Gone Too Soon
“Tuhan, jika aku menyembahMu karena takut nerakaMu, maka bukalah lebar-lebar nerakaMu. Dan jika aku menyembahMu karena mengharapkan surgaMu, maka tutuplah pintunya rapat-rapat. Aku menyembahMu karena aku mencintaiMu semata-mata dan tidak kepada yang lain. Maka biarkan aku menatapMu penuh cinta.” (Rabiah al-Adawiyah)
Kali pertama diajak singgah ke rumahnya, terus terang saja aku sedikit ragu. Bukan apa-apa, aku belum lagi lama kenal. Baru beberapa kali bertemu. Itu pun sekadar senyum-senyum ramah sebatas bersapa.
Ya, sejak melihat dia, aku jadi keranjingan sholat di mesjid ini. Setiap adzan baru saja dikumandangkan, ia sudah muncul duluan dengan wudhunya. Berbeda denganku yang selalu datang telat dan terburu-buru mengambil wudhu serta menyusul di bagian belakang yang sedikit tersembunyi.
Jujur saja, ada yang menarik dari sosoknya. Bukan karena pemunculannya. Bukan juga karena penampilannya. Tapi karena wajahnya. Wajah tenangnya itu. Wajah yang selalu bersinar. Entah sinar apa, aku sulit menjelaskan. Tapi wajah itu selalu memancarkan cahaya ketulusan, keikhlasan juga kebahagiaan.
Jarang aku bertemu dengan orang yang memancarkan wajah seperti itu. Barangkali aku pun sulit memiliki wajah setenang itu. Wajah orang yang selalu memancarkan keoptimisan dalam memandang hidup. Tidak setiap orang mampu mempunyai wajah seperti miliknya.
Terkadang aku suka mencuri-curi pandang ke arahnya. Untuk sekadar mengagumi wajah tenangnya. Betapa aku iri dengan wajah itu. Tapi setiap kali bertubrukan mata, ia selalu membalasku dengan senyuman, seolah tau apa yang ada di kepalaku.
Maka setiap habis sholat, aku memilih berangin-angin dulu di bagian beranda mesjid ini sembari menunggunya keluar untuk sekadar memandang wajahnya.
Mesjid ini tak begitu besar. Bahkan letaknya seolah menyempil di antara himpitan rumah penduduk. Isinya pun sederhana. Tak banyak dihiasi kaligrafi berbagai rupa. Tapi atmosfirnya menyimpan berjuta ketenangan yang belum tentu dimiliki di sembarang tempat. Ketenangan yang barangkali hanya bisa ditandingi oleh si wajah tenang itu.
“Assalamu’alaikum,” sapanya waktu kali pertama.
“Eh, wa’alaikumsalam.” jawabku tergeragap.
“Mas baru ya di sini?” tanyanya masih dengan senyum ramahnya.
“Oh, emh, saya hanya mampir numpang sholat kok.” jawabku sekenanya. Lagi-lagi ia hanya tersenyum.
“Tapi saya lihat setiap Dzuhur dan Ashar Mas selalu sholat di sini.”
“Ah kebetulan saja…” jawabku berusaha ramah.
“Maaf, saya perhatikan Mas sering melamun. Kenapa Mas?”
Olala, ternyata ia memperhatikanku selama ini. Aku bingung musti menjawab apa. “Mungkin karena mesjid ini membawa atmosfir ketenangan…” jawabku mengada-ada.
“Ketenangan kan adanya di hati, Mas…” ujarnya santun masih dengan senyuman.
Duh, betapa aku iri pada senyum tenangnya itu. Aku tak kuasa membalas kalimatnya.
“Yuk saya duluan, Mas. Assalamu’alaikum.” pamitnya meninggalkanku keluar mesjid.
Aku hanya bisa membalas salamnya. Ah, senyum tenang dan lembut itu. Betapa sejuk senyum itu. Betapa tak berpamrih. Disunggingkan oleh kedua belah bibir dengan begitu ikhlas. Seakan senyumnya laksana doa yang membuat orang tentram ketika melihatnya.
Begitu pun pada keesokan harinya. Lagi-lagi ia menyapaku seusai sholat Ashar.
“Masih melamun, Mas?”
Aku hanya tersenyum mengangguk.
Esoknya kembali ia menghampiriku.
“Sepertinya banyak betul yang sedang Mas pikirkan…”
“Oh, enggak kok Mas. Saya hanya merasa bahagia aja kalau berada di mesjid ini.” jawabku.
“Kebahagiaan kan adanya di hati, Mas…” ia ikut duduk di sebelahku.
