Seratus hari Pram salah satunya ditandai dengan diselenggarakannya acara “Pram Seratus Hari” pada Senin 7 Agustus 2006 di Goethe Haus, Jalan Sam Ratulangi Jakarta. Penyelenggaranya YPKP (Yayasan Penelitian Korban Peristiwa 1965, di mana Pram salah seorang pendirinya). 

Bagaimana acaranya sendiri barangkali sudah diceritakan oleh posting-posting email sebelumnya. Tentu banyak orang datang ke acara ini. Dari Utan Kayu kami berangkat dalam rombongan besar. Sekitar 3 mobil dan beberapa motor. Keluarga Pram dan kawan-kawan Marjinal. 

 

Di pintu masuk foto-foto Pram terpampang, yang sebagian besar dipinjam dari rumah Pram sendiri. Aku berdiri di belakang Ibu Maemunah. Saat sudah masuk beberapa langkah, Ibu Maemunah memerlukan berhenti dan balik lagi satu langkah ketika melewati sebuah pigura Pram dalam ukuran besar. Apa yang dia lakukan? Mengusap wajah Pram. Kemudian berjalan lagi ia seperti biasa. Aku ngakak melihat tingkah Ibu Mae ini.Pak Koesalah Soebagyo Toer menyambut kedatangan kami. Kami pun bersalaman. Pak Koesalah memang telah hadir lebih dulu karena pada sore harinya diadakan diskusi buku “Pramoedya Ananta Toer dari Dekat Sekali” –Catatan Pribadi Koesalah Soebagyo Toer, adik Pram.

“Mahendra!” sapa Pak Koesalah.

“Ya Pak.” balasku.

Kutemui pula Pak Soesilo Toer, adik Pram lainnya. Banyak kawan di sana. Dalam acaranya sendiri ada Rieke Diah Pitaloka membaca sajak, Slamet Rahardjo membaca sajak, Sitor Situmorang membaca sajak. Ikut hadir Eros Djarot, Martin Aleida, Putu Oka, Eka Kurniawan, Max Lane, Hariman Siregar, Joesoef Ishak, ah banyak lagi.

Eros Djarot menggubah sebuah lagu yang ia beri judul “Kepada Pramoedya” yang dinyanyikan oleh paduan suara dengan begitu apik. Begitu pun dengan kelompok musik Marjinal yang juga membawakan tembang “Pramoedya Kau Termarjinalkan”.

Usai acara aku memilih mengobrol dengan Pak Koesalah dan Pak Soesilo. Tetamu beringsut pulang. Sempat berbincang cukup panjang dengan Max Lane, penterjemah buku-buku Pram ke dalam English.

“Katanya mau ke Bandung? Jadi tidak?”

“Aku sedang bokek. Kamis musti sudah pulang ke Australi.”Aku hanya ngakak.

Kami mengobrol cukup banyak soal buku dan film Pram. Ketika tamu-tamu betul-betul sudah pulang, hingga yang tertinggal serombongan keluarga Pram. Kelompok musik Marjinal masih bernyanyi-nyanyi di halaman belakang Goethe, dirubung keluarga Pram.

Tak lama kami pun pulang. Kami menyeberang jalan menuju tempat parkir mobil. Seorang satpam, entah satpam Goethe atau satpam depan rumah seberang Goethe menyapa:

“Ini semua keluarga Pram?”

“Ya.” jawabku.

“Banyak sekali…”

“Biasa, kalau ada acara Pram pasukan bodrex ikut semua…” ujarku tertawa, mengikuti ucapan Setyaning Rakyat Ananta Toer, putri Pram, yang menamakan pasukan bodrex pada rombongan keluarga yang selalu hadir berbondong-bondong pada setiap acara Pram.

“Saya sudah baca beberapa buku Pram, Mas.”

“Oya? Buku apa saja?”

“Apa itu yang ada manusia-manusianya…”

“Bumi Manusia.”

“Ya. Iya Bumi Manusia. Juga buku Semua Bangsa sama… lanjutannya,”

“Jejak Langkah.”

“Ya, apa itu tadi?”

“Jejak Langkah.”

“Ya, Jejak Langkah.”Hebat juga ni satpam, batinku.

Esoknya, Selasa 8 Agustus 2006 malam di rumah Utan Kayu diselenggarakan pengajian 100 hari Pram. Yang datang keluarga dan masyarakat sekitar. Pak Koesalah dan Pak Soesilo pun hadir. Juga Oei Hay Djoen beserta istri.

Usai pengajian dan santap malam, Oei Hay Djoen pamit pulang. Diikuti dengan istri dan Mbak Dolorosa Sinaga.

“Mas, Om Hay Djoen mau pulang,” ujar Astuti A Toer ketika melihatku sedang ngobrol dengan Yudhistira A Toer di teras depan. Aku berdiri.

“Om, ini Daniel,” tukas Astuti pada Oei Hay Djoen.Oei Hay Djoen pun mengulurkan tangan menyambut tanganku. “Oh, kamu Daniel Mahendra?”

“Ya…”

“Kamu dari Bandung?”

“Ya Pak…”

“Ya-ya, saya tau kamu.”

Aku hanya bengong…

Bandung, 17 Agustus 2006

Cat:

 

 

 

(Oei Hay Djoen adalah kawan Pram, sempat satu barak dengannya ketika ditahan di Pulau Buru).