Senin malam lalu seorang kawan bertanya padaku: kapan keputusan akan suatu hal bakal kusampaikan. Kukatakan: mestinya hari ini. Tapi tampaknya mesti kuendapkan dulu, agar keputusan yang telah diambil tak jadi sentimentil ketika disampaikan.

“Kapan jadinyanya? tanyanya lagi.

“Paling lambat besok Selasa.”

“Lahir hari apa?” tanyanya tiba-tiba.

“Ha? Halah! Mau menetapkan hari baik ya? Hahaha! Kamu boleh pakai cara itu untuk dirimu, tapi teori semacam itu tak berlaku untukku.” tapi kusebutkan juga hari lahirku sekadar untuk berkelakar.

“Berarti jangan kau sampaikan hari Rabu.” ujarnya mantap.

Ya ampun… Dalam hati aku berpikir: masih ada hitungan-hitungan seperti ini rupanya. Akhirnya kuajak saja ia berdiskusi. Tidak serius memang, tapi paling tidak aku mengemukakan argumenku.

Kira-kira begini obrolan kami:

Barangkali hitungan-hitungan semacam itu kalau ditelaah lebih jauh ada benarnya. Bisa jadi berangkat dari kebiasaan, perhitungan yang matang, dan kecenderungan manusia. Hal itu tak mungkin sekonyong-konyong keluar dari cara berpikir. Aku yakin, semua itu merupakan perjalanan budaya manusia dari satu generasi ke generasi selanjutnya.

Hanya saja, cara penyampaiannya selalu dikaitkan dengan mistis, dianggap sebuah kelebihan manusia dalam meramal, dan pola berpikir masyarakat yang menganut bahwa orang yang lebih tua selalu benar dalam segala hal.

Andai saja perhitungan-perhitungan semacam itu disampaikan dengan logika yang nyata, barangkali penerimaannya pun akan lebih terbuka dan cara berpikir secara kolektif tidak melulu menyandingkannya dengan sesuatu yang berdekatan dengan hal mistis.

Adalah agama yang turun tangan dalam membedah kaitan-kaitan mistis di sana sebagai sesuatu yang mendekati musyrik. Tapi dalam hal ini aku tidak ingin menyodorkan agama sebagai parameter dalam melihat persoalan. Aku ingin membawanya pada logika berpikir manusia secara sederhana saja.

“Mungkin begitu cara orang tua zaman dahulu menyampaikan. Sehingga terbawa terus.”

“Justru di situlah yang kumaksud mesti dilawan dengan sesuatu yang rasional. Mesti ada generasi yang memutuskan rantai cara berpikir irasional.”

Raja-raja Jawa kuno membangun pemikiran adanya Nyai Rorokidul yang menguasai laut selatan dan mereka menciptakan mitos kawin dengannya begitu mengetahui Jawa telah dikalahkan oleh Barat. Kenapa?

Karena dalam budaya Jawa tak ada istilah kalah. Yang ada adalah: raja selalu menang dan benar. Maka diciptakanlah kerangka pikiran bahwa Raja Jawa masih berkuasa dan punya kekuasaan. Mereka sakti dan tetap memiliki kekuatan.

Dengan begitu, raja masih dianggap segala-galanya. Dan keluarga raja tetap berada di atas, populer, serta disegani. Keturunan raja sekadar menikmati sisa-sisanya. Semua berangkat dari mitos.

Pramoedya Ananta Toer dalam roman-romannya nyaris melabrak segala sesuatu yang berbau mitos. Ia mencoba menyodorkan rasionalitas dalam cara berpikir melalui tokoh-tokoh rekaannya.

Baru Klinting, tombak Ki Ageng Mangir ia wujudkan sebagai manusia dalam Mangir. Pram mencoba menghindari sesuatu yang membuat orang menjadi irasional dalam berpikir. Pram tahu, jika cara berpikir irasional terus dilestarikan, akan bermanifestasi pada tindakan yang irasional pula. Maka akan terjadilah budaya-budaya irasional, manusia-manusia irasional, dan terbentuklah sebuah negara irasional.

Aku bukan menolak segala sesuatu yang diturunkan oleh orangtua-orangtua zaman dahulu. Sejauh itu dibawa dalam nampan rasionalitas cara berpikir, dan mampu menyodorkan argumen sebagai dasar alasan yang dapat dipertanggungjawabkan, kenapa tidak.

Akan tetapi, analogi cara berpikir yang mengatakan bahwa: jangan duduk di tengah pintu, Kau bakal sulit jodoh, ketika ditanyakan kenapa? tidak bisa menjawab, lalu ujung-ujungnya hanya menyisakan jawaban: “ya turuti saja, itu kata orangtua”, ya maaf saja kalau aku mesti meninggalkan cara berpikir orang macam itu sembari mungkin membatin: betapa kerdilnya cara berpikirnya.

Aku bersyukur dilahirkan oleh orangtua yang moderat dari segi cara berpikir, juga diturunkan oleh kakek nenek yang juga telah berpikir moderat, di mana anak-anak serta cucunya mengecap pendidikan tinggi dan memasuki ranah pekerjaan yang tidak bias.

Tetapi, nyatanya lingkungan keluarga bukanlah satu-satunya penentu cara berpikir seorang manusia. Lingkungan keluarga adalah ranah ideal, tetapi di situ pulalah kenyataan hidup dimulai.

Namun, bukankah manusia pun bisa mengusahakan lahirnya syarat-syarat baru, kenyataan baru, dan tidak hanya berenang di antara kenyataan-kenyataan yang telah tersedia, kata Mingke (dalam roman Rumah Kaca, hal. 339).

kita semua harus menerima kenyataan, tapi menerima kenyataan saja adalah pekerjaan manusia yang tak mampu lagi berkembang. Karena manusia juga bisa membikin kenyataan-kenyataan baru. Kalau tak ada orang mau membikin kenyataan-kenyataan baru, maka “kemajuan” sebagai kata dan makna sepatutnya dihapuskan dari kamus umat manusia (Rumah Kaca, 436).

Begitulah secuil diskusi dengan temanku itu.

Bandung, 28 April 2008, 23.37 wib.