Editor Harus ke Luar Negeri

presse4b1.jpg

Salam edit!

Profesi apa yang paling banyak berpeluang ke luar negeri? Salah satunya, ya editor buku. Alasannya sederhana, even perbukuan seperti book fair ataupun book expo termasuk even yang paling rutin diadakan di dunia ini dan yang dianggap terbesar adalah Frankfurt Book Fair, American Book Expo, termasuk Kairo Book Fair. Selain itu, ada juga yang khusus seperti even buku anak di Bologna Book Fair.

Sahabat-sahabatku para editor, Anda harus punya mimpi untuk ke sana. Saya sendiri baru dua kali ke Frankfurt dan sudah empat kali ke Kuala Lumpur Book Fair (KLBF). Kalau sudah berada di even-even internasional seperti itu, memang kita merasa kecil. Namun, justru kita belajar banyak dari rasa kerdil kita.

Penerbit Indonesia banyak yang memiliki agenda mengunjungi even book fair internasional. Di samping ada yang cuma plesiran, ada juga yang serius mendatangi stan satu per satu yang jumlahnya bisa lima kali lipat dibandingkan even semacam Pesta Buku Jakarta. Nah, para direktur penerbit paling relevan mengajak editor ataupun menugaskan editor untuk melihat-lihat ke sana. Sebagai editor Anda harus punya bargaining position dan memaparkan wacana ke luar negeri ini kepada direktur penerbit. Banyak benefit yang diperoleh selain Anda akan bawa oleh-oleh buku bagus dari luar negeri.

Even yang terdekat adalah KLBF. Pemberangkat dari Indonesia dikoordinasi oleh IKAPI Pusat seharga $375 (tanpa fiskal kalau mendaftar lebih awal). Paling tidak dengan uang Rp4 jutaan cukuplah untuk melawat ke KLBF. Di KLBF banyak stan buku murah terbitan luar negeri, seperti Amerika dan negara-negara Eropa. Saya punya satu toko buku langganan yang dekat dengan lokasi pameran, namanya Big Bookshop. Di toko ini saya sering menemukan buku-buku langka dengan harga sangat miring karena memang bukunya hanya sisa satu-dua. Saya pernah menemukan Da Vinci Code versi bergambar yang diobral dengan sangat murah untuk ukuran kita di sini. Wah, bagi saya ini surga para editor.

Kalau Frankfurt? Biasanya bulan Oktober dan butuh kocek lebih tebal untuk sampai di sana paling tidak Rp30 juta lebih. Luas hall pameran di Frankfurt setara dengan 35x lapangan sepakbola kalau gak salah. Lutut bisa gempor kalau mengelilingi hall ini satu per satu. Yang lebih heran lagi kalau hari terakhir orang-orang pada bawa troli. Eh, ternyata banyak stan yang ditinggalkan begitu saja oleh pemiliknya alias buku-bukunya boleh diambil. Ini juga surga. Dan sstt… menurut sahibul hikayat, orang-orang yang mendapat tempat terhormat di Frankfurt adalah mereka yang berprofesi sebagai penulis dan editor.

Bangganya jadi editor…. Nah, sekarang komporinlah para direktur Anda untuk bisa memberangkatkan Anda. Banyak argumen cerdas mengapa editor harus ke luar negeri! Di MQS sejak 2004 saya sudah memberangkatkan lima orang ke Kuala Lumpur dan tahun ini rencananya tiga orang. Biar editor memang tidak seperti katak di bawah tempurung.

Bambang Trim

Sumber: Milis Forum Editor Indonesia (editorindonesiaforum@yahoogroups.com)

 

This entry was posted in Editologi, Penerbitan and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>