Perputaran daya hidup membuat namamu kembali terdengar dan dikumandangkan. Bukan sebagai semboyan atau sekadar bendera penghias dinding ruang tamu, tapi lebih dari itu: mencoba menempatkan sesuatu pada tempatnya. Pagi ini cukup Sam Soe kretek, kopi, dan diskusi sampai mati. Itulah semboyanmu: maju terus sampai mati. Meski sebutir peluru menghantarkan seseorang menjadi gubernur, sebagian orang masih lagi haram menyebut namamu, sementara sebagian lagi merinding setengah mati hanya karena mendengarnya. Mimpimu tersandung sepatu bot tentara. Rokok Sam Soe menjadi bara dan hitam kopi menjelma merah darah di pagi buta. Tidurlah. Tidurlah karena hanya tidur yang dapat melupakan penat di kepala, bising di telinga, luka di hati, dan cinta yang membuta. Gunung-gunung tetap bersembahyang, angin berdzikir, dan daun-daun tetap bertasbih. Biarkan yang lain bangun dan terus bergerak. Bukan untuk meneruskan mimpi atau cita-citamu, tapi: mencoba membuat dunia ini menjadi tempat yang lebih baik lagi.
Salam ya salam, Shanti om shanti, Haleluya…
Bandung, 30 September 2007.



