Kapan terakhir kali berdiskusi? Satu jam lalu? Satu hari lalu? Satu minggu lalu? Satu bulan lalu? Satu tahun lalu? Atau sudah tak ingat lagi?

Pernahkah membayangkan jika kita terus-menerus berdiskusi? Mengapa musti berdiskusi? Dan apa yang bakal kita dapatkan dari diskusi?

Dahulu tamu-tamu Partai Komunis Vietnam yang tinggal di Vietnam kerja utamanya tak lain justru berdiskusi. Hidup mereka memang dijamin oleh Partai. Dari mulai tempat tinggal (di hotel Partai, kalau beruntung mendapatkan rumah Partai), makan, plesiran sampai uang saku alakadarnya. Namun dari pagi hingga malam hanya berdiskusi belaka yang mereka dikerjakan. Dari mulai politik, sosial, kepartaian, ideologi, maupun keadaan negara. Tak terbayangkan!

Kadang peserta diskusi hanya berjumlah 4 hingga 5 orang saja. Pembicara utamnya bisa ganti-ganti. Bisa orang partai setempat, tamu Partai Komunis dari negara lain, atau sesama kawan sendiri. Tapi initnya setiap hari berdiskusi dan berdiskusi. Betul-betul tak terbayangkan hidup semacam itu.

Namun ada yang menarik jika kita berhabitat dengan orang-orang yang gemar berdiskusi. Apa saja bisa diolah sebagai bahan diskusi. Pikiran kita pun selalu bergerak. Tidak statis dan terus diperluas. Bukankah kebenaran hari ini bukanlah kebenaran yang pasti sifatnya.

Ketika malam itu tanpa terencana berkumpul lagi di trotoar TIM Cikini: S.R.S., D.I. B.A., Dd., Pt., Bn., dan Dg., langsung memesan nasi bebek. Kecuali aku yang memang tak mengkonsumsi daging.

Tanpa terencana pula bergulirlah tema Tuhan dalam pesta nasi bebek itu. Dg. yang mengaku sebagai penggagas (sekaligus ketua dan satu-satunya anggota?) komunitas atheis Indonesia, bersikeras bahwa agama-agama yang sekarang dianut oleh banyak masyarakat tak lebih dari agama impor (lalu yang mana yang asli?).

Diskusi dadakan malam itu kunilai cukup seru. Yesus dan Muhammad dihadirkan sebagai sosok kuat dalam mengolah wacana tentang ketuhanan, karena samawinya. Dogma-dogma coba dipreteli satu-satu.

‘Diskusi trotoar’ tanpa moderator itu pun berjulur-julur tanpa batas dari mulai ketuhanan, kepercayaan, pilogami, polyponic, 3G, sampai moral anggota DPR. Namun semua tetap bermuara pada keteguhan manusia pada apa yang dianggap Tuhan, Allah, Bapa, Yehovah, Widhi, Tao, Buddha (kecuali Dg. yang tak percaya akan adanya itu semua).

Jam 02 pagi ‘diskusi trotoar’ pun sepakat bubar. Perjalanan diarahkah ke rumah B.A. di Depok. S.R.S dan Dd naik motor. Bn dan Pt pulang. Sementara Dg cabut entah kemana (setelah kami “usir” dengan halus. Sorry, Dg., hehe!).

Di mobil kami pun masih melanjutkan sisa ‘diskusi trotoar’ tadi menjadi ‘diskusi mobil’. Terutama tentang sikap Dg. yang dengan yakin menolak adanya Tuhan serta bersikeras bahwa agama tak diperlukan oleh manusia di dunia ini. Kami bisa memahami sikap Dg. itu. Karena kami pun bukan orang yang ajeg sholat lima kali dalam sehari atau S.R.S yang rutin ke gereja setiap Minggunya. Tapi sejauh kami bisa katakan: kami tetap percaya akan adanya Yang Maha Penentu.

Yang tak kami pahami dari Dg: ia mematahkan thesis dengan antithesis tanpa menyodorkan rujukan samasekali. Bagi kami hal itu samasekali bukan mentalitet tipikal yang konsekwen berwacana. Karena bagaimana pun setiap orang dituntut tanggung jawabnya atas apa yang keluar dari mulutnya.

Belum sampai rumah B.A., di mobil kami memutuskan putar haluan: menginap di rumah D.I. saja, dengan berbagai pertimbangan. Tapi S.R.S. dan Dd tak mengangkat hp. Hingga akhirnya tiba di Depok S.R.S bersikukuh: perjanjiannya tadi menginap di Depok.

Kami berkilah: “Kau masih berpegang pada perjanjian lama, Har. Sementara kami sudah menggunakan perjanjian baru di perjalanan tadi!”

S.R.S pun misuh-misuh.

Akhirnya setelah S.R.S. mengistirahatkan motornya di rumah, kami pun menggunakan perjanjian baru: menginap di rumah D.I.

Diskusi dilanjutkan. Tapi ketika di Ahmad Yani Depok, tiba-tiba muncul niat gila S.R.S.

Katanya: “Bagaimana kalau kita ke Bandung saja?”

Peserta ‘diskusi mobil’ mengamini dengan sorak setuju.

“Sableng!!” teriakku.

“Seru kan ke Bandung pagi-pagi gini!” rayu S.R.S lagi penuh cengir.

