Show Me The Meaning of Being Lonely
Namun begitu-lah yang terjadi dalam kehidupan. Kita sudah terbiasa tertopang pada teknologi yang pada akhirnya melipat dunia kita. Padahal kalau ditarik antara 10 hingga 20 tahun ke belakang, tanpa itu semua, hidup dapat tetap terus berjalan toh? Dan saat ini, ini juga yang kucari: terputus sama sekali dari apa pun yang dapat menghubungkan diriku dengan “dunia” di luar sana.
Juga sudah terlalu lama aku tak bertemu denganmu. Tahun 2004? Ya, terakhir kali aku bertemu denganmu di tahun 2004. Di Sby. Itu pun hanya beberapa jam saja. Setelah itu kau buru-buru pulang untuk kembali ke desamu ini. Aku ingat kata-kata terakhirmu saat itu: “Main ke Tbn, Dan.” ajakmu. Ya, kini aku melunasi ajakanmu.
Aku bisa merasakan keheningan serta kedamaian di sini. Kebun ini tak begitu luas, ditanami apa saja yang kau suka tampaknya.. Dan di ujung serentetan tanaman jagung itu, mengalir sungai yang airnya bergemericik melenakan batin tiada tara. Sungguh luar biasa tempat ini. Kenapa tidak dari dulu saja aku ke mari, pikirku.
Entah berapa umurmu, sekarang? 65? Barangkali ada. Ya, kau semakin tua. Dan kau memilih menyepi di sini. Jauh dari kebisingan kota. Barangkali kalau usiaku mencapai usia tua, aku pun akan meniru dirimu. Memilih menyepi dari kebisingan kota dan tinggal jauh di pelosok desa.
Tinggal di desa memang menjadi impian terbesarku setelah aku tak ingin melakukan apa-apa lagi. Ya, desa. Ada endapan di alam bawah sadar yang membuatku selalu rindu akan suasana pedesaan. Setiap kali aku mencium obat nyamuk bakar yang melingkar-lingkar itu, ingatanku selalu saja terlempar pada kehidupan di desa. Terkadang aku kerap iseng membeli obat nyamuk bakar yang melingkar-lingkar itu, membakarnya di ruang kerja, sekadar ingin merasakan aroma suasana pedesaan. Ya, setiap orang tentu memiliki kerinduan tersendiri terhadap sesuatu yang terendap di alam bawah sadarnya.
Setelah semua anakmu menikah (kecuali anak perempuan bandelmu itu) dan tinggal di Ygy, Sby, dan Byw, juga setelah istrimu dilarung di pantai selatan, kau memilih tinggal di sini. Berkebun, menanam apa saja, dan bersembahyang di pura. Itu saja rutinitasmu. Namun kurasakan kau begitu menikmati hidupmu. Bersemadi, bekerja, mengolah jiwa, menganyam hari tua.
Malam ini kau mengajakku ke kebun. Berdua kita duduk di bale-bale bambu sembari menyeruput wedang jahe dan menyulut rokok. Bulan sabit mengintip-intip malu di balik dedaunan pohon jati tua.
“Kau tak kesepian?” tanyaku.
“Kesepian? Apa itu kesepian?”
“Entahlah.”
“Kau yang kesepian. Kau boleh saja merasa kesepian, namun setelah kau ungkapkan kesepian itu, itu bukan lagi kesepian namanya. Seperti halnya rahasia, jika ia telah lagi diceritakan, ia tak lagi pantas disebut rahasia.”
“Aku sudah tak pernah lagi mengungkapkan rasa kesepian diriku.”
“Itu artinya kau memang betul-betul kesepian.”
“Ah, kau menjebakku.”
“Hahaha. Tentu saja tidak. Tak ada yang lebih buruk daripada perasaan bahwa tak seorang pun peduli apakah kita ada di bumi ini atau tidak, bahwa tak seorang pun tertarik pada apa yang ingin kita katakan tentang kehidupan, dan bahwa dunia akan tetap berputar walaupun kita tidak ada. Lebih baik kelaparan daripada kesepian. Karena kalau kau kesepian-dan yang kumaksud adalah kesepian yang terpaksa, bukan atas pilihan sendiri-kau akan merasa seakan-akan dirimu bukan lagi bagian dari umat manusia.”
Ai! Siapakah lelaki yang sedang duduk di sebelahku ini? Ia bukan sastrawan. Ia pun bukan perawi kitab wejangan. Tetapi rentetan kalimatnya mampu menembus perasaanku yang paling dalam.
“Kau kesepian, anakku. Hidupmu kau habiskan untuk orang lain. Bahkan kau nyaris tak peduli dengan dirimu sendiri. Tidakkah kau memerhatikan orang-orang terdekatmu? Orang-orang yang tanpa kau sadari selalu ada di sekitarmu? Begitu banyak, banyak sekali yang menyayangimu. Yang tidak lagi membutuhkan alasan atau pamrih untuk mencurahkan perhatian terhadapmu. Tapi kau selalu saja merasa sendiri.”
“Tapi seperti itu-lah kenyataannya.”
“Katanya kau tak pernah lagi mengungkapkan rasa kesepianmu…”
“Ah, lagi-lagi kau menjebakku!”
“Itu-lah. Kau tak mau membuka diri. Kau terlalu tertutup. Senang susah kau kunyah sendiri. Kau enggan berbagi. Kalau kau menyukai seseorang, kau enggan mengungkapkannya. Kalau kau sedang bersedih, kau ragu menceritakannya. Kau berusaha sekuat tenaga dengan alam dan pikiranmu untuk menyetujui bahwa kau memang sendirian dan kesepian. Lambat laun, dan itu sudah terjadi, alam pikiranmu menyetujui dan menjadi sponsor dalam mendukung serta memberi ongkos terbesar terhadap pembenaran-pembenaran yang kau ciptakan sendiri.”
