penganyamkata.net
current   |   rss

Dengan Bahasa Apa Anda Berpikir?

Published March 16, 2007

Apa jawaban Anda jika mendapat pertanyaan: dengan bahasa apa Anda berpikir? Pernahkah terpikirkan hal itu? Dalam percakapan sehari-hari kita biasa menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa daerah atau bahasa asing untuk keperluan tertentu. Tapi, dengan bahasa apa kita berpikir? Dalam bahasa Indonesia, bahasa daerah, atau bahasa asing?

Hal ini tentu mengacu pada pola kebiasaan dalam lingkup keluarga hingga lingkungan kita. Sehingga saat berpikir (seperti saat kita berbicara dalam hati) menggunakan bahasa yang merupakan manifestasi dari pola-pola yang berlangsung sejak kecil, kebiasaan dalam keluarga, juga lingkungan yang kental mempengaruhi.

Sebagai seseorang yang terlahir dari ibu asal Semarang dan ayah Palembang ternyata tidak satu pun bahasa daerah dari keduanya kami gunakan dalam percakapan keseharian di rumah. Sejak kecil (tanpa kesepakatan baik lisan maupun tulisan) kami dengan tanpa sadar memilih bahasa Indonesia sebagai bahasa komunikasi di rumah.

Bahasa Indonesia memang lebih simpel, tak mengandung hierarkis, meski kuakui tak banyak kosakata yang dapat mewakili dalam menggambarkan atau mendeskripsikan sesuatu (bahasa dearah kunilai lebih kaya). Bahasa Indonesia, sepakat atau tidak sepakat, memang merupakan belang-bonteng campuran dari berbagai bahasa. Mulai bahasa Melayu sebagai bahasa dasar, bahasa daerah, bahasa Belanda, bahasa Inggris, bahasa Arab, serta beberapa bahasa asing lainnya yang tak seberapa banyak. Semua itu melebur menjadi bahasa yang sepakat dinamai bahasa Indonesia.

Ketika kali pertama tinggal di Bandung pada tahun 1980 hingga 1989, praktis bahasa Sunda masuk dalam pergaulanku dan menjadi bahasa sehari-hari dengan teman-teman. Ketika pada tahun 1989 hingga 1993 tinggal di Jember Jawa Timur, praktis bahasa Jawa (bahasa Jawa khas Jawa Timuran) dan bahasa Madura mulai kugunakan.

Bahasa Inggris sendiri mulai kukenal sejak SD. Sementara saat di SMA mulai berkenalan dengan bahasa Prancis. Ketika tahun 1993 kembali lagi ke Bandung untuk melanjutkan kuliah, praktis kembali aku menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa pergaulan keseharian. Meski sejak tahun 2003, dengan sadar aku mencoba membiasakan menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pergaulan. Karena itulah satu-satunya bahasa yang kukenal paling praktis untuk keseharian yang tak mengandung hierarkis strata sama sekali.

Aku terkadang malu dan jengah jika menggunakan bahasa Sunda dengan seseorang (yang kebetulan secara usia lebih tua) yang ternyata menurut strata bahasa, beberapa kata-kata yang kuucapkan termasuk dalam tingkatan “kasar” (meski tak kasar-kasar amat). Misalnya, saat aku menanyakan “Geus dahar can?” (sudah makan belum?), lalu dijawab oleh lawan bicaraku “atos atau “parantos tuang tadi” (sudah makan tadi). Bagaimana tidak jengah jika lawan bicara (yang kebetulan lebih tua, meski teman sendiri) menjawab pertanyaanku dengan bahasa Sunda yang lemes (halus). Saat seperti itu baru aku menyadari: aku masih belum sepenuhnya bisa menggunakan mana bahasa Sunda yang lemes dan mana yang kasar pada seseorang.

Dengan demikian kita musti menakar: dengan siapa kita berbicara. Siapa lawan bicara kita. Karena itu menentukan tingkatan bahasa yang musti kita gunakan. Atau terkadang aku kerap merasa risih jika di jalan bertemu dengan tukang minyak keliling, tukang sampah, tukang babat rumput atau satpam di komplek rumah yang menggunakan bahasa Sunda lemes terhadapku. Memang terdengar indah dan santun. Tapi diri merasa dibuai-buai. Padahal apa hakku menuntut seseorang menggunakan bahasa dengan strata lebih tinggi terhadapku. Bukankah diri tidak lantas lebih mulia dibanding tukang minyak, tukang sampah, tukang babat rumput atau satpam kan. Strata sosial? Halah! Maka bahasa Indonesia kunilai lebih netral dan praktis. Karena yang kita hadapi adalah manusia, bukan tingkatan sosialnya.

