atau di meja kerja depan tv. Sementara Ibu Maemunah mendapat jatah: menonton tv, meski kalau diperhatikan, lebih banyak tidurnya ketimbang menyaksikan acara tv.

Sejak kepergian Pram, di rumah ini jarang sekali terjadi kegiatan masak. Makan sesukanya saja. Masak untuk sendiri saja. Begitu pun ketika aku tinggal di sana untuk beberapa lama. Kalau mau makan ya menggoreng telur atau tahu. Sesekali Ibu Maemunah memang masak. Meski itu berupa semur tahu, urap daun pepaya yang diambil dari ladang, atau balado ikan asin, yang sungguh mati nikmat dimakan dengan kepulan nasi hangat.

Praktis demikian kegiatan sehari-hari di rumah Bojonggede sepeninggal Pram. Kalau matahari sudah pamit pada senja, dan malam mulai menurunkan selimut hitamnya, keheningan rumah ini mulai terasa. Sangat terasa. Ibu Maemunah dan Arina selepas Isya sudah siap di depan tv. Astuti juga di depan tv, mungkin bedanya ia cukup duduk memisah di meja bulat, bekerja atau apa saja. Biasanya mengoreksi naskah-naskah ayahnya yang hendak diterbitkan.

Kalau sudah seperti itu, aku suka berjalan-jalan seorang diri di halaman rumah atau nongkrong di teras depan, sembari merokok. Dulu Pram masih bisa diajak merokok atau bercerita di teras depan rumah. Meski di masa tuanya Pram terhitung tidur cukup cepat, tapi selepas Isya, Pram masih suka menyisakan waktu untuk melamun sembari merokok di depan rumah.

Kesunyian memang sangat terasa di malam hari sejak Pram tiada. Dulu aku selalu tidur di lantai 5. Meski banyak kudengar cerita-cerita minor tentang rumah ini berupa “penampakan-penampakan”, tapi tak satu pun pernah kualami. Kala ada Pram, tentu saja aku berani tidur di lantai 5, meski sendiri. Karena Pram, dalam semalam bisa sampai 5 kali ke kamar mandi. Penyakit diabetesnya mengharuskan ia bolak-balik sebanyak itu. Atau terkadang Pram suka turun ke lantai dasar pada jam 2 pagi. Meski hanya mendengar suara pintu dibuka, aku merasa aman dan tak sendirian, karena itu pasti Pram. Tapi kini, aku memilih lebih baik tidak tidur daripada harus mendekam sendirian di lantai 5. Untungnya kamar Astuti di lantai 2 kosong dan tak ditempati. Jadinya aku memilih tidur di kamar lantai 2 saja.

Kamar Pram dan Ibu Maemunah di lantai 3 sangat luas. Selepas pintu masuk terdapat ruang paviliun yang terdiri dari kamar mandi dan ruang kerja. Masuk lagi lebih ke dalam, baru kamar Pram sesungguhnya. Teramat luas dengan dua tempat tidur ukuran double. Langit-langitnya langsung menempel pada atap genting. Terdapat banyak jendela sehingga saat pagi datang, kamar ini cukup mendapat siraman matahari. Tak ada hiasan dinding di dalamnya.

Ada sebuah AC menempel di dinding. Sebuah meja hias lengkap dengan kaca berdiam sendirian di antara dua tempat tidur. Beberapa lemari pakaian dan sebuah pintu yang dapat diakses ke teras, malah dapat langsung turun ke halaman belakang. Dari jendela atau terasnya, kita dapat melihat perumahan penduduk di desa sekitar.

Kalau kebetulan lewat Bojonggede, mampirlah ke Jalan Warung Ulan. Berkunjunglah. Kalau ada buah nangka masak, akan bertambah nikmat berbincang dengan penghuni rumah sembari mencomoti buah nangka, dan berceloteh kenangan tentang Pram.

Namun kini rumah bernomor 9 itu sudah ditinggal oleh seorang lelaki bernama Pramoedya Ananta Toer.

-Dia telah pergi ke tempat ke mana setiap orang akan dan sedang pergi. (Rumah Kaca)-

Bandung, 16 Agustus 2006.

This entry was posted in Catatan Perjalanan, Pramoedya and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>