Peserta ‘diskusi mobil’ masih tetap mengamini setuju.

“Siang-siang kita pulang ke Jakarta lagi!” S.R.S masih bersikukuh.

Peserta diskusi mobil masih semangat menyetujui.

“Sableng!! Ngapain aku ke Jakarta sore tadi! Besok aku musti melanjutkan perjalanan. Tiketku bisa angus!” protesku.

“Alah… berapa sih harga tiketmu. Kita ganti!” rayu S.R.S.

“Lagian napa sih naik kereta? Kan harganya sama dengan naik pesawat? Lebih cepat.” timpal D.I.

“Romantikanya lain…” kilahku.

“Ya udah, gimana kalau kita ke Puncak aja?” lagi-lagi S.R.S biang sableng.

“Woi!!!” aku makin protes.

“Subuh kita balik lagi ke Jakarta…” S.R.S. lagi.

Akhirnya aku berhasil menggagalkan niat sableng peserta ‘diskusi mobil’. Meski dalam hati sedikit tergoda untuk sekadar ngopi di Puncak.

Sampai rumah D.I., kopi pun dihidangkan. Acaranya: diskusi lagi. Uh, betapa sablengnya!

Kali ini karya-karya sastra disajikan sebagai tema sarapan pagi. Buku demi buku di rak pun diturunkan. Berceloteh, bercericau!

S.R.S paling semangat. D.I. tak kalah semangat. Dd. ikut semangat. Hanya Bd yang sejak awal terlihat paling pendiam. Sejak tadi sibuk mengutak-atik hp. Tampaknya SMSan. “Jomblo saja sibuk SMSan!” teriak S.R.S.

Menjelang subuh satu per satu peserta ‘diskusi kamar’ mulai rubuh. Mengggelosor di kasur tak berdaya. Bd. sudah terlelap. D.I. sudah berpetualang ke alam mimpi. Dd. memilih memejamkan mata. Tinggal aku dan S.R.S yang masih berjibaku dengan wacana.

Lama-lama aku mulai menggelosor di kasur dan memilih main games di pda. S.R.S malah membuka komputer. Tak lain: turut main games. Obrolan malah beranjak dari karya sastra ke keindahan perempuan. Menyadari perubahan tema ‘diskusi kamar’ berpindah secara berangsur tapi pasti, aku memilih cepat tidur.

S.R.S. pun protes: “Hoi! Kok nggak ada tanggepan?”

“Males!”

“Lho? Justru ini tema diskusi sesungguhnya…”

“Zzzz…..”

Suasana betul-betul senyap. Subuh sudah lewat. Akhirnya semua tumbang. Mendapati tubuh telah bergelimpangan, aku pun terbangun dan lega.

Sekira pukul 09 semua terbangun. Kopi pun terhidang. Asap rokok pun menguasai suasana ruangan. S.R.S langsung duduk di atas ranjang.

Ucapnya pertama kali:

“Kayak rapat PKI ya, rokok, kopi, diskusi… Aku ingat waktu kuliah dulu,”

“Walah!!! Mulai diskusi lagi?!” teriakku sambil ngeloyor ke kamar mandi.

Balik dari kamar mandi, suasana kamar betul sedang melanjutkan diskusi tentang G30S, Vietnam, Kuba, dan Soviet. Sableng! Entah musti kugambarkan dengan emoticon apa suasana pagi itu. Tanpa komando semua langsung berdiskusi.

Sampai matahari berada di titik kulminasi, ‘diskusi kamar’ masih tetap berlangsung.

Hingga tiba waktu makan siang, diskusi dilanjutkan di tempat makan. Setelah makan, diskusi masih berdentang-dentang.

Gila! Ini habitat apa… Sampai kapan terus berdiskusi?

Lama-lama aku jadi berpikir: sejatinya, sepanjang hidup kita, kita memang selalu berdiskusi. Berdiskusi dengan keluarga, dengan sosial, dengan norma, dengan ideologi, dengan kepercayaan, dengan realitas dan dengan alam.

Kita terkadang kerap berada di titik di mana tingkat emosi begitu tinggi sehingga sering lupa pada hal-hal yang paling membumi. Untuk itu kita butuh diskusi. Tidak bisa melulu berekawicara, pada diri sendiri. Tak bisa melulu mengikuti keinginan diri sendiri. Terkadang kita memiliki idealisme setinggi langit. Namun tak jarang kita pun musti berdamai dengan keluarga kita, dengan lingkungan sosial kita, dengan norma-norma yang ada, dengan kepercayaan yang kita anut, dengan realitas hidup dan dengan alam itu sendiri.

Terkadang kita kerap terlalu fokus pada diri sendiri. Sibuk dengan diri sendiri. Sementara kita masih lagi punya keluarga, kawan-kawan, norma, juga kepercayaan.

Berapa persen dalam keseharian kita sisakan untuk kehangatan keluarga, mendengarkan keluh sahabat kita, menyadari norma sosial yang berlaku, atau berkomunikasi dengan Tuhan? Berapa persen?

Dan yang tak kalah penting: terkadang kita lupa berdiskusi dengan diri sendiri. Mendengarkan suara hati. Menyimak kebeningan hati. Memperhatikan bisikan-bisikian dari sudut paling dalam -dalam diri kita. Seperti yang diajarkan Siddharta Gautama dengan amat bijaknya.

27 Januari 2007.