Balada Selembar Kartu
Published December 28, 2007
Dulu, entah di tahun 1996 atau 97, gara-gara selembar kartu lebaran, moncong mobilku pernah nyungsep nabrak pagar rumah tetangga sampai ambrol berantakan.
Gara-garanya, sesaat sebelum pergi dari rumah, pak pos datang membawa setumpuk kartu lembaran. Karena waktunya tak cukup untuk membaca satu per satu, akhirnya kartu itu langsung kubawa pergi.
Masih di dalam komplek perumahan, sambil nyetir, satu per satu kartu itu kubuka dan kubaca. Pas belokan, ketika sedang menikmati isi kartu, tanpa sadar moncong mobil meluncur terus menyeberangi selokan dan menghajar pagar rumah tetangga. BRAKKK!!!
Untung tetangganya baik. Dia malah menyarankan aku untuk memperbaiki bemperku yang sobek saja dulu. Kalau urusan bemper beres, baru malam harinya kembali ke rumah sang tetangga.
Ya, tiba-tiba saja aku jadi ingat kejadian nyaris 10 tahun lalu itu. Pasalnya, siang tadi aku mesti pulang ke rumah sejenak untuk suatu keperluan. Ketika hendak pergi lagi, kudapati sepucuk kartu untukku. Tumben, pikirku. Masih ada yang ngirim kartu via pos. Hehe!
Persis kejadian seperti 10 tahun lalu, karena tak cukup waktu, kartu itu kubawa dalam perjalanan kembali ke kantor. Ketika membuka kartu itu dan membaca isinya, yang ternyata ucapan tahun baru, si mobil oleng dan hampir menabrak mobil di depanku. Kali ini sudah tidak di komplek perumahan, melainkan sudah di jalan raya. Di Jalan Asia Afrika. Untung aku dapat dengan cepat menginjak pedal rem dan melempar si kartu ke kursi sebelah.
Olala! Kenapa kejadian seperti ini nyaris kualami lagi. Hanya gara-gara selembar kartu.
Jadi, siapa yang salah? Apakah kiriman via pos membahayakan pengendara, atau? Hihihi!
Bandung, 28 Desember 2007, 23.51 wib.
