(Seorang murid bertanya), “Guru, bagaimana cara menghindari pikiran, sehingga tidak gampang tergoda?
Yesus menjawab, “Ada dua hal yang penting. Pertama, melatih diri. Kedua, belajar untuk berbicara sedikit…”-The Gospel of Barnabas.
Bertemu kawan lama memang mengembirakan. Apalagi jika lama tak bertemu. Tapi jika yang keluar dari mulutnya hal yang itu-itu juga, tentu kegembiraan itu berangsur menjadi sesuatu yang membosankan.
Ketika pada suatu kesempatan hadir di sebuah perhelatan pernikahan seorang kawan di kota Tjnr, suasananya tentu membahagiakan. Banyak bertemu kawan lama di sana. Aku yang datang belakangan mendapati mereka sudah berleha-leha menikmati sisa acara. Tamu tinggal sedikit. Acara sudah sangat longgar serta tak lagi kutemui suasana kaku yang banyak kurasakan di acara-acara pernikahan. Bahkan kawanku yang pengantin pria kulihat sedang santai bersantap di meja makan dengan seorang perempuan yang kini telah menjadi istrinya.
“Serius ini pernikahan kamu?” tukasku sembari memeluknya tanda ucapan selamat.
“Enggak. Ini teater realis!” jawabnya tak kalah sableng.
Tak berapa lama kudengar suara-suara memanggilku dari kejauhan. Beberapa melambaikan tangan. Ternyata di ujung gedung tampak berpuluh kawanku sedang menggerombol santai. Langsung kuhampiri mereka.
“Ini Bandung apa Tjnr sih? Pada ngumpul di sini semua…”
“CCF* pindah ke sini, Dan!” jawab seorang kawanku ngakak.
Sajian santap siang di meja hidangan membuatku tak berselera. Memang, menu makan di acara pernikahan hampir tak jauh-jauh beda pada umumnya. Selain tak begitu lapar, aku memilih tak makan demi melihat berbagai sajian hewani tergolek di nampan-nampan saji.
“Makan dulu sana…” seorang kawan menyuruhku.
“Males ah.”
“Ya sudah… kalo’ gitu kapan nyusul nikah juga…” ujar kawanku yang lain berseloroh.
“Walah… hari gini masih mikir nikah.” jawabku tak kalah berkelakar.
“Woi, kualat kamu!”
“Hehehe! Ya speak your self, please. Jangan hanya bisa nganjurin temen buru-buru nikah dong!”
Dan tawa gerombolan kawan lama (bukan gerombolan si berat seperti di komik Donal Bebek!) itu pun meledak, membuat suasana makin akrab dan mesra. Masing-masing dari mereka memang ada yang datang bersama istri, suami bahkan anak-anak mereka pun ada yang turut serta. Saling tukar cerita ditingkahi bumbu-bumbu kenangan lama. Jadinya ini lebih mirip acara reunian ketimbang perhelatan sebuah pernikahan.
Di sinilah kutemui seorang kawan lama yang sudah tahunan lamanya tak berjumpa. Aku memilih duduk di sebelahnya.
“Sehat, Al?” tanyaku sembari mulai mengeluarkan filter.
“Alhamdulillah. Kamu gimana, Dan?”
“Hari ini, ya seperti yang kamu lihat. Entah besok.”
“Cara bicaramu selalu terbagi antara past, present dan future. Nggak berubah!”
“Hahaha!” aku hanya tertawa. “Lho, Esti nggak ikut?”
“Kebetulan nggak ikut. Oya, dia sedang isi tiga bulan, Dan.”
“Oya?! Wah, selamat Al! Gimana rasanya? Pasti seneng banget kamu.”
“Iya, Dan. Tahun ini aku bakal jadi bapak.” Aura kebahagiaan tampak sekali di wajahnya.
“Terus, sibuk apa kamu sekarang?”
“Masih sama, Dan.”
