(Handout Pelatihan Terpadu 1)
© Bambang Trim, 2007
Pengantar
Proses pengolahan naskah hingga menjadi buku bukanlah proses sederhana, melainkan melibatkan banyak pihak yang berkepentingan. Setiap penerbit memiliki alur standar dengan tujuan menciptakan sistem yang paling efektif dan efisien dalam proses penerbitan buku. Pada masa depan, persaingan penerbit diperkirakan semakin tinggi, teknologi penerbitan semakin memudahkan setiap penerbit, dan pada ujungnya keunggulan pengembanganlah yang membuat sebuah buku bisa unggul bertarung head to head di pasar bebas.
Penerbit buku di Indonesia pun kini terbagi menjadi tiga bagian: penerbit kecil, penerbit menengah, dan penerbit besar. Setiap jenis penerbit tersebut memiliki kompleksitas yang berbeda. Sebuah penerbit kecil semacam self-publisher bisa saja dikerjakan oleh hanya satu atau dua orang yang merangkap-rangkap pekerjaan. Penerbit besar bisa mempekerjakan tim editorial hingga ratusan orang, bahkan ditambah lagi dengan pengerjaan hingga tiga shift! Artinya, waktu 24 jam benar-benar dimanfaatkan untuk memproduksi sebanyak-banyaknya buku guna mengejar sesingkat-singkatnya deadline.
Penerbit konvensional mungkin hanya berpikir bahwa alur penerbitan adalah sebuah rutinitas biasa tanpa memperhitungkan berapa waktu yang terbuang dan berapa energi yang sia-sia hanya untuk mengerjakan buku yang jelas-jelas kurang laku atau telat momentum. Penerbit konvensional bahkan cenderung mencoba larut dalam tren tanpa mempertimbangkan kompetensi yang dimilikinya. Keputusan seperti ini jelas akan berpengaruh pada cashflow perusahaan.
Dalam penerbitan, konsentrasi cash-flow tidak mungkin lepas hubungan dengan proses pengadaan (acquisition), yang dapat (tetapi tidak selalu) mengharuskan pengeluaran uang untuk uang muka penulis dan pembelian naskah. Faktanya, uang muka penulis mungkin diperlukan sepanjang tahun sebelum naskah benar-benar selesai diajukan. Hal ini disebabkan penerbit tidak ingin mengecewakan para penulis ataupun agen naskah. Akan tetapi, terkadang pengerjaan naskah justru menjadi berlarut-larut, sementara itu para editor, layouter, ilustrator, dan desainer grafis tetap harus digaji.
Proses Pengembangan Buku
Pengadaan naskah sebagai mata utama sebuah rantai proses penerbitan naskah dapat digambarkan dalam diagram alur berikut ini.
|
Misi |
|
Pencarian Naskah |
|
Perencanaan Editorial Satu Tahun |
|
Rapat Editorial (Redaksi) |
|
Daftar Judul yang Direkomendasikan |
|
Kontrak |
Perencanaan editorial dapat digambarkan seperti berikut ini. Dalam kolom bulan diisi jumlah judul yang akan diterbitkan.
|
Perencanaan Editorial 2007 |
||||||||||||
|
Kategori |
Jan |
Feb |
Mar |
Apr |
Mei |
Jun |
Jul |
Agt |
Sep |
Okt |
Nov |
Des |
|
Fiksi |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Nonfiksi |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Faksi |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Lain-lain |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Perencanan editorial didasarkan pada mission statement yang digariskan oleh penerbit. Selanjutnya, tim editorial akan menyusun estimasi jumlah judul per bulannya dan pada bulan-bulan khusus akan terjadi peningkatan signifikan berkaitan dengan momentum tertentu, seperti tahun ajaran baru, bulan Ramadhan, Natal, ataupun tahun baru. Perencanaan tahunan ini membuat segala sesuatunya terkontrol dengan baik. Selain itu, para editor akuisisi dan editor pengembang juga sudah mulai menggerakkan intuisinya untuk menemukan naskah dan memformat naskah pada tahun sebelumnya.
Pertanyaannya sekarang, kapan sebuah program tahunan dimulai? Jika kita menggunakan estimasi normal bahwa sebuah buku bisa digarap dalam rentang waktu 45 hari, buku untuk bulan Januari tahun berikutnya harus digarap pada bulan November. Untuk itu, sebuah penerbit sudah harus merancang program tahunan untuk tahun berikutnya pada bulan September atau Oktober tahun berjalan.