Aku tercenung mendengar kalimatnya. “Boleh saya tanya sesuatu, Mas?”
“Apa itu?”
“Maaf, jangan tersinggung ya, Mas.” kataku hati-hati. Ia tetap tersenyum meski dahinya sedikit mengernyit. “Mas selalu tampak bahagia, dan pembawaan Mas selalu tenang. Kalau boleh tau, apa rahasianya, Mas?”
Lagi-lagi ia tersenyum. Senyum yang sungguh mati membuatku iri. “Rahasia? Nggak ada rahasianya, Mas. Seperti kata saya tadi: kebahagiaan itu adanya di hati. Mas nggak perlu mencarinya. Bahkan di mesjid ini. Kalau hati Mas bahagia, di mana pun Mas berada, Mas pasti akan merasa tentram.” Dalam hati aku mengamini penuturannya.
Lelaki ini menarik. Wajahnya tak ganteng-ganteng amat, tapi orang sedap memandangnya. Pemunculannya bersih dengan pakaian sederhana. Rambutnya terpangkas rapi tampak berwibawa. Aura ketenangan memancar dari matanya.
Sesorean itu aku jadi berbincang dengannya. Kata-katanya santun serta lembut seperti pohon yang indah. Akarnya kokoh menghujam ke dalam bumi dan dahannya menjulang ke angkasa. Tutur bahasanya laksana pohon yang selalu berbuah sepanjang musim*. Ia banyak menyodorkan pokok pembicaraan tanpa terdengar menggurui.
“Nama saya Badrut Tamam.” tukasnya menyorongkan tangan. Kusambut tangan itu. Genggamannya kokoh namun ada kehangatan luar biasa yang belum pernah kurasakan pada tangan seorang perempuan sekalipun.
“Nama Mas bagus sekali.” pujiku.
“Mas tau artinya?”
“Bulan purnama?”
“Betul. Panggil saja saya Tamam. Boleh saya tau nama Mas?”
Dan aku menyebutkan namaku.
“Oya, besok seusai sholat Dzuhur, Mas ada acara?” tanyanya.
“Kenapa memangnya Mas?”
“Kalau suka, aku ingin mengundang Mas mampir ke rumahku. Hanya sebuah paviliun kecil Mas. Tapi kujamin Mas pasti suka di sana.”
“Begitu ya. InsyaAllah deh Mas.”
Dan ia pun pamit pulang.
Keesokan harinya, seusai sholat Dzuhur, ia menghampiriku dengan senyuman, “Bagaimana, Mas?”
“Hari Sabtu kantor hanya sampai setengah hari kok.”
“Ah, sudah kuduga. Kalau begitu, mari.”
Dan aku hanya manda mengikutinya.
Ternyata letak rumahnya hanya beberapa meter saja dari arah barat daya mesjid. Menyeberangi jalan besar, melewati beberapa ruas gang dan akhirnya memasuki sebuah halaman sempit di mana terdapat berderet paviliun dalam balutan bangunan tua.
Tak ada tanaman di halaman sempit itu selain rumput-rumput muda yang tampak baru dipangkas. Ada sebuah lahan kecil yang dipakai sebagai tempat menjemur pakaian. Sampailah kami di pintu paviliun nomor dua. Ia mengajakku masuk.
Paviliunnya kecil saja. Berupa bangunan memanjang yang terdiri dari ruang depan, ruang tengah yang berfungsi sebagai kamar tidur, sebuah dapur mungil serta kamar mandi sempit di bagian belakang. Tak ada barang istimewa di paviliun ini selain seperangkat komputer tua dan mesin printer yang teronggok di sampingnya. Selebihnya ribuan buku yang terjejer rapi di rak yang menjulang sampai langit-langit ruangan. Kemana pun arah mata memandang, tak ada tembok yang tersisa kecuali melulu buku bertengger di sana. Mau tak mau aku terpana dan seperti anak macan yang menemukan mangsa buruan, aku menggeram-geram menggerayangi ribuan judul buku yang seolah minta untuk segera dilahap.
“Betul kan, Mas pasti suka di sini.” ujarnya tersenyum.
“Banyak sekali bukunya, Mas.”
“Kalau suka Mas boleh baca sepuasnya.”
“Boleh saya tau apa kerja Mas?”
“Saya? Saya hanya seorang penerjemah naskah-naskah asing, Mas. Terkadang ngedit juga kalau ada yang minta.”
“Freelance?“
“Ya. Rejeki kan sudah ada yang ngatur, Mas. Kalau kita selalu berusaha, rejeki selalu muncul di depan mata. Bukan begitu, Mas?”
