Bambu
Terkadang aku masih belum mengerti dengan penjual bambu. Ia biasanya berusia tua. Bisa jadi di atas 60 tahun. Berkeliling menjajakan barang terbuat dari bambu. Biasanya berupa tangga yang terbuat dari bambu. Atau bale-bale bambu.Ia bekeliling dari satu tempat ke tempat lain. Dari satu komplek perumahan ke komplek perumahan lain. Puluhan bahkan ratusan kilometer terus berjalan seperti itu. Umumnya ia dari luar kota Bandung. Terus berjalan seperti itu sembari memanggul bambu. Dan tangga atau bale-bale bambu yang dibawanya itu nyaris tak lebih dari dua buah. Lebih dari itu barangkali akan begitu beratnya.
Seandainya saja tangga atau bale-bale bambu itu laku dua-duanya pada hari itu, berapalah yang ia dapatkan? Barangkali ia akan menghargai satu buah tangga seharga 100 ribu perak. Itu pun masih harga jual. Yang pasti orang membeli pasti menawar. Kalau ditawar setengahnya, katakanlah 50 ribu perak, artinya dua buah tangga itu senilai 100 ribu perak. Sehari! Dan itu pun kalau laku dua-duanya. Seberapa banyak sih orang membutuhkan tangga bambu setiap harinya? Berapa orang sih yang membutuhkan bale-bale bambu setiap harinya? Apakah setiap hari orang butuh tangga dan bale-bale bambu?
Tetapi dari sejak kecil aku selalu mendapati seseorang yang menjual tangga terbuat dari bambu seperti itu. Dan selalu saja tua. Entah apa korelasi antara tangga bambu dengan usia tua. Rasanya tak ada.
Barangkali hal ini jamak saja. Barangkali pula kita bisa dapati pemandangan semacam itu di setiap harinya. Namun, terkadang hal itu selalu tersimpan di pojok pikiran setiap saja aku melihat penjual tangga bambu yang kebetulan pula berusia tua.
Sudah berapa kilokah kakinya itu menapaki jalanan? Setua kakinyakah? Sudah makan berapa kali ia sehari ini? Sudah adakah yang menawar? Selalu adakah yang membeli dagangan kebanggaannya itu di setiap harinya?
Ia pun tak pernah surut untuk terus berjalan dan memapah dan memanggul dan menawar-nawarkan dagangannya. Entah sampai kapan. Dan aku masih belum lagi memiliki jawaban.
Bandung, 3 September 2007, 10.55 wib.
This entry was posted in
Ceritera,
Renungan. Bookmark the
permalink.
Itulah yang termasuk orang-orang berani hidup, darling… contoh nyata untuk kita jika mulai terlalu banyak mengeluh dan berpikir dunia ini tidak adil
Bung DM…., pernah aku katakan, yang bisa mempensiunkan kita cuma TUHAN….
saya sering liat orang2x seperti itu di bogor tahun 1988-1990 waktu study disana, miris sih hati ini, tapi ngapain nggak cari kerja lain ?
my moM used to say : mereka nggak mau cuma diem di rumah dan menunggu anak cucunya menghidupinya..
but i say :
.. mereka menghadapi ketakutan,, ketakutan menjadi tidak berguna…….
kereeeeeeeeeeeeeen tapi lebih keren lagi klo ada contoh kerajinan bambunya