Dengan demikian, pengembangan buku tahun depan semestinya sudah dimulai pada September tahun berjalan. Langkah strategis adalah menentukan misi penerbitan yang akan dijalankan pada tahun berikutnya. Di sinilah dibutuhkan visi dan misi yang terdefinisi jelas untuk dijabarkan dalam bentuk strategi dan action plan.
|
STRATEGI |
|
VISI |
|
RENCANA |
|
10-20 Tahun |
|
3-5 Tahun |
|
1 Tahun |
Beberapa penerbit Indonesia telah beranak pinak dengan memperbanyak imprint penerbitan. Ada imprint yang masih dikelola secara terpusat dan ada pula yang dikelola secara desentralisasi. Kebijakan pengembangan imprint tentu didasarkan kepada misi memperbesar cakupan ataupun kategori terbitan sesuai dengan kemampuan penerbit dan kecepatan penetrasi pasar yang dilakukan.
Apa yang perlu diperhatikan dalam pengadaan atau perburuan naskah selanjutnya?
· Pemetaan Pesaing atau Pembanding
|
Judul |
Penulis |
Penerbit |
HC/PB |
Ukuran |
Tebal |
Warna |
Harga |
Harga/ Hlm. |
Tahun |
Komentar |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Harga rata-rata |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
· Sumber-sumber naskah
|
Naskah Kiriman |
Kerap disebut unsolicited manuscript yaitu naskah yang dikirim para penulis langsung ke penerbit. Dalam hal ini jika penerbit tidak terspesialisasi dengan jelas, penerbit akan menerima begitu banyak naskah dari berbagai kategori. Naskah kiriman sangat menyita waktu penerbit untuk membaca dan menimbang penerbitannya. Naskah seperti ini umumnya dikirimkan oleh penulis pemula |
|
Naskah Internal (Work-Made-for-Hire) |
Pengadaan naskah yang dianggap paling baik untuk saat ini adalah dengan menetapkan ide penulisan, buat rancangan outlinenya, dan temukan siapa yang bisa menuliskannya. Dengan demikian, proyek penulisan benar-benar dapat dikontrol. Cara kedua yang biasa disebut Work-Made-For-Hire adalah dengan menyerahkan gagasan penulisan kepada staf editorial sendiri. Staf tersebut menerima bayaran untuk membuat naskah, sedangkan hak cipta berada pada penerbit. Penerbit menjadi memiliki aset naskah yang berharga, apalagi jika buku kemudian bisa bertahan lama. |
|
Pertemuan dan Seminar |
Cara lain pengadaan naskah adalah menghadiri pertemuan atau seminar yang selaras dengan topik program penerbitan Anda. Anda bisa menemukan orang yang cocok untuk mengembangkan ide penulisan, di samping Anda juga bisa mendiskusikan hal-hal baru untuk program penerbitan Anda. Cara ini termasuk sangat baik guna melahirkan konsep baru pada bidang penerbitan Anda. |
|
Agen Naskah |
Pengadaan naskah lewat agen naskah tidak terlalu populer di Indonesia meskipun beberapa orang mengaku melakoninya. Memanfaatkan agen naskah termasuk cara mudah dan murah guna mendapatkan naskah sesuai dengan kebutuhan. Agen naskah biasanya bisa merekomendasikan beberapa naskah yang cocok dengan bidang garapan penerbit sehingga penerbit tidak perlu membuang waktu untuk review naskah. Khusus untuk naskah terjemahan, agen-agen naskah yang lebih banyak berperan dan menawarkan naskah mulai dari kisaran $200 hingga $1.000 lebih sebagai advanced fee dan rata-rata royalty 8% brutto. |
|
Penerbit Internasional |
Pengadaan naskah yang termasuk lebih mudah adalah menerjemahkan naskah dengan membeli right dari penerbit-penerbit asing. Cara ini bisa ditempuh melalui hubungan korespondesi ataupun pertemuan setahun sekali di Frankfurt Book Fair. |
Visi Editorial Masa Depan
Coba kita lihat faktor-faktor yang membutuhkan waktu dan biaya dari sebuah proses penerbitan.
|
Pengadaan Naskah (Flat Fee atau Royalty Advance) |
|
Pengembangan Naskah |
|
Penyuntingan Naskah |
|
Perwajahan Isi |
|
Perwajahan Cover |
|
Promosi |
|
Pencetakan |
Editor masa depan harus memiliki sense of budgeting sehingga yang penting dikuatkan dalam tim editorial adalah speed, speed, speed, dan skill. Kecepatan menjadi begitu penting mengingat kebutuhan pembaca terkadang tidak dapat diprediksi jauh-jauh hari. Siapa menyangka bahwa suatu saat masyarakat kita keranjingan beternak jangkrik? Siapa yang tahu bahwa kemudian flu burung menjadi wabah yang begitu menyakitkan? Siapa yang mengira bahwa seorang Tukul Arwana menjadi selebritis papan atas? Siapa yang sadar bahwa kemudian blog menjadi sebuah demam para netter? Semua membutuhkan kecepatan dan kesadaran tingkat tinggi sebelum tertinggal oleh yang lain.
