Bagaimana cara marah? Adakah orang yang tidak pernah marah? (kalau orang yang sering marah, banyak. Hehe!). Tapi bagaimana cara marah yang proporsional? Saat memikirkan hal itu, aku sempat menulis cerpen tentang itu.

Namun satu hal yang pasti: tak banyak ketemui orang yang dapat marah secara proporsional. Memangnya bagaimana marah yang proporsional itu? Aku sendiri belum lagi tahu.

Aku sendiri selalu berusaha membedakan antara marah dengan perasaan. Ada perbedaan mendasar antara marah dengan urusan perasaan. Misalnya ketika sedang “bertengkar” dengan pacar di jalan, tapi dalam perjalanan pulang aku tetap menggenggam tangannya. Dengan begitu aku tak mencampur adukkan antara sedang marah dengan perasaan. Situasi boleh sedang marah, tapi tidak lantas mengurangi rasa sayang toh? Hehe!

Hari Jum’at lalu, karena suatu hal yang sangat-sangat prinsip mengenai pekerjaan, aku terpaksa marah pada kawan-kawan kantor. Marah dalam arti sebenarnya. Marah yang betul-betul marah.

Sesungguhnya aku berusaha tak harus marah. Namun yang terjadi sudah sangat-sangat prinsip sekali, sehingga tak patut kalau aku tak marah. Bayangkan, malamnya baru saja kita pulang dari liburan bersama. Tapi esok paginya tidak bisa tidak aku mesti marah pada mereka.

Kesalahan editor dan layouter sungguh tidak bisa ditolerir. Sudah melewati batas yang paling esensi. Print-out naksah sampai kubanting di depan mereka. Aku berusaha keras untuk tidak marah, tapi aku harus marah.

Yang terjadi, semua pada diam. Komunikasi jadi kaku. Tapi aku mesti lakukan itu. Setelah aku marah dan mengoreksi pekerjaan di ruangan mereka, kutinggal mereka ke ruanganku.

Tiba-tiba istri Kus (kebetulan sedang mampir), yang kupikir tak memerhatikan apa yang sedang bergolak di kepalaku, tiba-tiba menyodorkan sebatang coklat.

“Katanya semua bisa dicairkan dengan ini…” ujarnya tersenyum.

Mau tak mau aku jadi terbelalak. Dan betul saja, aku jadi tersenyum geli hanya karena satu kalimat yang ia ucapkan. (Istri Kus seorang editor di penerbit lain di Bandung. Mungkin ia bisa merasakan apa yang sedang kurasakan).

Dalam hati aku membatin: barangkali di sinilah luar biasanya peran seorang perempuan. Seorang istri.

Aku mengunyah coklat itu sembari tersenyum-senyum sendiri.

Seorang kawan pernah bercerita padaku. Suatu hari saat sedang diburu waktu, ia mesti mentransfer sejumah dana di bank. Waktu sudah sangat mepet, sementara ia belum lagi menemukan tempat parkir untuk mobilnya.

Karena jengkel, ia menelpon istrinya, dan marah-marah pada istrinya karena kartu ATM terbawa sang istri. Kalau saja si kartu tidak terbawa istri, barangkali ia tak mesti berkejaran dengan waktu dan mencari-cari tempat parkir di halaman bank.

Lalu kawanku itu melanjutkan cerita padaku, bahwa ia telah pacaran dengan istrinya sejak masih lagi di SMP. Jadi, istrinya sangat tahu betul bagaimana dirinya. Kata istrinya:

“Kamu sebetulnya tidak sedang marah sama aku. Tapi sedang marah pada dirimu sendiri. Kamu dikejar waktu, sementara kamu tidak nemu tempat untuk parkir mobil. Kamu merasa tertekan dan jengkel.” ujar istrinya.

Lantas kata kawanku lagi: “Tidak mudah untuk bisa marah secara proporsional. Istriku boleh jadi sangat-sangat mengenal aku. Ketika kupikir benar-benar, ya, rasanya aku memang sedang marah pada diriku sendiri. Karena kondisiku saat itu. Dibutuhkan kedewasaan yang sangat untuk dapat marah secara proporsional. Tapi kita tetap mesti marah untuk hal yang patut kita marah.”

Dan aku masih lagi mengunyah coklat itu sembari tersenyum-senyum sendirian. Sableng!

Jadi bagaimana cara marah yang proporsional itu?

Bandung, 29 Desember 2007, 23.26 wib.