Archive for April, 2008

30 April 2 Tahun Lalu

Pramoedya Ananta Toer adalah satu dari sederet sastrawan Indonesia terdepan yang dimiliki negeri ini. Puluhan buku lahir dari tangannya. Sebagian besar telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 40 bahasa di dunia.

 

Ia dilahirkan di Blora pada 6 Februari 1925. Sulit membicarakan sastra Insdonesia tanpa menyebut namanya. Sesulit membayangkan sebagai sastrawan internasional ia menjadi paria di negeri sendiri.

 

Namun aku sedang tak bermaksud menceritakan tentang siapa dan bagaimana itu Pramoedya. Aku hanya sedang ingin mengingat 30 April 2 tahun lalu.

 

30 April 2006 Pram mengehembuskan nafas terakhirnya di Jakarta dan dimakamkan di pemakaman umum Karet-Bivak, Jakarta.

 

Dia telah pergi ke tempat ke mana setiap orang akan dan sedang pergi…

Negeri Irasional Versus Cara Berpikir

Senin malam lalu seorang kawan bertanya padaku: kapan keputusan akan suatu hal bakal kusampaikan. Kukatakan: mestinya hari ini. Tapi tampaknya mesti kuendapkan dulu, agar keputusan yang telah diambil tak jadi sentimentil ketika disampaikan.

“Kapan jadinyanya? tanyanya lagi.

“Paling lambat besok Selasa.”

“Lahir hari apa?” tanyanya tiba-tiba.

“Ha? Halah! Mau menetapkan hari baik ya? Hahaha! Kamu boleh pakai cara itu untuk dirimu, tapi teori semacam itu tak berlaku untukku.” tapi kusebutkan juga hari lahirku sekadar untuk berkelakar.

“Berarti jangan kau sampaikan hari Rabu.” ujarnya mantap.

Ya ampun… Dalam hati aku berpikir: masih ada hitungan-hitungan seperti ini rupanya. Akhirnya kuajak saja ia berdiskusi. Tidak serius memang, tapi paling tidak aku mengemukakan argumenku.

Kira-kira begini obrolan kami:

Continue Reading »

Gerombolan Nostalgia

Sabtu malam lalu ditunggu kawan-kawan lama di café (lagi-lagi café!). Sudah berdering telpon menungguku. Rupanya ini gerombolan kawan lama yang kembali bertemu di Bandung. Beberapa sengaja datang dari luar kota.

 

Ada si pengusaha percetakan, ada si pemimpin umum sebuah harian, ada si aktivis partai, ada si direktur penerbitan, ada si pengusaha café, ada si penulis, ada si fotografer, ada si pedagang, ada si layouter, dan ada yang nggak jelas, karena selama ini kalau ditanya cuma meringis. Hehe!

 

Ketika aku datang sudah pukul 22 malam. Gerombolan ini sedang berfoto di depan café. Kawan-kawan hanya berteriak: “Huuuu…” melihat kedatanganku yang telat. Aku menyeruak kerumunan barisan. Foto-foto dilanjutkan. Aku nyempil di antara kerumunan.

 

“Ayoh!” seru salah seorang kawan.

“Lho, kemana? Aku baru datang begini.”

“Udahlah, pokoknya ikut. Acara laki-laki malam ini!” Busyet!

“Hei… kemana?”

“Nanti aja kita jelasin di jalan.”

Continue Reading »

The Problem Is Not The Problem

 

Sabtu sore lalu aku “menyidang” salah seorang stafku di kantor. Waktu “penyidangan” ini sudah kuulur beberapa hari lamanya hingga akhirnya aku mendapatkan waktu yang betul-betul pas.

 

Sebetulnya aku segan mesti melakukan “penyidangan” terhadap staf di kantor. Tapi akan lebih parah akibatnya kalau sesuatu yang tidak berjalan di atas relnya justru dibiarkan.

 

Akhirnya ia duduk di tentangku dalam ruanganku. Hanya berdua. Kusodorkan sebuah harian yang memuat surat pembaca dari seseorang tentang perusahaan ini.

Continue Reading »

Proses Kreatif Seorang Seniman

Adalah betul bahwa ide bisa datang dari mana saja. Tapi ide saja masihlah sebagian dari bentuk jadi itu sendiri. Mempelajari proses kreatif seseorang dalam mencipta terkadang mengasyikan.

 

Tak aneh bila proses kreatif suatu karya terkadang lebih dahsyat dari karya itu sendiri. Ada pengalaman batin yang tak terkira mahalnya bagi seorang kreatif.

 

Malam tadi sempat nongkrong di suatu kafe bersama teman-teman. Ini juga bagian dari menikmati hidup. Tak melulu berkutat soal pekerjaan. Meski hanya itu yang terlintas di kepala setiap menitnya. Hehe.

 

Selain teman-teman, ternyata di sana ada Ferry Curtis, teman penyanyi yang kukagumi. Kali pertama melihatnya saat ia menyanyi di Sastra Unpad, Jatinangor. Entah tahun berapa, lupa. Saat itu aku terkesima.

 

Begitu turun panggung aku langsung menghampirinya. Tanpa malu-malu kukatakan saja kekagumanku atas lagu-lagunya. Kita jadi berbincang akrab. Kuberikan sepucuk bukuku kepadanya sebagai hadiah perkenalan yang mengasyikan.

Continue Reading »

Next Page »