Aku hanya tersenyum mengiyakan.
Ia meninggalkanku di ruang depan. Mencoba membiarkanku menikmati harta karunnya.
Tak berapa lama ia muncul kembali dari dalam. “Mas pasti belum makan?”
Kali ini aku nyengir.
“Mas suka masak? Ah, orang seperti Mas pasti suka masak.” tebaknya.
“Lho, kenapa Mas bisa bilang seperti itu?”
“Ah, hanya menebak saja. Seperti tebakan saya bahwa Mas pasti suka dengan ribuan buku di sini. Nyatanya benar kan.”
Lagi-lagi aku nyengir. “Ya, boleh dicoba, Mas.”
“Kalau Mas nggak keberatan, bagaimana kalau kita masak?”
“Sekarang?”
“Saya akan senang sekali kalau Mas sudi makan siang di sini.”
Dalam hati aku berteriak girang. Dari pagi aku memang belum makan. Menarik juga lelaki ini, batinku. Baru kenal sekelebatan saja sudah diajaknya aku masak di rumahnya.
Tak lama kami pun berjibaku di dapurnya yang mungil, atau lebih tepatnya sempit. Ia mencuci sayur sementara aku meracik bumbu. Makan siang kali ini berupa sayur asem, tempe goreng serta ikan asin plus sambal tomat. Hmm, air liurku sudah mulai meronta.
“Mas bisa ngulek?” tukasnya heran melihatku mulai menghajar bawah merah.
“Ah, kalau sekadar ngulek siapa pun bisa atuh, Mas.”
“Jarang ada laki-laki suka ngulek, Mas.”
“Walah, tukang pecel lele di pinggir-pinggir jalan itu rata-rata laki-laki lho, Mas. Dan semua dari mereka pintar ngulek. Nggak ada yang aneh.”
“Sudah kuduga…”
“Sudah kuduga? Maksud Mas?”
Tapi ia hanya tersenyum.
Kini tempe goreng sudah tersaji, harum ikan asin mulai menggoda, sambal tomat pun sudah minta disapa. Tinggal menunggu nasi dan sayur asem matang. Kami pun kembali ke ruang depan. Aku masih saja tergiur dengan ribuan bukunya itu.
“Boleh saya merokok, Mas?” tanyaku.
“Oh, silahkan.”
“Saya tau Mas nggak merokok, jadi saya minta izin dulu.”
“Nggak pa-pa, Mas. Saya juga dulu merokok. Tapi sudah berhenti. Mas pun nanti akan berhenti.”
“Saya? Berhenti?”
“Ya. Mas akan berhenti merokok.”
“Lho, kenapa bisa begitu?”
“Nanti pada saat Mas berhenti merokok, Mas pasti ingat saya. Tapi kalau tak ingat pun tak apa. Namun saya senang kalau pada akhirnya Mas berhenti merokok.”
Aku jadi semakin heran dengan lelaki satu ini. Ia bisa menebakku suka buku, senang masak dan sekarang menebakku kelak akan berhenti merokok. Jangan-jangan sebentar lagi ia akan mengatakan bahwa bulan depan aku akan menikah pula. Walah, ada-ada saja!
“Kenapa Mas suka melamun di mesjid, Mas?” tiba-tiba ia bertanya hal itu lagi. Aku bingung musti menjawab apa. “Sepertinya begitu banyak yang menggantung di kepala Mas. Begitu banyak yang Mas pikirkan. Berbagi Mas. Jangan dipikul seorang diri.” lanjutnya lagi. “Mungkin saya berlebihan, tapi hidup terlalu singkat untuk dilewatkan seorang diri, Mas. Maaf, bukannya saya sok menasehati, tapi sepertinya Mas memang suka menyendiri. Bermain dengan pikiran sendiri. Kenapa Mas? Apakah Mas tidak bahagia?” tanyanya dengan senyum yang teramat menentramkan.
“Saya bahagia kok Mas. Saya bersyukur dengan apa yang terjadi pada diri saya sampai hari ini.” kilahku menutupi agar ia tak terus memasuki pendalamanku.
“Ya, Mas memang tipe orang yang mudah menerima.” Aku hanya diam saja. “Jangan sia-siakan kehidupan yang indah ini, Mas. Bukankah setiap musibah yang mampir pada kita merupakan penghapus dosa. Bukankah setiap malam usai akan berganti pagi. Bukankah setiap gelap akan beranjak terang.” ia seperti tak mau menyerah untuk mengejarku.
