Terkadang, aku sebetulnya tak pernah bisa betul-betul menikmati buku pada kali pertama membaca. Biasanya aku akan betul-betul menikmati sesuatu yang kubaca pada bacaan kedua. Itu artinya aku kerap membaca buku dua kali? Ya. Karena pada kali pertama membaca, biasanya aku akan terlalu sibuk mencatat hal-hal atau ada segi yang menurutku menarik untuk dicatat. Baru pada kali kedua, aku bisa betul-betul menikmati membaca dalam arti sebenarnya.
Kembali ke soal menulis, seperti yang sudah kukatakan: ya segera menulis. Begitu sampai di komputer pun aku tidak berharap tulisanku akan matang. Pokoknya menulis. Dan tulisanku itu akan berjalan dengan sendirinya. Jika ada ungkapan: tulisan akan berjalan dengan sendirinya, sementara penulis hanya-lah alat yang memindahkan tulisan itu, barangkali aku ada sedikit persetujuan dengan hal itu. Meski harus kuakui, bahwa penulis dan tulisan adalah satu pribadi yang tak bisa dipisah-pisah, karena di sana ada pengalaman batin, pengalaman spiritual, peleburan jiwa yang menyatu serta mewujud dalam bentuk teks demi teks.
Kudengar Hemingway sampai 10 kali mengoreksi tulisannya sebelum ia betul-betul merasa yakin bahwa tulisannya itu sudah dapat dikatakan: jadi. Begitu pun Pramoedya Ananta Toer. Ia terlalu correct terhadap tulisannya. Namun barangkali aku sedikit mengikuti Pram, bahwa jika tulisan sudah dimuat atau dicetak, aku sama sekali tak mau lagi membacanya kembali. Selesai. Semua sudah berhenti sampai di situ. Tulisan itu sudah milik publik. Dan aku punya hak untuk tak mengomentari tulisanku sendiri. Bahwa ia bakal dicaci maki atau dipuji, sudah di luar teritoriku lagi. Kapasitas penulis sudah berhenti sampai di situ.
Sehingga aku lebih suka mati-matian dalam proses kreatif sebuah tulisan masih lagi berjalan ketimbang berapologi setelah tulisan itu dimuat atau dicetak. Aku terkadang kerap tak habis mengerti pada sebuah acara bedah buku atau bincang-bincang buku jika seorang penulis masih lagi menceritakan isi bukunya, jalan ceritanya, karakter tokohnya, dan sebagainya. Kalau ia masih harus menceritakan ulang isi bukunya, kenapa dia menulis buku?
Tidak ada yang lebih membosankan daripada membaca wawancara atau menghadiri ceramah penulis-penulis yang memaksakan diri menjelaskan tokoh-tokoh dalam buku mereka: kalau sebuah buku tidak bisa menjelaskan dirinya sendiri, buku itu tidak ada gunanya dibaca. Bila seorang penulis muncul di depan umum, dia seharunya menunjukkan dunianya pada para pendengarnya, bukannya mencoba menjelaskan bukunya.
Jadi bagaimana untuk mulai menulis? Ya menulis. Hanya saja (nah ini dia), kita kerap berjumpa dengan apa yang disebut waktu tenggat atau deadline. Bagaimana cara menjemputnya, agar tulisan kita sesuai deadline dan selesai pada waktunya? Jangan lupa, apa pun kapasitas kita sebagai penulis, kita tetap mesti menetapkan deadline toh. Tak peduli itu deadline datang dari media massa, dari penerbit atau dari kita sendiri. Kita tetap mesti menetapkan deadline. Betapa pun kita sendiri yang menetapkan deadline tersebut.
Nah, apa yang hendak kurawi pada tulisan ini bukan-lah sesuatu untuk dijadikan contoh. Tidak. Aku tidak berharap orang menjadikan pengalamanku sebagai contoh. Aku hanya mencoba berbagi pengalaman. Kenapa? Karena formula setiap orang dalam menulis (apalagi mentaati deadline) akan berbeda-beda. Menurutku, tidak bisa suatu rumusan dalam menulis dapat diaplikasikan pada setiap orang (seperti halnya konsep pernikahan). Orang mesti melakukan serta merasakannya sendiri untuk dapat menemukan formula paling pas dan cocok dan paling tepat bagi dirinya. Apalagi jika kita mengingat bahwa jam biologis serta jam produktif setiap orang biasanya berbeda-beda.