“Tapi aku kan tak pernah berusaha agar orang lain menyetujui pembenaran tentang diriku. Aku tak pernah membutuhkan pengakuan orang lain tentang betapa kesepiannya aku. Itu untuk konsumsi diriku pribadi.”
“Pemikiran seperti itu saja sudah menunjukkan betapa kau membangun dunia sendiri atas pembenaranmu itu. Cukup anakku. Hidup tetap terus berlangsung, dan kau mesti berhenti membangun pembenaranmu itu.”
“Aku tidak memintanya, Bapak.”
“Tapi kau membangunnya seorang diri.”
“Lalu bagaimana caranya?”
“Tutup buku dengan masa lalu. Hidup-lah di hari ini. Nikmati hari ini.”
“Itu sudah kulakukan.”
“Aku tahu. Sudah setahun ini kau merasa bahagia. Amat sangat bahagia. Seperti habis keluar dari kehidupan paling kelam yang pernah ada dalam sejarah umat manusia.”
“Hah? Dari mana kau tahu?”
“Aku punya lebih dari 30 tahun dari usiamu, anakku. Jangan lupa itu.” tukasmu tersenyum. “Paling tidak aku punya 30 tahun lebih dari usia hidupmu.”
“Ya-ya. Aku mengerti. Lalu?”
“Kau memang bahagia saat ini. Tetapi kau masih membangun pembenaran atas dirimu bahwa kau selalu sendiri dan kesepian.
Aku menyulut rokok yang kesekian. Lalu ia melanjutkan,
“Hidup baru. Kau harus berani melupakan siapa dirimu sebelum saat ini. Lupakan apa yang sudah kau lakukan. Kau tahu, kenapa anak kecil berani bermimpi yang tinggi-tinggi? Karena di benaknya belum terkumpul dongeng-dongeng tentang dunia yang memaksanya untuk percaya bahwa hidup di dunia ini begitu susah, sakit dan pahit. Begitu ia mulai tumbuh dewasa, gambaran-gambaran tentang realita mulai memaksanya untuk terus memperkecil mimpi-mimpinya yang awalnya tinggi-tinggi itu.”
“Tapi bukankah memang seperti itu hidup di dunia?”
“Kau bisa kalau kau mau. Kalau alam pikiranmu bisa kau-set seperti bayi yang baru lahir, dengan segala kekuatanmu, kau akan mencapai melebihi dari apa yang kau bayangkan selama ini. Dan kau akan terkaget-kaget pada dirimu sendiri. Itu-lah kekuatan alam pikiran.”
“Aku tidak kesepian lagi, Bapak.”
“Ya, ungkapkan-lah semuanya. Curahkan. Ceritakan seluruh masa lalumu sampai habis tandas. Kalau kau sudah berhasil melakukan itu, lihatlah hasilnya. Sesuatu yang terus diungkapkan, dikeluarkan, dan diceritakan akan membuat dirimu terbebas dari sesuatu itu sendiri. Karena segalnya telah menjadi hal yang biasa-biasa saja. Semakin kau memendamnya, semakin kau merasa bahwa hal itu menjadi sesuatu yang amat mengerikan dan tabu untuk diketahui orang selain dirimu. Lepaskan. Jangan merasa kesepian lagi.”
“Ya, Bapak.”
“Dan satu hal, berada bersama orang lain dan membuat orang lain itu merasa seakan mereka tidak penting dalam hidupmu adalah jauh lebih buruk daripada merasa sendirian dan kesepian.”
“Benarkah?”
“Tentu saja. Lakukan sebuah perjalanan. Semacam pengembaraan. Kalau kau belum mampu dengan ragamu, lakukan dulu secara spiritualmu. Lintasi seluruh masa lalumu. Masa lalumu akan selalu ada bersamamu, tapi semakin banyak kau membebaskan diri dari fakta-fakta dan lebih memusatkan diri pada emosi-emosi, kau akan lebih menyadari bahwa di masa kini selalu ada ruang seluas padang rumput, menunggu untuk diisi dengan lebih banyak cinta dan lebih banyak kegembiraan hidup. Menjelma-lah sebagai padang rumput, kosong, luas tak terhingga, namun pada saat bersamaan penuh dengan kehidupan. Dapatkan hidup baru yang sesungguhnya.”
Malam itu bulan masih tampak mengintip malu-malu di balik rerimbunan dedaunan pohon jati tua. Tapi yang kurasakan: kali ini betapa indahnya…
Tbn – BL, Sep 07.


Jadi ingin ketemu sama bapak ini. Mau bilang: “makanya, getok aja kepala daniel, udah berapa kali dibilangin, ga percaya” :p kidding, dear
lonely or not….. its depends on urself giving meaning to ur life
makanya Niel……..:p
“Show me the meaning of being lonely”
Hmmm… ya… ya… berbagi.
Pagi ini aku baca ulang Le Petit Prince, tentu dalam bahasa Indonesia, dan aku menyadari lagi betapa kompleksnya dunia orang dewasa yang salah satunya, selalu menuntut penjelasan atas segala sesuatu. Jadi berpikir, mengapa sesekali kita (manusia dewasa) tak membiarkan saja suatu hal tanpa berpikir, seperti halnya tentang berbagi.
Jadi ingin bertemu Beliau.
Yoga, terakhir menulis Hark! Dengarkan Pesta di Tengah Sepi