Development Editing 3: Mengemas Kebutuhan
- Hiburan
- Edukasi
- Kebutuhan
- Popularitas
- Kontroversi
Suatu kali saya ikut berdesak-desakan dan berjongkok di stan Yusuf Agency. Di stan tersebut tersebar buku-buku dari berbagai penerbit yang entah bagaimana dijual dengan harga bandrol sangat murah. Sebagai sebuah petualangan, saya menikmati berlama-lama di stan tersebut untuk mencari buku-buku yang sesuai dengan kebutuhan saya. Konon buku-buku yang dijual oleh Yusuf Agency adalah buku yang gagal di pasaran menurut persepsi penerbit asalnya. Namun, di tangan Yusuf, buku-buku tersebut justru laris manis meskipun dengan embel-embel harganya menjadi sangat murah.
Lalu, terpikirlah sebuah asumsi bahwa sebenarnya buku-buku tersebut bukan buku yang gagal di pasar, melainkan buku yang tidak bertemu dengan pembacanya yang tepat. Apa yang tersulit dalam pasar buku bukanlah mempertemukan buku dengan pembaca yang tepat, melainkan mempertemukan gagasan buku dengan kebutuhan yang tepat. Lagi-lagi saya akhirnya kembali kepada muara penerbitan buku yaitu dapur editorial. Bahwa editor dan marketer meski begitu awas membaca kebutuhan di dalam masyarakat kita.
Kebutuhan tidak pelak lagi menjadi sesuatu yang dicari dan diharapkan. Karena itu, jika kebutuhan itu mewujud dalam sebuah wacana buku, buku itu pun menjadi sesuatu yang dicari dan dibutuhkan. Orang membeli buku karena butuh dan karena rasa ingin tahu.
Berdasarkan survey perbukuan internasional bahwa hanya ada dua alasan terbesar orang membeli buku, yaitu topik dan penulis. Membeli buku karena tertarik topiknya adalah membeli buku karena alasan kebutuhan.
Kemasan buku yang cocok untuk menjawab topik-topik kebutuhan seperti ini adalah buku praktis dan mudah dipahami, seperti how to book, self-help, dan fast book. Di Indonesia, penerbit yang fenomenal bisa membaca kebutuhan masyarakat Indonesia kini adalah Agromedia Group dan Penebar Swadaya Group.
Lalu, topik-topik apa yang sekarang yang menjadi kebutuhan besar masyarakat kita? Saya akan menyajikan sejumlah topik. Soal urutannya, hal itu menjadi pendapat Anda berdasarkan intuisi. Saya hanya sebatas menyajikan dan kalaupun urutan yang ada sekarang sesuai, Anda pun bisa menjadikannya patokan.
- Spritualitas
- Kesehatan
- Pengembangan Diri/Motivasi
- Bisnis/Entrepreneurship
- Hobi/Waktu Luang
- Keterampilan Hidup
- Informasi Umum/Gaya Hidup
- Masakan
- Mode
Mari kita lihat beberapa fakta. Untuk spiritualitas, kita mafhum bersama bahwa buku-buku bertopik agama Islam sangat laku keras sejak era 1990-an hingga kini. Omzet buku Islam menempati urutan kedua setelah buku pelajaran dalam bisnis penerbitan buku. Fenomena yang menunjang bahwa di dalam masyarakat muncul kesadaran transsendental (hubungan dengan Tuhan) sehingga topik-topik untuk kembali mendalami agama sangat diminati. Topik-topik agama ini diperkaya pula oleh penerbit dengan kemasan populer dan mengundang rasa ingin tahu, seperti buku Misteri Shalat Subuh, Terapi Shalat Tahajud, Psikologi Kematian, The Power of Shalat, Kupinang Kau dengan Hamdalah, dan banyak lagi
Dalam hal kesehatan setali tiga uang. Kini orang Indonesia dengan gaya hidup modern makin menurun kualitas kesehatannya. Belum lagi wabah penyakit yang menakutkan juga menyerang, seperti AIDS, flu burung, dan anthrax. Penyakit-penyakit akibat gaya hidup berlebihan, seperti kanker, jantung, hepatitis, dan diabetes juga berseliweran. Karena itu, apa yang juga paling dibutuhkan masyarakat kita kini? Ya, nikmat sehat dengan membaca buku-buku panduan kesehatan. Alhasil, tidak heran jika buku-buku, seperti food combining, terapi jus, diet golongan darah, meditasi, dan banyak lagi menjadi begitu laris manis.
Fakta lain? Saya ingin memancing Anda, para editor sekalian, untuk membeberkan fakta lain yang mendukung hipotesis saya bahwa mengemas kebutuhan adalah sebuah peluang untuk berjaya dalam dunia perbukuan kita.
Bagaimana dengan karya fiksi? Karya fiksi saya masukkan dalam kategori hiburan bahwa masyarakat kita juga butuh hiburan. Dan pengemasan hiburan atau entertainment ini juga perlu dikembangkan dengan gagasan-gagasan kreatif yang menunjang.
Rambu-rambu yang perlu diperhatikan editor pengembang (development editor) bahwa ia harus berhati-hati agar tidak sampai disorientasi tentang kebutuhan masyarakat. Bisa jadi seorang mengembangkan sebuah naskah kesehatan, tetapi topic spesifik kurang menyentuh pada kebutuhan masyarakat. Terkadang hal inilah yang membuat editor selalu berhadapan dengan marketer karena ketidaksamaan orientasi tentang buku yang bisa laku dan buku yang sulit laku.
Selamat mengemas!
——————-
Mengemas dan menerbitkan buku yang buruk sama biayanya dengan mengemas dan menerbitkan buku yang baik. Karena itu, jangan pernah menerbitkan buku yang buruk!
——————-
-Bambang Trim-

