Kemal Aku Datang

Ketika hendak pulang dari Malka sekira pukul 00.30 (pakai istilah ‘sekira’ karena menurut Harian Pikiran Rakyat, ‘sekira’ menunjukkan keterangan waktu, sementara ‘sekitar’ menunjukkan keterangan tempat. Halah!), terbersit olehku untuk lewat Jalan Sulanjana Bandung. Karena kabarnya telah seminggu beberapa kawan membuka sebuah kedai di bilangan Dago sana. Iseng-iseng, siapa tau masih buka dan bisa mampir, maka ke sanalah aku.

Seminggu lalu saat pembukaan kedai barunya tersebut aku tak bisa ikut hadir karena masih lagi terkapar pasrah di tempat tidur akibat sakit. Karena belum sempat mampir, maka iseng kuniatkan ke sana. Ternyata pada 00.30 tempat itu memang masih lagi buka. Kulihat beberapa butir kepala masih mecungul. Beberapa kawan wartawan pun kujumpai masih asyik menyeruput kopi.

Begitu memasuki halaman kedai, semua yang ada di sana pun berteriak mendapati kedatanganku. Rupanya isinya masih kawan-kawan sendiri. Inilah menariknya membangun sebuah usaha berbasis komunitas. Nyaris yang hadir ya teman-teman sendiri.

Nama kedainya pun unik: ‘Kemal Aku Datang’. Kependekan dari ‘Kedai Malam Aku Datang’. Buka setiap hari mulai pukul 19.00 s/d 01.00 pagi. Datang pukul 02.00 pagi juga boleh, tapi paling hanya kebagian secangkir kopi sembari menemani pengelola kedai beres-beres dagangan menuju tutup. Hehehe! Namun mereka tutup di hari Senin. “Kenapa?” tanyaku. “I hate Monday!” kilah Roni, salah satu pengelola.

Luas kedainya sedang saja. Tapi nyaman karena terasa rimbun serta penuh keteduhan. Beberapa meja memojok di sisi-sisinya. Ada semacam bar kecil yang tentu saja tak menyuguhkan minuman keras. Tapi cukup asyik untuk menyeruput kopi sembari duduk-duduk menyulut rokok layaknya di bar-bar.

Sejak seminggu lalu kabarnya kedai ini memang ramai dikunjungi wartawan kota Bandung. Bisa dipahami, pengelolanya rata-rata memang mantan wartawan (sorry, kalau kupakai istilah ‘mantan’, karena kalian memang sudah bukan wartawan lagi, haha!). Selain wartawan media umum, kawan-kawan pers mahasiswa juga banyak yang rutin nongkrong di sana. Apalagi kalau bukan si pengelola pun mantan wartawan kampus dulunya! Ha! Selain pengunjung umum, kedai ini pun ramai ditongkrongi gadis-gadis manis nan ceriwis plus kinyis-kinyis anak SMU. Lho, kok bisa?

Ya, kedai yang menempati bagian paling kiri dari keseluruhan bagian rumah itu memang bersebelahan dengan warnet di bagian tengah dan kantor majalah Grey di bagian kanan. Grey sendiri adalah sebuah majalah anak SMU yang cukup diminati di Bandung. Jadi pembacanya yang anak SMU memang kerap nongkrong di sana.

Menu yang mereka tawarkan pun rada sableng. Mereka punya jargon KGB. Namanya memang seperti agen rahasia Rusia. Tapi ternyata itu kependekan dari ‘Kopi Gorengan Bala-bala’. Ada-ada saja! Gorengannya menurut beberapa sumber yang (disangsikan) dapat dipercaya, katanya super uenak. Karena disajikan dengan bumbu kacang.

AdaGoreng Nanas Porsi Santap Sendiri’ juga ada ‘Goreng Nanas Porsi Ramai-Ramai’. Ada ‘Bala-bala Porsi Enak dan Nyaman’ ada pula ‘Bala-bala Porsi Terburu-buru’. Maksudnya? Kalau ‘Bala-bala Porsi Enak dan Nyaman’ dapat dipesan di atas pukul 19.00. Si pengunjung bisa memilih bala-bala menurut seleranya. Mau digoreng kering atau sangat kering, terserah. Suka-suka saja. Sementara ‘Bala-bala Porsi Terburu-buru’ dipesan di bawah pukul 19.00. Kenapa begitu? Karena dijamin si pengelola kedai baru saja membuka kedainya serta masih lagi menyiapkan penggorengan. Sableng!

