penganyamkata.net
current   |   rss

Paris, Je t’aime (3)

Published June 27, 2007

Paris, Minggu pagi. Setelah sarapan saya check out dari hotel. Tujuan: Museum Louvre atau Musée du Louvre. Dari St. Lazare naik M13 tujuan Châtilon turun di Champ-Élysées Clemencau lalu pindah M1 tujuan Château de Vincennes turun di Palais Royal Musée du Louvre. Di metro banyak turisnya, beda dari hari-hari kemarin yang banyak kaum pekerja. Yang lucu, ada ibu yang menyangka saya pelajar di Perancis, gara-gara saya baca buku Paulo Coelho yang edisi Perancis itu. Padahal sok-sok baca tuh, hehe ;p

Anyway, sampai di Musee du Louvre, rencananya mau “napak tilas” ala the Da Vinci Code, soalnya tidak mungkin menjelajah seluruh museum dalam satu hari, apalagi setengah hari. Tetapi kalau satu tema saja, boleh lah…

 

Museum Louvre buka setiap hari kecuali Selasa mulai pukul 09.30-17.00, jadi jangan salah liat hari kalau mau ke sini. Setiap hari Rabu dan Jumat buka sampai jam 21.30, lumayan kalau belum puas jalan di siang hari. Tiket masuk harganya €8.5 bisa untuk seharian penuh, mau bolak balik ya silahkan. Hari Rabu dan Jumat setelah pukul 18.00 harga tiket cuma €6. Tas musti dititipkan (gratis), lagian siapa juga yang mau bawa tas berat. Banyak lho turis yang baru datang atau mau pulang, sehingga bawa koper yang besar.

“Napak tilas” perjalanan Robert Langdon dan Sophie Neveu dimulai dari hall Napoleon, di bawahnya Piramid, terus ke sayap Denon. Naik eskalator kemudian menuju bagian “Pre Classical Greek” liat patung-patung dan karya seni Yunani. Ada patungnya Hera, yang saya ingat sebagai ibu tiri nya Hercules.Keluar dari bagian ini terus naik tangga dan melihat Winged Victory of Samothrace. Ada satu yang tidak bisa saya lihat, yaitu Arago medallion. Saya tanya sama pemandu di museum juga pada bengong. Padahal itu kan bagian penting dari sejarah Paris (Paris meridian). Ya sudahlah. Lalu saya masuk ke Salon Carré, yang lantainya dari kayu dan ada motif bintang hitam. Tempat Jacques Saunière meninggal, dan tempat Silas berdiri sebelumnya. Terus menuju Grande Galerie, yang sesuai namanya luas banget. Nah, di sini ini bisa lihat lukisan-lukisannya Leonardo da Vinci dan Caravaggio (dan juga pelukis-pelukis lain). Sedangkan lukisan Mona Lisa tidak ada di sini, tapi di ruangan lain. Keluar dari sini, masuk ke “red rooms” yang kalau di cerita Da Vinci Code itu tempat Saunière setelah dia terluka tapi belum meninggal.

Sebenarnya napak tilas ini agak lucu juga, karena saya sebenarnya mulai dari “Inverted Pyramid” yang merupakan pintu masuk kalau kita pakai metro dan turun di Palais Royal Musée du Louvre, sedangkan di Da Vinci Code kan justru akhir dari perjalanan Robert Langdon. Oiya, walaupun udah ada tanda tidak boleh motret baik pake kamera atau telepon genggam, masih banyak tuh yang curi-curi, termasuk di tempat lukisan Mona Lisa (atau di sana disebut La Joconde). Kasihan ya, jauh-jauh ke Paris tapi tidak bisa baca ;)

Yang jelas, museum dan semua karya di dalamnya itu luar biasa banget! Saya sama sekali belum puas dan tidak mau pulang, kalau tidak ingat sudah pegang tiket kereta dan besok harinya masih harus sekolah :(

Dari Louvre saya naik metro ke St. Lazare, kemudian naik RER jalur E ke Paris Gare du Nord. Belum ada info di platform berapa kereta yang akan menuju Amsterdam, jadi saya sempat ngafè dulu ;) tetep, mesan makanan dan minuman yang gampang. Setelah menikmati cafè ala Paris, kemudian jalan-jalan di stasiun (yang lebih keren di banding bandara kita) terus check in. Waktu mau naik kereta, tiba-tiba turus hujan deras sekali. Tadinya kami semua lari, tapi karena kesulitan mencari nomor kereta dan antri masuk, akhirnya kami pasrah. Jadinya cengar-cengir sambil kehujanan di luar gerbong dengan teman baru yang nasibnya sama. Lumayan, nambah kenalan di kala susah. Setelah berhasil duduk dan simpan barang, waktu yang tepat untuk tidur. Lagipula di luar juga hujan dan pemandangan tidak jelas. Paris, tunggu ya nanti saya datang lagi…

(Yulia Widiati)