Aku hanya terpana mendengarkan kalimatnya. Suaranya yang lembut bagaikan kasih seorang ibu yang tak pernah habis diguyurkan. Mengucur deras di kesejukan fajar. Kemudian ia kembali melanjutkan.
“Lupakan masa lalu, Mas.”
“Maksud Mas?” tanyaku kaget.
“Kubur, Mas. Kubur. Simpan dalam peti pikiran. Ikat kuat-kuat agar tak teringat lagi. Masa lalu tidak akan pernah kembali. Jangan jadi orang merugi, Mas. Mari hadapi hari ini. Mas akan gila kalau terus membawa rasa itu kemana pun Mas pergi. Cukupkan Mas, cukupkan. Percayalah Mas, demi Allah, Mas berhak bahagia.”
“Mas, Mas ini bicara apa?” tanyaku memotong pembicaraannya.
Tapi ia hanya tersenyum. “Ah, sepertinya nasi kita sudah matang.” ujarnya beranjak ke dapur.
Aku yang berada di ruang depan hanya ternganga mencerna omongannya. Tak lama aku pun menyusul ke dapur. Dan pesta makan siang pun dimulai.
Nasi yang mengepul, ditingkahi aroma sayur asam, sobekan tempe goreng, harum ikan asin dan godaan sambal tomat mulai berpiknik memasuki mulut, tenggorakan dan terus bertamasya ke perut.
“Lho, ikan asinnya Mas? Nggak doyan?”
“Maaf Mas, bukan nggak doyan, sangat suka malah. Tapi saya nggak makan hewani.”
“Vegetarian?”
Aku hanya tersenyum.
“Jangan menafikan apa yang dihalalkan Allah, Mas.” tukasnya.
“Oh, maaf, saya tidak mengharamkan, Mas. Sungguh. Saya hanya memilih tidak mengkonsumsinya.” Dan ia hanya tersenyum.
Usai makan, aku pun kembali menyulut rokok.
“Mas,” panggilnya. “Kalau boleh tanya, apa ada doa Mas yang Mas rasa tidak dikabulkan Allah?” tanyanya tetap dengan senyum yang menentramkan.
Aku mengernyitkan dahi. Terdiam lama sambil menatap matanya. “Wah, saya nggak mau berprasangka pada Allah, Mas. Seingat saya, kalau saya punya keinginan, selalu ditunjukkan jalannya oleh Allah. Memangnya kenapa Mas?”
Kulihat ia tersenyum penuh arti. “Kenapa hanya berdoa saat punya keinginan saja, Mas? Teruslah mendekatkan diri dengan doa. Bukankah setiap Mas menginginkan sesuatu selalu ditunjukkan jalannya oleh Allah.” Lagi-lagi aku hanya diam saja mendengarkan. “Mas nggak sendirian, Mas. Sebetulnya begitu banyak orang yang ada di sekitar Mas. Mas termasuk orang yang banyak disayangi teman. Bukankah saat Mas dirundung duka begitu banyak kawan yang tiba-tiba menghampiri Mas?”
“Lho, iya Mas. Kok Mas tau?” kaget juga aku.
“Itu tandanya Mas memang disayangi banyak teman. Teman-teman Mas tidak perlu Mas ceritakan kalau Mas sedang bersedih. Mereka akan tau dengan sendirinya.”
“Iya, kenapa bisa begitu, Mas? Kok Mas bisa tau?”
“Terus berdoa, Mas. Mas memang berhak bahagia.”
Lelaki usia 35an dengan senyum menentramkan ini bukan saja telah menawan hati, tapi lebih dari itu, sudah membuatku terbata-bata dengan segala penuturannya.
Tiba-tiba, “Sudah mau masuk waktu Ashar, Mas. Yuk kita ke mesjid.” ajaknya.
Aku yang masih belum puas dengan penuturannya lagi-lagi hanya bisa manda mengikutinya.
Sesampai di mesjid, seperti biasa aku mengambil tempat di belakang dan sedikit tersembunyi. Usai sholat, tak lagi kulihat ia. Mungkin sudah pulang. Dan aku pun beringsut meninggalkan mesjid.
Lusanya, baik Dzuhur maupun Ashar tak kutemui lelaki yang selalu menyapaku dengan senyum menentramkan itu. Ah, barangkali ia memang sedang berhalangan sholat berjama’ah di mesjid ini.
Namun esoknya, esoknya dan esoknya lagi aku samasekali tak pernah melihatnya. Aku jadi bertanya-tanya, gerangan kemana dia. Tiba-tiba ada rasa kehilangan yang menyelusup di dada. Ya, sudah seminggu aku tak mendapatkan senyum tenangnya itu.