Minumannya rada unik. Ada kopi Aroma yang khas Bandung serta kopi Aceh. Uniknya, si kopi dituangkan dalam gelas seng. Menurut mereka biar seperti koboi. Cuma menurutku malah seperti minum kopi di dalam rumah tahanan. Hahaha! Ke depan, menu kopi ini menurut mereka akan dilengkapi dengan kopi Sumbawa, kopi Bengkulu, kopi Lampung, atau kopi Medan.

Lebih sableng lagi, ada menu ‘Ramuan Kopi Cinta’. Apa pula ini? Rupanya khusus menu ini bisa disajikan oleh pacar masing-masing. Pacar masing-masing? Ya. Harganya dijamin tetap sama. Syaratnya, menurut Ramdan si pengelola, “Pengunjung musti punya pacar dan tentu saja mengajak pacarnya turut serta kemari” Hahaha! “Khusus menu ini, soal racikan dan rasanya, di luar tanggungjawab kami,” tukasnya berkelakar. Wong edhan! Bikin kopi sendiri atuh ini mah…

“Ada juga Kopi Senggama.” imbuh Ramdan lagi. Walah, apalagi ini? “Ini merupakan campuran dari kopi Aroma, kopi Aceh, kopi Sumbawa, kopi Bengkulu, kopi Lampung, serta kopi Medan, dijadikan satu. Campur.” Halah! Sableng tenan!

Selain sajian standar semacam roti bakar dan mie instan, makanan berat seperti macam-macam soto, seperti Soto Bandung, Soto Betawi, Soto Madura, serta Soto Makasar, pun dihidangkan.

“Moto kami: keinginan untuk memberi lebih. Kami menyebutnya: seni menyentuh hati!” tambah Ramdan percaya diri. Walah-walah…

Nyatanya, hingga pukul 01.30 pagi si kedai tetap saja tak sepi. Beberapa wartawan masih kerasan nongkrong merayapi pagi sembari menyeruput kopi. Karena saat pembukaan aku luput hadir, maka secangkir kopi Aceh dan setumpuk gorengan dalam piring disodorkan padaku secara gratis. Aku pun tak perlu menunggu komando untuk menyikatnya!

Sembari menemani pengelola kedai beres-beres menuju tutup, Gusrak si Ketua AJI Bandung (Aliansi Jurnalis Independen) mulai berkemas pulang. Setelah pamit sana-sini ia pun menyalakan motornya. Mengetahui ia hendak pulang, aku menghampirinya seolah hendak mengantar pulang, namun sontak si kunci motor yang menggantung kusambar dan kubawa masuk kembali ke kedai. Tentu saja ia misuh-misuh karena kutahan pulang. Ujungnya, ia malah merapat curhat padaku. Sekelumit wacana yang menyangkut halaman serta rubrik yang dikelolanya di harian terbesar di Jawa Barat ini ia sodorkan. Kutangkap ada sedikit keluhan di sana. Aku hanya mendengarkan. Jadinya kita malah diskusi soal jurnalisme pada dini hari seperti ini.

Dan betul saja, setelah obrolan yang mampu menahan ia pulang, kembali keluar kalimat yang ia ulang-ulang sejak pertama aku datang. “Jarang ngirim tulisan lagi sih? Aku minta tulisan. Rubrik ‘L’ monoton nih beberapa bulan terakhir ini.” pintanya. Aha! Meski sudah setengah dua pagi, rejeki ada saja menghampiri.

“Iya nih. Aku juga udah kangen ketemu sama si mbak kasir yang bertangan kidal itu.” balasku ngakak mengiyakan (penulis yang tulisannya rajin dimuat di Pikiran Rakyat pasti hapal betul dengan si mbak manis bertangan kidal yang kumaksud. Karena dia memang bertugas membayar honor penulis yang tulisannya dimuat. Hehe!).

“Iya, tapi aku jadi nggak pulang-pulang karena kamu tahan-tahan terus!” umpat Gusrak berkemas. Kami yang ada di kedai pun ngakak.

Kedai pun mulai dibersihkan. Gusrak pun ngeloyor pulang.

Nah, bagi yang berkesempatan berkunjung ke Bandung, dan kebetulan melewati seputaran Dago, jika Anda suka menyeruput kopi, ditemani penganan serta doyan diskusi, mampirlah ke ‘Kedai Malam Aku Datang’ di Jalan Sulanjana No 11. Siapa tau ketagihan.

(Dan kayaknya setiap ke sana aku musti dapat sajian gratis nih, karena tulisan ini disinyalir sudah berbau promosi, hahaha! Sukses ya.)

Bandung, 6 April 2007, 06.40 am.

This entry was posted in Ceritera. Bookmark the permalink.

One Response to Kemal Aku Datang

  1. Alexwebmaster says:

    Hello webmaster
    I would like to share with you a link to your site
    write me here preonrelt@mail.ru

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>