rorojonggrang-2.jpg 

Saban hari aku nyaris bertemu dengan penulis dari berbagai bidang spesialiasi. Ada penulis sastra, sains, fikih Islam, buku anak-anak, buku pelajaran, dan macam-macam lainnya. Begitu pun dengan editor atau layouter, designer, juga ilustrator outsource. Semua memiliki gaya, cara, serta karakter yang berbeda-beda. Semua hampir kutemui di kantor setiap harinya.

Sebagai perusahaan yang memilih bergerak di bidang publishing service, sudah pasti tak mungkin bergerak sendiri. Kami membuat jaringan baik penulis, editor, ilustrator, layouter, sampai designer. Semua tak mungkin kami kerjakan sendiri. Setiap proyek yang masuk, selalu kami perhitungkan: sejauh mana proyek tersebut dapat kita kerjakan. Kalau overload, tak bisa tidak: jaringan tersebut kami gunakan. Berbagi rezeki dengan banyak orang.

Saban hari ada saja yang datang untuk mengambil order kerjaan. Bahkan untuk proyek tertentu, kami malah sengaja menempatkan beberapa orang layouter outsource di kantor. Kerjanya ya melayout sampai proyek kelar.

Sementara proyek yang masuk macam-macam asalnya. Dari mulai corporate, BUMN, sampai penerbit buku. Ordernya tentu beragam. Tak hanya membuat buku, meski kebanyakan buku. Bahkan sebuah kantor kementrian meminta kami menyediakan penulis untuk mendokumentasi kegiatan kemana pun sang menteri pergi. Memang, jasa yang kami sediakan lumayan lengkap juga. Dari mulai penulisan plus editing, dari mulai ilustrasi, dilayout, didesign, sampai dicetak, alhamdulillah semua kami miliki. Pokoknya apa pun yang diminta klien lah. Pokoknya yang berhubungan dengan publishing lah.

Bekerja di bidang jasa semacam ini memang terasa dinamis. Setiap hari bergelut dengan berbagai hal. Tidak statis atau reguler.

Sudah sejak awal aku membuat semacam aturan main bahwa setiap proyek yang masuk selalu dipegang oleh seorang pimpinan proyek. Tidak terpusat pada satu orang. Dialah yang nanti bertanggung jawab terhadap jalannya proyek tersebut. Dia yang akan mencari penulis, editor, ilustrator, layouter, designer dari jaringan yang kita miliki, meski sudah barang tentu keputusan keluar melalui sebuah meeting redaksi.

Terkadang, kita sampai menolak-nolak proyek. Menolak bukan dalam arti menampik rezeki, tapi lebih pada mencoba memberikan yang terbaik pada klien. Kalau kondisi overload karena proyek yang masuk begitu menggunung, tak mungkin juga dapat kita kerjakan semua dengan hasil maksimal. Terkadang ada saja proyek yang kerap kusebut proyek “rorojonggrang”. Proyek “membuat seribu candi dalam satu malam”. Semisal, kita kedapatan order membuat 60 judul buku dalam satu minggu. Bukankah untuk satu buku saja membutuhkan penulis, editor, belum kalau perlu ilustrasi, dan sudah barang tentu musti dilayout dan didesign. Mampukah mengerjakan 60 judul buku dalam satu minggu? Itu dia proyek “rorojonggrang”. Kalau ditilik dari segi bisnis, 60 judul buku nilainya memang ratusan juta, tapi kalau ditengok dari segi waktu serta kualitas, bisa-bisa kita “membuat seribu candi dalam satu malam” namun bukan candi yang bisa berdiri tegak nan megah, melainkan stupa-stupa rapuh yang sekali senggol, bum, jatuh berserakan di tanah. Bukankah lebih baik mengerjakan lebih dari 200 buku dengan nilai milyaran rupiah dengan waktu yang memadai ketimbang proyek “rorojonggrang” tadi itu.

Namun tentu saja kami tak pantas menampik order. Sebisa mungkin kita bantu kerjakan. Barangkali ada bargaining dalam segi kuantitas saja.

Nah, dalam beberapa hari terakhir ini, tiba-tiba ada yang membuat emosiku sedikit terpancing. Yaitu kelakukan beberapa penulis yang (dengan seenaknya) meng-copy-paste bahan dari internet yang dapat dengan mudah kita telusuri sumbernya. Memang bukan sesuatu yang haram menggunakan data yang bersumber dari internet, kalau kemudian diolah kembali menjadi sebuah tulisan yang apik serta bernilai. Tapi memindahkan secara mentah-mentah begitu saja, betapa purba kelakuannya!

Bagaimana tidak geram mendapati kelakuan (yang katanya) penulis semacam itu, sementara pekerjaan begitu menggunung di setiap harinya. Memang, setiap proyek ada pimpronya masing-masing, tapi aku pribadi jelas memegang keseluruhan dari proyek yang masuk. Sementara di sela-sela kerja, ada saja marketing yang minta dilihat penawaran proyeknya apakah sudah layak atau belum untuk ditawarkan. Di tengah traffic sepadat itu, jelas batapa geramnya mendapati kelakuan seseorang yang bermodal beberapa puluh ribu perak berdiam di warnet, mengunduh data secara mentah-mentah, untuk kemudian mendapatkan honor menulis dengan nilai jutaan. Betapa tidak fair-nya.

Nah, kalau sudah seperti itu, memang lebih banyak penulis, editor, ilustrator, layouter, bahkan designer yang lebih memilih menjadi freelance ketimbang bekerja tetap di kantor. Itu terjadi juga pada saat kami memerlukan peran-peran tersebut sebagai orang tetap di kantor, bukan freelance. Alasan mereka: “Kenapa harus pergi pagi pulang petang dari kantor, kalau bisa kerja di rumah dengan honor jutaan.” Aku selalu tersenyum jika mendengar argumen itu. “Asal order dari sini tetap aja, Mas.” tukas mereka lagi. Sialan! batinku.

Jadi, pilih mana: membuat candi, atau plesiran ke tempat wisata menikmati bangunan candi hasil karya orang lain? Ah, suka-sukalah…

Bandung, 27 Juni 2007, 00.04