Kota Santri
Published June 12, 2007
Lama kelamaan aku menjadi terbiasa. Yang lebih terhenyak lagi: begitu tiba di teras kantor, kulihat berbondong-bondong orang berjalan menuju mesjid untuk sholat berjama’ah. Tak pernah kurasakan sebelumnya orang menghentikan kerja sebegitu serentak dan berbondong-bondong untuk sholat ke mesjid. Ini ada apa? pikirku waktu kali pertama awal-awal kerja di sana. Lebaran kah? Atau ada demo di jalan? Rupanya orang-orang itu sedang berbondong-bondong menuju mesjid. Begitu pun dengan waktu-waktu sholat berikutnya.
Sesampai di mesjid, sholat tak buru-buru dimulai. Barangkali memang sengaja menunggu jama’ah lain. Jadi jarak antara kantor ke mesjid masih sangat cukup untuk ikut sholat secara berjam’ah. Dan yang sholat berjam’ah hampir bisa dipastikan ratusan orang. Setiap waktu sholat seperti itu. Setiap hari seperti itu. Bagiku yang tak pernah merasakan atmosfir semacam itu tentu kuanggap luar biasa. Setiap hari bisa merasakan sholat berjama’ah sebanyak ratusan orang. Belum lagi ditambah dengan zikir bersama, doa bersama, atau mendengarkan hadist-hadist nabi yang dibacakan serta taushiyah. Betapa nikmatnya diguyur hal semacam itu di setiap harinya.
Ketika mulai kerap lembur di kantor pusat, kukira sholat Maghrib dan Isya tak seramai ketika sholat Dhuhur atau Ashar. Karena barangkali karyawan kantor di beberapa perusahaan di komplek itu sudah lagi pulang. Ternyata analisaku salah. Di kedua sholat yang terakhir jama’ah mesjid justru lebih ramai. Karena penduduk sekitar justru tumplek ikut sholat berjama’ah.
Lagi-lagi aku ngungun sendiri: Ini ada apa? Seperti malam lebaran saja. Lagi-lagi orang berbondong-bondong menuju mesjid. Yang terjadi: setiap hari aku merasakan atmosfir bulan Ramadhan di komplek tersebut. Mungkin aku berlebih-lebihan, namun begitulah yang kurasakan.
Ketika divisiku berencana hijrah ke gedung perkantoran, aku sedikit gulana karena pikirku takkan bisa lagi merasakan atmofir seperti di komplek kantor pusat. Ketika hal tersebut kuutarakan (nggak ada istilah kuselatankan, ya?) pada seorang kawan, jawabannya justru tak kuduga sama sekali.
Katanya: “Jangan berpikir tidak akan lagi bisa merasakan apa yang dirasakan di sini, tapi berpikirlah bagaimana caranya kita bisa memberi warna di gedung perkantoran agar bisa seperti di sini.” Wow! Betul juga, pikirku.
Maka ketika telah lagi berkantor beberapa minggu di gedung perkantoran itu, kita yang memang sudah terbiasa dengan pola di komplek kantor pusat, selalu membiasakan diri sholat di mesjid (bersyukur juga di komplek gedung itu ada sebuah mesjid yang cukup besar). Jadi tidak mesti sholat di mushola apalagi di ruangan kantor.
Giliran aku yang heboh ketika akan memasuki waktu sholat tiba, jam 11.45 aku sudah berteriak-teriak: “Sholat-sholat… tinggalkan dulu duniawi sejenak…!!!”. Kawan-kawan lain pun ngakak mendengar itu. Sekarang giliranku yang bikin sebal kawan sekantor karena ajakanku yang mengagetkan konsentrasi orang kerja. Tapi kami tetap bisa menanggapi dan menikmatinya dengan bahagia. Karena ajakan sholatku, meski dengan teriak-teriak mengangetkan dan sedikit berkelakar, tak kulontarkan dengan pandangan sinis yang seolah jika ada yang masih lagi duduk di belakang meja kerja pada jam itu merupakan sebuah perbuatan nista.
Kini aku tau, seperti apa maksud lagu ‘Kota Santri’ itu.
Bandung, 13 Juni 2007, 04.59.