Pengalaman bertahun-tahun bekerja di media massa membuatku terbiasa “memainkan” deadline. Dulu ketika masih lagi bekerja di media massa, aku kerap “memainkan” deadline. Apa maksud dengan “memainkan” deadline? Begini. Ketika sebuah tulisan atau laporan ditetapkan mesti masuk layout jam 12 malam, sepanjang sore pada hari itu aku akan “berleha-leha”. Yang kumaksud dalam berleha-leha adalah: aku tak sontak segera menulis laporan tersebut pada sore hari.
Setelah belanjaan laporanku terkumpul di ranjang belanja, ia kubiarkan begitu saja di pojokan dapur. Aku memilih jalan-jalan, ngopi, membuka-buka email, chatting, atau main games di komputer. Kenapa demikian? Karena jika kupaksakan “memasak” saat itu juga, hasil belanjaanku di dapur pun tak akan “keluar”. Aku butuh pengendapan. Dan selama proses jalan-jalan, ngopi, membuka-buka email, chatting, atau main games di komputer itu berlangsung, biasanya pikiranku-lah yang bekerja bakal bagaimana tulisan itu kumasak nantinya. Nah, pada pukul 21 malam ke atas, atau paling lambat jam 22, baru aku mulai berjibaku di “dapur” tulisan.
Sama halnya ketika aku mengerjakan tulisan dengan deadline yang telah ditetapkan oleh penerbit atau olehku sendiri. Jika kesepakatan waktu bahwa pukul 8 pagi tulisan akan segera di-layout, semalaman suntuk aku akan “berleha-leha”. Tapi jangan lupa: aku sudah “belanja” materi atau bahan-bahan “masakan” bagi tulisanku nanti.
Ya, setelah “belanjaan” telah lagi tertumpuk di komputer, dalam bentuk tumpukan buku, kliping koran, majalah, atau apapun yang dapat disebut materi serta referensi bacaan, semalaman suntuk aku akan “berleha-leha”. Tak aneh jika ketika kawan-kawan di kantor sedang sibuk bekerja pada tengah malam, aku justru dengan santai membuka-buka email, mailing-list, chatting, mengunduh lagu, atau main games di komputer. Tapi begitu waktu “memasak” sudah tiba (yang kutentukan sendiri: berapa lama aku akan masak, sehingga mesti tetap disiplin memperhitungkan waktu), aku akan menutup semua email, semua mailing-list, semua chatting, semua games dan (kadang) mematikan lagu. Berhenti semua! Sehingga dari speaker tak akan mengeluarkan bunyi apapun sebagai tanda ada email atau chatting-an masuk.
Barangkali aku akan memulai waktu masak pukul 2 atau 3 dini hari. Dan dalam waktu “memasak” tersebut (jangan lupa, kita tetap menentukan seberapa lama kita akan masak, dengan melihat porsi tulisan yang akan kita buat) aku akan kesetanan tanpa batas. Otak, hati, mata, juga jari-jemari sudah menyatu. Sudah tak ada lagi kronologis tahapan perintah antara otak, hati, mata, dan jari-jemari. Otak kanan dan otak kiri saling bekerja sama membuat suatu kesepahaman. Semua sudah bekerja berdasarkan sistem yang sudah terbangun dan saling bahu-membahu.
Pada jam-jam itu aku bisa lupa diri dan hanya menganyam huruf demi huruf, kata demi kata, kalimat demi kalimat, paragraf demi paragraf, serta bab demi bab. Menulis sudah bukan lagi menjadi pekerjaan. Seperti halnya kita makan, atau saat kita bersembahyang menghadap Tuhan. Bukankah pada saat kita makan kita tidak lagi berpikir dan bertanya: kenapa kita makan? Dan untuk apa kita makan? Seperti halnya sembahyang, kita sudah tidak lagi berpikir: kenapa kita melakukan sembahyang dan untuk apa kita sembahyang. Antara pikiran, fisik, dan hati sudah manunggal terhadap apa yang sedang kita lakukan tanpa mempertimbangkan alasan-alasan logika sekalipun.
Dengan menemukan formula kita sendiri dalam menulis, kita akan tahu kapasitas, kemampuan, serta akseleri kita dalam menulis. Kita bisa “bermain” dalam menjemput deadline. Sehingga deadline bukan lagi sesuatu hal yang kita takutkan datangnya. Seperti halnya kematian, dia akan datang, betapa pun kita mengulur mati-matian, toh tetap akan datang juga. Jadi, biarkan kita yang menjemputnya. Bukan menantinya.
Nah, soal bagaimana menjemputnya, di situ-lah sebuah proses kreatif ditimbang-timbang kadar kualitasnya. Begitu pun dengan hidup. Sejatinya tulisan ini memang tak ada hubungannya sama sekali dengan soal tulis-menulis. Ha!
Bandung, 26 September 2007, 22.55 wib.