Begitu mahal biaya yang harus dikeluarkan untuk memproduksi sebuah buku. Dan biaya-biaya tersebut harus terbayar dengan buku yang sukses di pasar. Untuk itu, visi editor masa depan dapat disimpulkan dengan tiga kekuatan berikut.
|
Pengadaan Naskah |
|
Pengembangan Naskah |
|
Penyuntingan Naskah |
Dengan visi ini kita pun mafhum bahwa proses editorial tidak hanya menyangkut penyuntingan naskah yang secara teknis merupakan aktivitas memeriksa naskah dari segi kebahasaan, keterbacaan, ketelitian data dan fakta, serta kebenaran isi. Para editor lebih jauh memiliki tanggung jawab besar melanggengkan proses produksi penerbitan dan memberikan kontribusi bagi peningkatan profit perusahaan.
Departemen Editorial vs Departemen Produksi
Dua pilar produksi penerbitan adalah Departemen Editorial dan Departemen Produksi. Dalam sebuah penerbit, mungkin saja kedua fungsi ini disatukan menjadi hanya Departemen Penerbitan. Namun, pada dasarnya dalam soal pengembangan penerbitan, kedua departemen ini idealnya terpisah sehingga setiap departemen dapat lebih fokus pada pekerjaannya. Coba kita lihat penjabaran kerja setiap departemen.
|
Departemen Editorial · Chief Editor · Managing Editor · Senior Editor · Acquisition Editor · Development Editor · Editorial Assistant |
Berkepentingan terhadap pencarian dan pengadaan naskah yang layak untuk penerbit dan juga secara terus-menerus melakukan pengembangan buku-buku penerbit. Pengembangan mencakup judul per judul ataupun secara umum. Fokus departemen ini terhadap keberadaan naskah dan pengembangannya sudah merupakan tugas tersendiri yang lumayan kompleks. |
|
Departemen Produksi
|
Berkepentingan terhadap proses pengolahan naskah yang efektif dan efisien. Departemen ini bekerja simultan setelah beberapa judul direkomendasikan terbit, terutama penyiapan awal untuk cover-cover buku. Penyuntingan mekanik dilakukan di bagian ini sehingga seorang copy editor bekerja secara tim dengan seorang layouter. Departemen ini memiliki goal untuk menghasilkan buku yang error free pada setiap judul. |
Dua departemen ini semestinya membangun kerja sama yang sinergis dengan satu tujuan menghasilkan buku-buku yang berkualitas baik. Tidak ada alasan untuk saling berbenturan kepentingan karena departemen yang satu lebih merasa berjasa daripada departemen yang lain. Para manajer dari dua departemen ini harus bisa menyatukan aktivitas saling mendukung pada dua departemen ini. Untuk itu, perlu dirancang sistem atau proses pengolahan naskah hingga menjadi buku (dummy) siap cetak.
Bekerja dengan Para Profesional
Proses pengembangan buku jika bisa dijalankan lebih fokus, efektif, dan efisien apabila penerbit bekerja dengan para profesional di luar lingkungan penerbit. Artinya, beberapa pekerjaan teknis dapat di-outsourcing sehingga penerbit leluasa menggunakan waktu buat mencari naskah dan mengembangkannya.
Kini banyak profesional di bidang penerbitan yang siap membantu penerbit Anda karena mereka bekerja secara freelance, seperti editor, desainer, layouter, dan ilustrator. Namun, berhati-hati dengan para pemula yang mengaku profesional ataupun mereka yang sebenarnya belum paham benar, mengaku sebagai orang yang paham tentang dunia penerbitan. Anda bisa dibuat repot oleh mereka.
Jika penerbit memiliki orientasi outsourcing, organisasi penerbitan dipastikan dapat lebih ramping. Penerbit dapat memikirkan untuk memiliki bank naskah dan juga divisi riset dan pengembangan buku.