Ada keinginan untuk mendatangi paviliunnya. Tapi kuurungkan. Barangkali ia sedang keluar kota. Namun dua minggu telah berlalu, ia betul-betul tak pernah terlihat lagi di mesjid ini. Aku jadi penasaran. Jangan-jangan ia sakit. Aku betul merasa kehilangan kali ini.
Maka sehabis sholat Ashar, kaki menyeretku ke arah paviliunnya. Jalannya tak sulit untuk diingat. Pagar halaman sempit tak bertanaman itu kubuka. kuketuk pintu paviliun nomor dua. Tetapi seorang ibu empatpuluhan yang keluar dari balik pintu.
“Maaf Bu, mas Tamam ada?”
“Mas Tamam?”
“Iya, mas Tamam yang tinggal di paviliun ini?”
“Nggak ada yang namanya Tamam di sini, Mas.”
“Lho?” kaget juga aku mendengar jawaban si ibu. “Mas Tamam yang tinggal di paviliun nomor dua ini, Bu. Saya pernah kemari.” ujarku dengan hati terkesiap.
“Maaf Mas, mungkin Mas salah alamat. Nggak ada yang namanya Tamam tinggal di rumah ini. Saya sudah bertahun-tahun tinggal di sini dan saya nggak pernah mendengar nama Tamam di sekitar sini.”
Aku tercekat. Jantungku berdegup kencang. Kurasakan aliran keringat mulai menyeberangi punggungku. Kutengok ruang depan itu memang tidak dipenuhi ribuan buku seperti yang kulihat dua minggu lalu. Keadaannya memang jauh berbeda. Tapi Tidak mungkin!! Tidak mungkin!! Aku pernah masuk dan masak dan makan di paviliun ini. Tidak mungkin!! teriakku dalam hati.
“Mungkin Mas salah alamat.” imbuh si ibu.
“Tapi Bu,”
“Saya sudah bertahun-tahun menempati paviliun ini, Mas. Bersama suami dan anak saya.”
Aku hanya ternganga. Tidak mungkin!! Tidak mungkin ini terjadi!!
“Mas… Mas…” panggil si ibu.
Akhirnya aku kembali menguasai diriku. “Eh, oh, ya sudah Bu. Terima kasih. Maaf sudah mengganggu.” tukasku langsung ngeloyor keluar halaman.
Kupandangi sekali lagi paviliun itu. Kuingat betul letak dan bentuknya, dan kuyakin sekali aku pernah kemari. Tiba-tiba kurasakan leherku mulai meremang. Cepat-cepat aku beringsut.
Di sepanjang gang menuju jalan besar kurasakan kakiku berat dan jalanku limbung. Aku masih belum percaya ini terjadi pada diriku. Tidak mungkin!! Tidak mungkin!! teriakku dalam hati.
Sesampai di jalan besar aku masih tidak tau musti kemana. Pikiranku tak menentu. Nafasku berkejaran. Aku berlari ke mesjid. Tak kutemui siapa-siapa di sana. Aku bergeser ke berada mesjid. Memperhatikan orang-orang yang lalu-lalang di jalanan. Tak seorang pun kukenal.
Kutanyai setiap orang yang kebetulan lewat, tapi jawabannya selalu sama: “Lelaki dengan senyum tenang? Maksudnya?”
Aku jadi terduduk lemas di teras. Ini gila!! pikirku. Apa aku sudah tak waras? Apa yang sedang kualami? Siapa Badrut Tamam itu? Kenapa tiba-tiba menghilang? Kenapa tiba-tiba tak ada yang mengenalnya? Kenapa hanya aku yang pernah menjumpainya? Tidak mungkin!! Tidak mungkin!! batinku memprotes. Kalau ini hanya terjadi di novel-novel picisan, aku tak heran. Tapi ini, tidak mungkin!! Tidak mungkin!!
Kusulut sebatang rokok. Namun baru satu hisapan, sudah kubuang ke pinggir jalan. Rasanya tak karuan. Seolah aku telah lupa bagaimana nikmatnya merokok. Tiba-tiba aku jadi enggan menyentuh rokok.
Hingga sebulan telah berlalu, di mesjid itu tak pernah lagi kutemui lelaki dengan senyum menentramkan, menenangkan dan menyejukkan itu.
like a castle, built upon a sandy beach
like the loss of sunlight, on a cloudy afternoon
like a sunset, dying the rising of the moon
like a comet, blazing ‘cross the evening sky
gone too soon…
* QS. Ibrahim: 22-26.