Jawaban ‘masih sama, Dan’ membuatku berpikir dalam hati dan mengingat-ingat: sebetulnya apa ya usaha dia. Kok aku lupa. Tapi kalimat selanjutnya inilah yang membuatku teringat pada hal yang itu-itu juga yang keluar dari mulutnya. Katanya:
“Ternyata setelah aku simpulkan, yang paling aman itu jualan sembako, Dan.”
Ya-ya-ya. Kalimat ini yang nyaris sudah ribuan kali kudengar dari mulutnya sejak tahunan lalu setiap bertemu dengannya. Maka pikiran nakalku sudah menduga bakal kalimat lanjutan apa yang akan terbit dari bibirnya:
“Resikonya nggak besar karena sudah pasti dikonsumsi, barang nggak beli karena dipasok, dan nggak cepat rusak.”
Nah, kan, bener kan. Kenapa orang selalu menceritakan hal-hal yang sama setiap bertemu dengan kawan lamanya. Apa kawanku Al saja yang rada aneh yang selalu menceritakan hal yang itu-itu juga.
Kawanku Al seorang sarjana Planologi. Setelah lulus, ia sempat bekerja di sebuah radio jazz terkenal di kota Bandung. Entah selama berapa tahun, aku lupa. Setelah itu ia mencoba usaha teh. Merknya Wln. Ternyata jalan dan maju. Melihat usahanya ada kemajuan, seperti pada umumnya manusia, ia pun memutuskan menikah.
“Oleh teh Wln aku dikasih VW combi, Dan.”
“Dikasih?”
“Iya, dikasih cuma-cuma, untuk memperlancar usahaku.”
“Hebat juga kamu, sampai dikasih fasilitas begitu.”
“Mungkin mereka percaya sama aku.”
“Lha, itu kan teh. Lalu yang kata kamu sembako?”
“Nah, setelah aku main di teh, aku coba buka kios di pasar Str-sr. Setahun hanya lima juta buat ngontrak tempat. Aku dagang beras, teh sama gula. Udah itu aja. Semua barang ada yang masok. Buka kios dari jam enam sampe jam sembilan. Paling banter jam sepuluh. Udah gitu ya pulang.”
“Hanya pagi hari?”
“Iya, hanya tiga sampai empat jam sehari. Cukup ditemani kopi dan rokok. Tapi hasilnya, Alhamdulillah Dan, kalo’ untuk hidup dengan istri mah, lebih dari cukup, Dan.”
“Nah, gitu usaha tuh… Meski kecil yang penting barokah…” timpal seorang kawan di tentangku. “Nanti ngelempar setan juga penuh cinta…”
“Maksudnya ngelempar setan penuh cinta?” tanyaku.
“Ya dari usaha kecil gitu, siapa tau bisa naik haji. Ntar saat jumroh kan ngelempar setannya penuh cinta karena merasakan betul bisa naik haji dari usaha yang tadinya kecil.”
“Sialan!!” umpatku. Kawan-kawan lain di sekitar yang ikut mendengarkan pun ngakak.
“Kenapa hanya tiga macam yang kamu jual, Al?” sambungku kembali pada Al.
“Supaya nggak ribet aja, Dan. Yang tiga macam itu praktis dikonsumsi kan. Banyak juga sih yang pingin masok segala macam sembako. Tapi kuputuskan tiga aja, dan itu aku rasa stabil banget.”
Olala. Ternyata selama ini dia tak sekadar menceritakan hal yang itu-itu saja. Sebaliknya, aku yang justru tak begitu memperhatikan kalau ia sedang berbicara. Buktinya aku baru tau apa saja jenis dagangannya, baru tau jualan di mana dia, dan baru tau berapa jam dia kerja dalam sehari. Betapa malunya aku menyadari kesombonganku terhadap teman sendiri.
“Berarti waktu kamu banyak lowong dong? Pulang dari pasar tentu kamu optimalkan ke hal lain.”