Ayah dan ibuku selalu menggunakan bahasa Jawa dalam berkomunikasi di antara mereka. Namun menggunakan bahasa Indonesia terhadap anak-anaknya. Sejak kembali tinggal di Bandung, karena terbiasa menggunakan bahasa Jawa dalam pergaulan sehari-hari saat tinggal di Jawa Timur, praktis aku menjadi satu-satunya anak yang menggunakan bahasa Jawa terhadap ibu. Sementara dengan almarhum ayah tetap menggunakan bahasa Indonesia. Almarhum kakakku sendiri tak bisa menggunakan bahasa Jawa. Apalagi adikku. Sebabnya, aku tak tau.

Dengan beberapa saudara sepupu dari pihak ayah, aku kerap mengunakan bahasa Palembang yang tak sepenuhnya kukuasai. Tapi jangan salah, bahasa Jawa yang kugunakan terhadap ibu tidak lantas menggunakan Jawa Kromo. Apalagi Kromo Inggil.

Seperti diketahui, bahasa Jawa, seperti halnya bahasa Sunda, juga terbagi dalam beberapa tingkatan. Yang halus tentu Jawa Kromo. Itu pun masih dibagi lagi dengan Kromo Inggil. Sementara tingkatan yang lebih rendah yaitu Jawa Ngoko. Dengan Jawa Ngoko-lah aku berbahasa dengan ibu. Tapi ibu tak pernah mempersoalkan apakah Jawa-ku Kromo atau Ngoko. Karena bagi kami itu sudah tak penting.

Memang ada kesebalan tersendiri bagiku mendapati betapa strata sosial bisa mengakibatkan penggunakan bahasa dengan tumpukan tingkatan yang berbeda-beda. Orang dengan tingkat sosial tinggi (atau lebih tua) dapat menggunakan Jawa Ngoko terhadap orang dengan tingkat sosial rendah (atau lebih muda). Alhasil, ia bisa mengumpat dalam bahasa Jawa Ngoko seperti: Kurang ajar! Guoblok! Edhan! Gendheng! Asu! Jancuk! dsb. Sementara orang dengan tingkat sosial rendah (atau lebih muda) tidak dapat menggunakan Jawa Ngoko terhadap orang dengan tingkat sosial tinggi (atau lebih tua). Ia jelas musti menggunakan Jawa Kromo.

Sialnya: tak ada padanan atau kosakata umpatan yang bisa dilontarkan orang dengan tingkat sosial rendah (atau lebih muda) terhadap orang dengan tingkat sosial tinggi (atau lebih tua). Kenapa? Karena memang tidak ada kosakatanya dalam Jawa Kromo. Bagaimana mungkin ia akan mengumpat dengan bahasa Jawa halus seperti: “Nuwun sewu, panjenengan segawon nggih!” (Maaf, Anda anjing ya!). Nggak mungkin. Nggak lazim. Aneh. Dan memang terdengar aneh.

Betapa tidak adilnya orang dengan tingkat sosial tinggi (atau lebih tua) bisa mengumpat ke “bawah”, sementara orang dengan tingkat sosial rendah (atau lebih muda) tak bisa mengumpat ke “atas”. Karena memang tak ada kosakatanya. Bukankah mengekspresikan kesebalan atau ketidaksukaan adalah hal yang manusiawi. Yang tak adil adalah: orang “atas” bisa kesal ke “bawah”, sementara orang “bawah” tak bisa kesal ke “atas”. Menyebalkan.

Pada bahasa Indonesia sendiri sebetulnya siapa sih yang betul-betul menggunakan bahasa Indonesia dalam keseharian? Yang kumaksud dengan bahasa Indonesia tentu saja bahasa Indonesia yang baik dan benar. Barangkali sangat jarang kita temui. Barangkali pula nyaris tak ada orang yang betul-betul menggunakan bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari.

Apakah kita akan melontarkan pertanyaan: “Sudahkah kamu makan?” pada seorang kawan kita? Atau kita akan berkata: “Adakah Anda keberatan jika nanti malam datang ke rumahku pada pukul tujuh?” Sangat jarang sekali kita menggunakan struktur bahasa seperti itu. Paling-paling kita akan menyorongkan pertanyaan: “Kamu udah makan?” atau “Kamu keberatan nggak kalo nanti malem dateng ke rumahku jam tujuh?

