Jalan Hidup Seseorang
Published October 1, 2007
Dari tampang dan resam tubuhnya, aku seperti mengenalnya. Ya, rasa-rasanya aku pernah bertemu si lelaki ini tahunan lamanya. Tapi entah di mana. Akhirya si lelaki pun mengetuk pintu ruanganku, semua kepala dan mata sontak menoleh ke arahnya. Diperhatikan begitu banyak mata seperti itu, si lelaki tampak gugup. Baru-lah aku menyadari siapa lelaki gugup namun murah senyum ini. Begitu aku hendak menyapa, tiba-tiba ia lebih dulu mengeluarkan suara. Katanya:
“Selamat siang, maaf, saya diminta menemui Pak … (ia menyebut namaku).”
“Ya saya…”
Ia masih saja tersenyum. “Saya supir baru di sini.”
Aku tercekat. Dia?!! Supir?! Supir?!
Memang, perusahaan memberikan sebuah mobil plus supir untuk divisi yang kupegang. Namun siapa nyana kalau dia supirnya. Saat itu aku hampir saja bertanya: “Apa kamu tidak ingat aku, …? (aku pun ingin menyebut namanya).” Tapi tiba-tiba aku menyadari posisinya di antara beberapa staf-ku. Rasanya ini bukan waktu yang tepat untuk membuka siapa dia. Demi menghargai dia, akhirnya aku hanya mengucapkan terima kasih.
Waktu berjalan, dan dia menjadi supir di kantorku. Tapi aku belum memiliki waktu luang untuk betul-betul mengobrol berdua dengannya. Selalu saja ada kawan di antara kami. Hingga akhirnya datang-lah kesempatan itu. Saat itu kucari alasan agar dapat pergi berdua dengannya. Aku minta diantar ke suatu tempat, ia pun menganggukan kepala, dan gopah-gapah berlari hendak membukakan pintu.
“Hei, aku kan bisa masuk sendiri…” ujarku berkelakar sembari tertawa-tawa. Ia pun tertawa.
Akhirnya mobil pun jalan. Aku duduk di sebelahnya. Di depan. “Kemana, Pak?” tanyanya sembari tangannya gesit memindahkan perseneleng.
“Duh, panggil … aja kenapa sih. (aku menyebutkan namaku).” ia hanya tersenyum. “Kita jalan aja dulu.” dan kami pun mulai memasuki jalan raya.
“Dis,” panggilku. “Masa’ kamu nggak ingat aku? Atau pura-pura nggak kenal?” tanyaku memulai.
“Ingat-lah…”
“Ingat? Jadi kamu ingat? Kalo gitu kenapa sikapmu seperti itu selama ini?”
“Ya nggak enak sama kawan-kawan kantor yang lain, Pak. Masa’ saya manggil nama gitu aja.”
“Alah… panggil namaku aja-lah.”
“Iya … (ia mulai memanggil namaku. Aku merasa lebih nyaman saat itu).”
Ya, Dis adalah kawanku saat kuliah di tahun 1993 dulu. Aku mengenalnya sebagai lelaki yang tak banyak bicara, pendiam, namun murah senyum. Saat kuliah aku tak begitu dekat dengannya. Tapi di semester 3 rasanya aku tak pernah melihatnya lagi. Entah kemana dia.
Sejak bertemu lagi di kantor ini, hubungan kami malah makin akrab. Di kantor ia memang tetap supir dan aku atasan. Tapi kami sudah tak lagi melihat itu. Bagaimana pun ia teman kuliahku, dan aku teman kuliahnya. Bukankah kapasitas, jabatan, serta besarnya nominal gaji tak membuat suatu perbedaan antara manusia dengan manusia lainnya. Bukankah itu bukan parameter dalam menilai kualitas seseorang.
Kini ia sudah menikah dan memiliki dua orang anak. Jalan hidup mengantarkan ia menjadi supir. Siapa yang bisa mengira. Kini aku bertemu lagi dengan orang yang pernah kukenal lebih dari 10 tahun lalu. Entah kenapa, akhir-akhir ini aku seperti dipertemukan kembali dengan orang-orang yang dulu pernah kenal denganku. Pertemuan yang tak diduga. Lantas berbagi cerita. Padahal aku sudah berhasil menghapus masa lalu dengan begitu sempurna. Masa lalu tidak memberikan ongkos apa-apa dalam menjalani hidup hari ini selain kenangan. Barangkali aku sedang diingatkan: tak baik melupakan begitu saja masa lalu. Karena dari sana kita bisa belajar serta mengambil manfaat serta hikmah yang ada. Meski hanya secuil. Bukankah masa lalu juga yang menghantarkan kita pada hari ini.
Dan pada suatu hari datang-lah Dis ke ruanganku. Ia menyodorkan surat. Katanya:
“Ini surat dokter waktu aku nggak masuk dua hari kemarin.”
“Hah?! Kamu masih penuh basa-basi aja! Kamu pikir aku nggak percaya kamu sakit?”
Dan ia hanya ngakak.
Bandung, 1 Oktober 2007, 21.25 wib.
