Archive for February, 2007

J.J.J. (Jesse “Jazz” Jessica)

jazz.jpgCerpen Daniel Mahendra

Jesse muda, dinamis, dan disukai teman-temannya. Ia tak begitu cantik, jauh dari seksi, tapi untuk ukuran perempuan ia cukup sedap dipandang mata.

 

Namanya Jesse. Jesse namanya. Teman-teman memanggilnya Jazzy. Karena ia mudah terbius oleh musik jazz. Terkadang teman-temannya kerap berolok: Jazzy mengidap jazz akut. Bahkan sudah mencapai stadium 4. Karena Jazz bagi Jazzy adalah nadi, nafas, dan nalurinya. Setiap langkahnya selalu diiringi musik jazz. Intuisinya berdasarkan jazz. Cara berpikirnya sangat nge-jazz. Jazz baginya sudah seperti cara pandang dalam menjalani hidup. Semua boleh asyik sendiri-sendiri, namun tetap padu dalam kesatuan yang harmonis.

 

 

Continue Reading »

Gone Too Soon

rabiah_aladawiyah.jpg

“Tuhan, jika aku menyembahMu karena takut nerakaMu, maka bukalah lebar-lebar nerakaMu. Dan jika aku menyembahMu karena mengharapkan surgaMu, maka tutuplah pintunya rapat-rapat. Aku menyembahMu karena aku mencintaiMu semata-mata dan tidak kepada yang lain. Maka biarkan aku menatapMu penuh cinta.” (Rabiah al-Adawiyah)

Kali pertama diajak singgah ke rumahnya, terus terang saja aku sedikit ragu. Bukan apa-apa, aku belum lagi lama kenal. Baru beberapa kali bertemu. Itu pun sekadar senyum-senyum ramah sebatas bersapa.

Continue Reading »

Money

dollarburn_1.jpg

Dulu waktu masih kuliah, Sukimin selalu turun ke jalan dan berdiri di barisan terdepan aksi-aksi yang banyak digelar oleh mahasiswa. Isunya tentu bisa macam-macam. Dari mulai demo kenaikan biaya kuliah, penertiban pedagang di trotoar kampus, kinerja walikota, korupsi gubernur sampai mentalitet anggota DPRD.

Sukimin tau, semua itu ia lakukan untuk melatih dirinya agar berani mengeluarkan pendapat, berhadapan dengan aparat, menyuarakan kalangan yang (dianggap) tertindas, memimpin barisan aksi sampai pemenuhan jam terbang turun ke jalan.

Continue Reading »

Demam Supriyanto

Cerpen Daniel Mahendra

Pengadilan Negeri Tingkat I kota K. mengeluarkan keputusan melarang Supriyanto untuk melanjutkan profesinya sebagai pengarang. Supriyanto tentu saja terhenyak. Ia menganggap keputusan hakim tak jelas serta tak beralasan samasekali. Ia beranggapan hakim samasekali tak paham soal profesi seorang pengarang. Melalui kuasa hukumnya Supriyanto berniat malakukan banding.

Ya, dalam beberapa tahun kebelakang ini Supriyanto memang tiba-tiba menjadi pengarang yang produktif, kaya dan terkenal. Buku-bukunya banyak diminati pembaca. Dicetak ulang berkali-kali, diangkat ke layar lebar, dijadikan serial TV, dan Suprianto kebanjiran permintaan wawancara dari banyak media. Continue Reading »

Amara

Sejak kecil Amara selalu didongengi oleh papa. Baik menjelang tidur siang, tidur malam, maupun di sore hari sembari berangin-angin di teras rumah.

Amara sangat suka dengan dongeng papa. Karena ceritanya dapat membawa fantasi Amara mengembara ke negeri-negeri yang ada dalam dongeng itu.

Kalau papa pulang kerja, Amara sudah berlari menyambutnya di teras rumah sambil berteriak dan meloncat-loncat girang: “Ayo Pa… Cepat Pa… Dongengi Ara lagi, Pa…” Dan Papa hanya tersenyum senang mendapati putri cantiknya menyambut seperti itu. Continue Reading »

Next Page »