Seperti makam-makam lain, makam Pram tetap terbujur kaku. Rerumputan tampak sudah membalut rapat seluruh tanah yang masih lagi bernisan kayu itu. Ada seorang lelaki berbaring di dalamnya: Pramoedya Ananta Toer.
Senja yang cerah menjelang maghrib. Suasana begitu akrab dalam “pertemuan” dengan Pram untuk kali pertama sejak ia dimakamkan. Pram terbaring di sana. Aku bersila, duduk di sebuah makam tepat sebelah Pram. Kubacakan doa-doa sekadarnya. Sekadar mengenang seorang Pram. Aku sulut batang pertama. Dan kami pun merokok. Entah Pram!
Beberapa hari atau minggu setelah Pram dimakamkan, hampir setiap hari makam ini dikunjungi orang. Bahkan sampai malam hari pun tak sedikit anak muda yang berkumpul di sini. Berdiskusi sambil membawa petromaks, mengitari makam Pram. Di malam hari. Ada-ada saja!
Ketika suara adzan maghrib mulai terdengar berteriak-teriak di kejauhan, aku beringsut pulang. Pamit pada Pram. Mengusap-usap nisannya. Dan meninggalkannya seorang diri seperti sejak seratus hari lalu.
Beberapa hari kemudian aku kembali ke sini bersama Ibu Maemunah Thamrin, Astuti Ananta Toer, Arina Ananta Toer, dan Adit-cucu Pram dari Yudhistira Ananta Toer. Di pagi hari yang panas. Yassin dibacakan. Doa-doa ditaburkan. Bunga dan air mawar pun diguyurkan ke seluruh bidang makam Pram.
Setelah nyekar ke makam Pram, kami berjalan sekitar 15 meter, terdapat sebuah halaman makam keluarga Thamrin. Keluarga Ibu Maemunah. Di sana terbaring makam ibu dan bapak dari Ibu Maemunah, mertua Pram. Selain keluarga Thamrin, sudah barang tentu terdapat makam pahlawan nasional Mohamad Husni Thamrin. Makamnya paling besar. Teramat besar.
Di dekat pintu masuk halaman makam keluarga Thamrin terdapat makam Thamrin Mohamad Tabrie, ayah dari MH Thamrin, atau kakek dari Ibu Maemunah Thamrin. Kalau kita ingat dengan salah satu tokoh dalam roman “Jejak Langkah”, ada tokoh yang bekerja sama dengan Minke di awal-awal pergerakannya di Batavia, ya dia itulah: Thamrin Mohamad Tabrie.
Dan kami pun meninggalkan Karet sekali lagi. Meninggalkan makam Pram di TPU Karet Bivak Blok A. Kalau kebetulan melewati daerah sekitar Karet di Jakarta, dan ada sedikit waktu, mampirlah. Carilah sebuah nisan bertuliskan:
PRAMOEDYA ANANTA TOER
BIN
MAT TOER
LAHIR: 06-02-1925
WAFAT: 30-04-2006
Sampai bertemu pada perkunjungan berikutnya di karet… di karet…
Bandung, 17 Agustus 2006.





Perkenalkan,nama saya:Ricky Suhandi,saya ingin menawarkan sistem perdagangan berjangka,jika anda berminat,harap hubungi saya di nomor telepon:08567272981.Kita bisa bertemu di kantor saya:MONEX INVESTINDO FUTURES,Wisma Kyoei Prince Lt.9,Jl.Jend.Sudirman Kav.3 Jakarta 10220,Indonesia untuk penjelasan lebih lanjut.Kapan kita bisa bertemu?Atas perhatiannya,saya ucapkan terima kasih.