Memang, tak banyak orang Amerika yang musti bertanya “Where are you going?” pada seorang teman. Mereka cukup melontarkan pertanyaan “Where to?“. Atau memang lebih simpel mengucapkan “Ca va?” ketimbang “Comment allez-vouz?” dalam bahasa Prancis untuk menanyakan kabar saat bertemu teman.

Aku pun suka sebal jika di jalan melihat ada mobil yang kaca belakangnya ditempeli tulisan “DI JUAL. HUBUNGI NO …”. Tak sedikit rumah yang di pagarnya terpampang tulisan “DI JUAL TANPA PERANTARA”. Atau di kamar mandi mesjid, kamar mandi kantor atau kamar mandi tempat makan terpampang tulisan: “HABIS BUANG AIR MOHON DI SIRAM”.

Apanya yang aneh? Memang, semua yang membaca tulisan itu bisa langsung paham maksudnya. Tapi bagaimana dengan cara penulisannya? Tulisan-tulisan itu jelas salah. Orang memang tidak begitu mementingkan apakah kata ‘di’ sebagai kata kerja musti disambung atau dipisah dengan kata berikutnya. Yang penting pesan dan tujuannya sampai serta jelas. Tapi bagiku hal itu cukup mengganggu. Karena nyatanya hal itu menunjukkan bahwa kita tidak betul-betul menguasai penggunakan bahasa sendiri.

Dalam perjalanan kemana pun aku pergi, mataku memang selalu “mengedit” spanduk, poster iklan, billboard, atau pengumuman apa pun yang dapat kutangkap dengan mata. Dan dari semua itu cukup membuatku gatal jika mendapati cara penulisan yang salah.

Yang lebih membikin gatal lagi, kalau aku mendapati cara penulisan SMS yang gila-gilaan dalam menyingkat kata. Terkadang aku memang kerap juga menyingkat kata tertentu saat menulis SMS. Namun itu kulakukan jika karakter font-nya sudah tidak mencukupi untuk masuk dalam hitungan satu kali pengiriman (dalam tingkat SMS dengan pesan biasa-biasa saja). Lagi pula yang kusingkat hanya kata-kata tertentu seperti ‘yang’ menjadi ‘yg’, atau ‘dengan’ menjadi ‘dgn’, atau ‘tidak’ menjadi ‘tdk’. Tapi biasanya itu sangat jarang kulakukan jika tidak kepepet-kepepet benar.

Sejauh karakternya cukup, aku terbiasa menggunakan bahasa Indonesia yang jelas dan benar. Yang paling menyenangkan jika mengirim SMS dengan kadar berita cukup penting, sehingga tidak peduli musti terhitung dalam satu, dua, atau tiga kali pengiriman, karena dengan begitu aku bisa leluasa menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar tanpa menyingkat-nyingkat kata.

Bicara soal penggunaan serta penguasaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, nyatanya hingga saat ini kita tetap menggunakan ‘Indonesia’ sebagai nama negara ini. Padahal ‘Indonesia’ artinya justru: kepulauan India. Apakah tepat nama negara ini dinamakan kepulauan India?

Terkadang aku masih saja suka geli kalau mendengar ungkapan klise: ‘semoga dapat berguna bagi nusa dan bangsa’. Kalau diterjemahkan tentu menjadi: ‘semoga dapat berguna bagi kepulauan dan bangsa’. Terdengar cukup aneh. Padahal Indonesia ini bukanlah sebuah bangsa. Bagaimana mungkin Indonesia dikatakan bangsa, sementara Indonesia terdiri dari berbagai bangsa. Aku lebih sepakat dengan penggunaan istilah ‘nasion’ bagi Indonesia, karena Indonesia memang terdiri dari banyak bangsa yang menyatu. Bukan berdiri sendiri sebagai sebuah bangsa.

Nah, dari semua itu, ternyata hal tersebut memang memengaruhi dengan bahasa apa kita berpikir. Dengan bahasa apa kita berbicara dalam hati. Bisa jadi semua yang keluar lewat mulut kita merupakan refleksi dari bagaimana cara kita berpikir.

Maka, dengan bahasa apa Anda berpikir?

Bandung, 16 Maret 2007, 02.37 am.