“Ah enggak, Dan. Justru aku ngerasa enak banget kerja hanya tiga jam, sudah itu yang sudah, santai.”
Jujur saja, jawabannya kurang menyenangkan hatiku. Mustinya ia bisa menggunakan sisa waktunya yang seharian penuh itu untuk usaha lain. Tapi aku tersadar telah dengan semena-mena mengangkat diriku menjadi hakim yang men-judge dalam menilai hidup orang lain. Kenapa juga aku musti tak bersenang hati mendengar jawabannya. Apa hakku.
Ya. Makin kusadari bahwa dia yang selama ini kuanggap bercerita hal yang itu-itu saja, tidak sepenuhnya kupahami benar. Ternyata aku memang tidak pernah menyimak keseluruhan dari cerita-ceritanya selama ini. Meski kuakui cara berceritanya memang membosankan, namun demikian aku sudah berlaku tidak adil terhadap kawan sendiri.
Ya, manusia memang diberi dua telinga dan satu mulut tentu bukan tanpa alasan. Seharusnya kita memang lebih banyak mendengar ketimbang bicara. Betapa banyak hal yang tak kusadari yang sebetulnya berada di sekelilingku.
Aku jadi teringat pada suatu malam ketika aku baru pulang ke rumah pukul 01 dini hari. Dari dalam rumah kudapati pagar depan belum tergembok dan tirai pun belum tertutup. Dari arah garasi aku pun melangkah ke ruang tamu, membuka pintu menuju teras untuk menggembok pagar. Sesampai di teras, aku terkesiap. Ada sesuatu yang menyergapku. Aku berdiri terdiam cukup lama. Apa itu?
Di teras itu kulihat tanaman-tanaman yang tumbuh di halaman tampak begitu segar. Suasananya sejuk ditingkahi gemericik air dari kolam kecil yang berada di sayap kiri halaman. Sayup angin terdengar berkesiur mengggelitik. Betapa rimbunnya teras ini. Dalam keheningan dini hari kurasakan betul suasana nyaman teras ini. Lalu apanya yang aneh?
Baru kusadari, ini bagian rumah yang jarang kudatangi. Jarang kusentuh. Dalam ingatanku, entah bulan apa terakhir aku ke teras ini. Barangkali tahun lalu. Tapi mungkin berlebihan. Januari lalulah. Olala. Betapa aku jarang sekali ke bagian teras di rumah sendiri. Datang-pergi atau keluar-masuk melulu lewat garasi yang letaknya di bawah tanah samping rumah. Sementara bagian depan rumah sendiri tak pernah kusinggahi. Betapa asingnya aku di rumah sendiri. Bukan rumahnya yang asing, tapi akunya saja yang tak begitu perhatian pada lingkungan sekitar.
Jadinya sesiangan itu aku mendengarkan seluruh cerita si Al tentang sembako. Dan kawanku si pengantin pria itu meminta kawan-kawan untuk tak langsung pulang ke Bandung. Ia mengajak kami singgah dulu ke rumahnya. Ada kolam ikan di belakang rumah yang bisa dipancing dan makan sama-sama di sana. Kawan-kawan pun bersorak.
Lalu bagaimana nasibku? Tentu saja ikut bersorak dan beramai-ramai meninggalkan gedung pernikahan menuju rumah si pengantin pria, bersama istri-istri, suami-suami plus anak-anak mereka.
Dan kali ini bukan aku yang semena-mena. Tapi giliran kawanku Al yang dengan tanpa izin telah mengangkat dirinya sebagai mentor kursus sembako terhadap diriku. Karena seharian itu ia dengan menggebu melanjutkan cerita tentang usaha sembakonya. Dan aku hanya harus mendengarkan… mendengarkan… dan mendengarkan…
Olala…
Tjnr, Februari 2007.
* Central Cultural Francaise




…sambil baca , tersenyum – senyum sendiri .. artinya ? seperti juga apa yang kau rasa
Niel…, kapan kawin ?……..