Carpe Diem

Suatu hari seorang kawan tiba-tiba menelponku. Katanya ia ingin bicara (bicara? Bukankah yang sedang ia lakukan saat ini di telpon pun dapat dikategorikan bicara?). Ia hendak datang ke Bandung, bertemu dan menceritakan sesuatu (hah, I’m a home for every stories, tampaknya masih saja berlaku!). Akhirnya (dengan berbagai pertimbangan) aku pun menyanggupi permintaannya untuk bertemu. Di suatu tempat. Setelah kususun ulang (dan membuang segi-segi yang tak penting), kira-kira seperti inilah ceritanya:

Saat ini aku sedang dekat dengan seseorang. Seorang perempuan (ai, pasti cantik?) tentu saja cantik. Bukankah kau tahu aku suka yang cantik-cantik? (ah, mengulur-ulur waktu saja). Ya, tentu saja cantik. Sejak kali pertama bertemu dan melihatnya, aku merasa ada sesuatu yang bakal terjadi dengannya. Ada semacam energi positif yang mengatakan: perempuan ini dikirim memang untuk dekat denganku (ada-ada saja!).

Ya, sebulan pertama kami hanya saling pandang jika kebetulan bertemu dalam suatu kesempatan yang tak sengaja. Paling aku hanya tersenyum kecil. Kecil saja. Tapi masing-masing dari kami tak ada inisiatif untuk saling memulai. Seperti itu terus dalam sebulan. Hingga singkat cerita kami kenal. Saling sapa. Dan berlanjut ke SMS dan telpon (apa menariknya? Semua orang juga hampir punya pengalaman seperti itu).

Bulan kedua, SMS dan telpon kami makin rajin dan mulai bertubi-tubi. Tak ada hari tanpa saling SMS dan telepon. Atau terkadang sesekali chatting. Semua kusimpan dengan rapi. Kau bisa lihat sendiri di handphone-ku. Semua memiliki folder khusus. Sampai dengan hari ini SMS yang telah kukirimkan padanya telah mencapai 834 SMS. Sementara SMSnya yang terkirim padaku telah mencapi 602 SMS (sableng!).

Dari sana kami mulai berani saling tukar-menukar Compact Disc untuk dipinjamkan. Dan malam harinya kami saling mengomentari tembang-tembang yang sedang kami dengarkan. Singkat kata, kami menjadi makin dekat.

Dengannya aku betul-betul merasakan arti hubungan yang sesungguhnya. Kami tidak dihantui masa lalu, juga tidak dibayang-bayangi masa depan. Kami betul-betul hidup dalam dunia ‘present’. Kami betul-betul menikmati ‘hari ini’ di setiap harinya. Karena itu-lah jalan satu-satunya menikmati hidup: hidup di hari ini.

Kami mulai janjian di sebuah rumah makan Jepang. Kami mulai janji bertemu sepulang kantor. Kami kerap melakukan sesuatu yang tak lazim. Misalnya, kami meninggalkan kendaraan kami di kantor kami masing-masing, dan mencegat angkot di pinggir jalan, lantas segalanya kami pasrahkan pada supir angkot untuk terserah hendak dibawa kemana kami pergi.

Di angkot kami duduk berdua di depan. Di tengah perjalanan kami bisa tiba-tiba berhenti ketika melihat sebuah kedai donat di sebuah komplek pertokoan yang kami lewati. Kami pun turun dan memesan kopi dan dua buah donat untuk kami lahap bersama-sama sembari saling cerita apa saja. Semua tanpa terencana. Kami betul-betul hidup di ‘hari ini’.

Terus begitu waktu berjalan. Aku kerap menjemput ke kantornya pada sebuah jarak. Semua kami lakukan sembunyi-sembunyi. Tak ada seorang pun kawan kami di kantor yang mengetahuinya. Kami betul-betul menikmati sekali hubungan ini. Kami pergi berdua kemana saja kami suka. Kalau aku menyetir mobil, sepanjang jalan ia akan memerhatikanku di bangku samping. Kalau aku membawa motor, dari belakang ia akan memelukku dengan begitu mesranya. Dan kami pun mampir di sebuah kedai pizza, melahap salad yang tanpa tahu malu kami tumpuk begitu penuh, dan tertawa-tawa menyadari kekonyolan kami berdua.

Kadang di hari Minggu pagi yang cerah, kami berolah raga bersama. Siangnya aku mulai berani mengundangnya singgah ke apartemenku. Sebelumnya kami mampir di sebuah supermarket, membeli semua yang kami butuhkan, dan acara hari itu kami habiskan dengan memasak dan makan bersama. Ya, sekali lagi kami betul-betul menikmati hidup kami di ‘hari ini’.

Di akhir minggu yang menyenangkan, kami mulai berani berjalan-jalan berdua, di tempat terbuka. Padahal kami punya kesepakatan: kawan-kawan di masing-masing kantor kami tak boleh ada yang tahu tentang hubungan ini. Tapi bukankkah kami ingin menikmati ‘hari ini’? Bisa kau tebak: kami jadi membayangkan bagaikan sepasang selebritis yang mulai berani tampil terbuka di depan publik. Haha!

Kami mengunjungi toko hewan. Melihat-lihat kelinci, kura-kura, dan kucing. Kami pun mampir ke toko aquarium. Membeli sebuah aquarium kecil, dan dengan senang ia memilih-milih jenis ikan yang lucu-lucu yang ia sukai, untuk ia simpan di apartemenku. Lalu kami masuk ke sebuah salon, ia memilih pijat refleksi sementara aku minta di-creambath. Kami mampir di sebuah mesjid. Kami sholat. Setelah selesai sholat, ketika masih di dalam mesjid, kami saling mengirim SMS:

“Sedang apa?” tulisku.

“Ya sedang sholat.” balasnya.

“Sedang sholat kok bisa mbalas SMS?”

“Dasar! :-P ” balasnya lagi.

Pulangnya, kami makan di sebuah kedai kopi dengan view yang sungguh romantis. Hari itu kami tutup dengan belanja setumpuk buku untuk kami baca bersama-sama di apartemenku. Ah, kami betul-betul menikmati hidup di ‘hari ini’ (lalu, apa yang menarik dari ceritamu ini? tanyaku mulai kesal). Itulah, karena kami betul-betul menikmati hidup di ‘hari ini’, tidak dihantui masa lalu dan tidak dibayang-bayangi masa depan itu-lah yang membuat kami pada akhirnya berpikir: sampai kapan kami akan terus seperti ini? (lho, apa masalahnya?).

Itu dia. Kami sungguh sangat menikmati hubungan ini, namun kami pun sadar atas hubungan ini. Sangat menyadari sekali. Hingga pada akhirnya ia pun berkata:

“Semakin dekat hubungan kita, aku makin merasa tak enak dengan suamiku. Meski ia tinggal di luar kota, bagaimana pun aku mencintainya.” ujarnya pelan.

(Whaaaatttttt?!!!!!!!!!!!!)

Bandung, 28 September 2007, 00.12 wib

*Carpe Diem, ungkapan Latin, yang artinya: gunakan kesempatan sebanyak-banyaknya hari ini; makna harfiahnya: petiklah (nikmatilah) hari (ini).

This entry was posted in Ceritera. Bookmark the permalink.

One Response to Carpe Diem

  1. JW says:

    Begitulah cinta….selalu dengan pola yang sama…btw mmmmm…..sudah ke berapa untuk bulan ini? :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>