Sri Setyoningati

Syahdan, tersebutlah seorang perempuan bernama Sri Setyoningati. Usianya 16 tahun. Sederhana, baik hati, juga rupawan. Ia mempunyai seorang kekasih bernama Kembara. Pemberani, suka menolong, dan tampan (seperti dalam cerita-cerita picisan, tokoh pemeran utama memang selalu ideal dan sempurna!).

 

Keduanya berkasih-kasihan dan berjanji ingin sehidup semati hingga maut memisahkan mereka. Hingga pada suatu hari, karena sang kekasih memiliki nama “Kembara” maka dikutuklah ia untuk selalu mengambara. Sang kekasih pun pergi untuk mengembara. Menjelajahi negeri-negeri jauh untuk dikembarai. 

Sri Setyoningati yang menyadari kekasihnya yang bernama Kembara memang harus mengembara, berjanji ia pada diri sendiri untuk setia menunggu Kembara datang hingga kapan pun jua. Adalah Sri Setyoningati yang menyadari bahwa namanya, seperti halnya Kembara, merupakan kutukan agar ia memang musti setia menunggu Kembara hingga datang kembali (dalam bahasa Jawa nama Sri Setyoningati dapat diartikan: sri setia di hati).

Waktu pun berjalan. Setiap hari Sri Setyoningati selalu duduk di sebuah kursi terbuat dari ban bekas di depan rumahnya, menunggu kedatangan Kembara. Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, bertahun-tahun, Sri Setyoningati selalu setia menanti.

 

Terkadang ia memanjat pohon jambu yang tumbuh di depan rumah, dan duduk di dahannya: menunggu kekasihnya Kembara. Saban hari ia duduk di sana. Namun Kembara tak kunjung datang.Setiap orang yang melewati rumahnya selalu melongok ke atas pohon jambu, bertanya dalam hati: gerangan apa yang dilakukan nenek itu di atas pohon. Maklum, karena waktu berjalan, umur Sri Setyoningati pun berjalan. Ia beranjak tua. Ada yang menggeleng-gelengkan kepala, ada yang hanya memandang dengan heran, ada yang lewat begitu saja, tak ambil pusing. Namun Sri Setyoningati tetap menunggu di sana.

 

Hingga 76 tahun kemudian, ada seorang musafir yang tanpa sengaja melewati rumah Sri Setyoningati. Seperti yang lain-lain, si musafir pun tak kalah heran demi melihat seorang perempuan tua duduk di atas pohon jambu. Dengan sopan ia dekati pohon itu. Sri Setyoningati pun turun.

 

Melihat penampilan si musafir yang khas petualang, Sri Setyoningati pun berani bertanya pada sang musafir:

 

“Adakah kau tau di mana lelaki ini, wahai sang musafir?” tanya Sri Setyoningati sembari menunjukkan sebuah foto.

 

“Gerangan siapakah dia, Nenek? Cucu Nenekkah?”

 

“Oh, bukan. Ini kekasihku.”

 

“Kekasih nenek?!” sang musafir terbelalak. “Tapi mengapa masih begitu muda?”

 

“Oh ya, ini memang foto saat terakhir kali aku bertemu dengannya. Saat itu usia kami 16 tahun.”

 

“Ha?! 16 tahun?!” tanya sang musafir sontak terkejut. “Lalu berapa usia nenek sekarang?”

 

“92 tahun, musafir… Aku sedang menunggu kedatangannya. Apakah kau penah melihatnya, ya musafir?”

 

“Tidak Nenek, tidak. Belum pernah aku melihatnya.” jawab sang musafir terbata-bata.

 

Sri Setyoningati hanya tersenyum. Kemudian ia duduk di sebuah kursi yang terbuat dari ban bekas di teras rumah tuanya. Sembari memangku sebuah saputangan berwarna pink ia pandangi foto Kembara kekasihnya itu.

 

Sang musafir tak habis pikir. 76 tahun menanti kedatangan seorang kekasih, hingga 92 tahun usianya kini. Betapa konyolnya. Betapa tak habis pikirnya si musafir.

 

Lalu si musafir mengambil tempat di sebuah jarak di dekat rumah tua Sri Setyoningati. Ia mengeluarkan gitar dan bernyanyi. Begini lagu yang dinyanyikan sang musafir tersebut:

 

duduk menanti wajah penuh harap

harap yang panjang akan kehadiran

seorang kekasih yang selalu dinanti tak datang

 

bila melintas seorang musafir

dia kan bertanya di mana kasihnya

mungkin bertemu di suatu tempat di mana

 

hari tak berujung penantian abadi

gelap tak bertepi membunuh hidupnya

hari tak berujung

 

dia terbunuh sepi

terbunuh mimpi

terbunuh khayal

terbunuh harap

dia terbunuh

 

Ketika si musafir baru saja selesai menyanyikan lagunya itu, maka matilah Sri Setyoningati dalam usia 92 tahun di teras depan rumahnya. Di sebuah kursi yang terbuat dari ban bekas. Mati dengan menggenggam foto Kembara dan sehelai saputangan berwarna pink.

