The Piano

grand_piano.jpg

Apa yang membuat seseorang kerasan di kantor? Jawabannya tentu banyak hal. Sama halnya dengan alasan apa yang membuat seseorang tak kerasan di kantor.

Apa yang hendak kuceritakan bukanlah film The Piano pemenang Academy Award tahun 1993 yang tersohor itu. Melainkan cerita tentang sebuah piano yang berdiam di pojokan koridor ruangan kantor kami.

Entah kenapa, piano itu sudah ada sejak dulunya di situ. Entah bagaimana riwayatnya. Kalau melihat dari segi tata letak serta penempatan ruang, rasanya lucu ada piano diletakkan di koridor ruangan. Tapi nyatanya piano itu memang sudah ada sejak dahulu kala. Menurut cerita sahibul hikayat, piano itu kerap berdenting-denting di malam hari yang sunyi. Padahal sama sekali tak ada orang di lantai itu.

“Lalu, siapa yang pernah mendengar kalau piano itu kerap berdenting-denting di malam hari?” tanyaku antusias.

“Ya namanya juga cerita sahibul hikayat, Mas, siapa yang pernah mendengar secara langsung.” tukas cleaning service di lantai kami santai.

“Sialan!” umpatku ngeloyor meninggalkan OB yang membadut itu.

Nah, karena piano kesepian itu jarang ada yang menggunakan, bahkan tak ada yang menyentuh, sesekali kami kerap memainkannya. Bernyanyi-nyanyi di ujung koridor. Yang main bisa siapa saja, karena rata-rata dari kami ternyata bisa main piano. Lagu-lagu yang kami mainkan pun beragam. Dari mulai Guns n’ Roses, The Beatles, Iwan Fals, Peterpan, sampai Doel Sumbang kita mainkan.

Kalau Kus atau Isa main di bagian bas, aku kerap menimpali di bagian melodi. Atau sebaliknya. Yang nyanyi, tentu beramai-ramai. Dari mulai editor, layouter, designer, marketing, sampai direktur pun turut merubung, nyanyi bersama.

Ini kami lakukan di sela-sela tingginya traffic kerja. Karena dengan begitu kami merasa seolah tidak berada di kantor lagi. Ruang kerja kami memang bagaikan rumah sendiri. Semua kebutuhan ada di sini. Plus ditambah kehadiran piano kesepian yang kini sudah tak sunyi lagi itu.

Dengan ragamnya lagu, membuat kita familiar dengan tembang yang dinyanyikan. Dengan sesekali bernyanyi dan main piano di tingginya traffic kerja, membuat kita tetap fresh dan tidak mudah stress di tingginya rutinitas kerja.

Tentu Anda pun punya sesuatu yang membuat Anda kerasan serta merasa nyaman di tempat kerja Anda. Apa pun itu. Kalau belum ada, sebaiknya cepat-cepat ciptakan. Bahkan sekadar senyum manis seorang gadis di kantor sebelah pun dapat membuat kerja Anda: b-e-r-s-e-m-a-n-g-a-t! Ha!

Nah, let’s sing together, Honey!

Bandung, 30 Juni 2007, 18.58 PM

This entry was posted in Ceritera. Bookmark the permalink.

14 Responses to The Piano

  1. MÄÑìéS says:

    Jadi inget waktu masuk ke Agro media…
    Suara jedag jedug jedag jedug house music,
    udah kek masuk tempat dugem

    Jadi kalo mau clubing cukup ke Ciganjur aja, Ndah… Daripada ke Cibubur! ;)
    -DM-

  2. ade says:

    ade bayangin….tempat kerja mas…pasti amat sangat menyenangkan…. apalagi kalo lagi bisa bernyanyi bersama…. kalo denger piano itu bunyi sendiri…….lari aja mas..jangan mau diajak bernyanyi. hehe

  3. prameswari says:

    kapan-kapan….mau dong nyanyi bareng mas

    I would like to sing with you, Ade…
    -DM-

  4. Cak Ri says:

    woooww..!!!, sekarang maenannya piano yah ?……mmmm….., bas kotak dulu dikemanain ?…:-)

    Bas kotak? Lha, dulu kecrekannya kan sampeyan yang simpen, Cak! :) )
    -DM-

  5. Rinurbad says:

    hmm, jadi inget film Tusuk Jelangkung.

    Hah? Tusuk Jelangkung? Kamu jelangkungnya? ;) )
    -DM-

  6. ijul says:

    jadi curiga, berarti pulang malam itu bukan karena kerja??? ;p

    Huahaha!! Pulang malem karena maen piano sama yang “ngesot” di lantai, Jul… Hiiiiiyyyyy…!!!! :-SS
    -DM-

  7. Rinurbad says:

    Hahahahahahaha..Mbak Ijul, nggak tuh!! Saya yang jawabin ya..Daniel itu pulang malem karena asyik chatting.

    He, Rinur, enak aja! Jangan buka kartu ya! :D
    -DM-

  8. deNung says:

    njanur gunung tho mas sampeyanmain piano,
    biasane kan main mata hoho

  9. QQ bukan Qinoy says:

    *berusaha serius mereply*

    piano….mendengar kata piano aja cukup menimbulkan minat, belum lagi kalo melihat foto teman yang berlatarkan piano *inget foto avatar DV*…sayangnya gak bisa memainkannya selain main joyful joyful…itu pun patah2….

    piano….jadi inget lagu Atiek CB jadul…jadi inget lagu Iwan Fals…jadi inget David Foster…juga inget lagu Rhoma Irama, wuahahaha…..tau kan lagunya? kl ga tau, buruan d ubek2 pasar kosambi :p

    last,

    *nanya serius* bener dirimu bisa main piano? ajarin dung :D :D

  10. Rinurbad says:

    Wah, main mata sih udah terampil dia! Sekarang lagi masuk fase main *** (isi sendiri)

    Rupanya Daniel nggak nonton Tujel ya? Jelangkungnya ya yang main piano itu.

  11. DM says:

    Sialan! :D Sttt…. Rinur, jangan bawel ya. Fase? du-du-du-du-du… ;)

    Aku memang nggak mengkonsumsi produk irasional, Rinur (kecuali kepepet! :) )

  12. Rinurbad says:

    Irasional? Oke. Irasional karena Dian Sastro nggak main di situ.

  13. DM says:

    Dian? Aduh-aduh… jangan disebut-sebut di blog dong… jadi nggak enak nih… ;)

  14. Rinurbad says:

    Nggak enak = enek

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>