Si musafir hanya bisa memandangi wajah Sri Setyoningati yang tersenyum dalam matinya. Begitulah akhir dari elegi seorang Sri Setyoningati.

 

* * *

 

Catatan:

Pada dasarnya cerita ini dibuat dengan semangat penuh komedi, kelakar bahkan sedikit mengada-ada. Namun saat digubah ke dalam bentuk lagu oleh G.A. Rella Mart, menjadi terdengar sendu dan sedikit mencekam. Lagunya sendiri ia beri judul “Dia Terbunuh“. Bukan Sri Setyoningati lagi.

 

Lagu “Dia Terbunuh” dimasukan G.A. Rella Mart ke dalam album yang sedang digarapnya bersama 6 lagu lainnya. Semua proses rekaman, baik musik serta vokal, telah selesai dilakukan, tinggal pengambilan suara biola yang masih belum rampung. Semoga awal tahun 2007 sudah siap untuk diedarkan.

 

Jika semua ini telah lagi rampung, cerita Sri Setyoningati akan kami bikin dalam format film pendek. Setingnya setelah disurvey sana-sini, maka terpilihlah sebuah rumah di kota Pasuruan Jawa Timur sana. Cukup tua, mencekam, juga sedikit konyol.

 

Semoga bila suatu hari kelak Kembara mendengar salah sebuah lagu dari album itu atau melihat film pendek konyol itu, ia akan teringat pada kekasihnya: Sri Setyoningati, yang telah lagi mati dalam penungguannya.

 

Oalah Sri… Sri…

 

* * * 

 

Catatan Susulan:

Akhirnya album G.A. Rella Mart yang tertajuk Sunyi Siang Hari diluncurkan pada hari Senin 30 April 2007 di Balai Pemuda, Surabaya, Jawa Timur. -Selamat ya, Hun!

This entry was posted in Cerpen and tagged . Bookmark the permalink.

2 Responses to Sri Setyoningati

  1. rahmat says:

    Malka, Aku senang dengan cerita Setyoningsih ini. Sesuai dengan namanya dia tetap setia menunggu kekasih yang mengembara. Sebesar apa kesetiaannya? Bisa distudi Dewi Sekartaji yang tetap tidak mau menjual murah dirinya kepada Yuyu Kangkang peminat pipi Klenting Kuning untuk disengok. Tadi malam, aksudku Rabu malam, ada filem sinetron Cina yang amat bagus dari segi cerita, setting serta pemotretan. Sinetron tersebut diambil pada waktu Jepang menduduki daratan Cina jauh sebelum Perang Dunia II. Seorang gadis remaja jatuh cinta, sepihak, kepada seorang penulis separo baya. Dia, setelah lulus universitas, bertemu kembali dengan idolanya tsb. Dia menyerahkan dirinya kepada sang idola. Habis itu sang idola minggat. Si gadis melahirkan, memelihara anaknya, sampai anak tersebut mati, pernah ketemu lagi kepada sang kekasih yang sebenarnya don juan. Sutradara/pengarang membuat sang idola seperti dulu pernah ketemu si gadis (di situ sudah jadi wanita matang, jadi wanita panggilan). Lalu pisah lagi. Sang idola menerima surat dari sang wanita. Dia menyebutkan di dalam surat kalau dia tetap setia kepada sang idola, walau anaknya sampai mati. Begitu, RA.

    Posted by: rahmat | January 17, 2007 08:57 PM

    Terima kasih Pak R.A.
    Hingga kini kami masih terus mencari gerangan di mana sang Kembara, kekasih Sri Setyoningati itu berada.
    Salam,
    -DM-

  2. ' Atikha ' says:

    Wow..
    great story bro (^_^)v

    penuh filosofi tp mampu menghadirkan keluguan dan kepolosan jd teringat film2 indi yg pernah diputer di kampus tika dulu seperti “Van Hook Joko” dan “Mayang..” — duh lupa yg satu ini..

    Ditunggu crita2 lainnya.. :)

    Posted by: ‘ Atikha ‘ | January 5, 2007 10:16 PM

    Huehehe! Thanx ya, Tika.
    Ini sebetulnya cerita sahibul hikayat saja. Sudah dilisankan sejak Juli 2005. Dilengkapi lagi ya saat di Surabaya kemarin. Tapi baru ditekskan awal 2007 ini. Selain dibuat dalam bentuk cerita, juga dilengkapi dalam bentuk lagu dan film.
    Walah, dari Jember tho kamu. Arek Smasa rupanya… :)
    (maksudnya Smusa! ;p)
    -DM-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>