Epitaph (1)
Published May 16, 2008
1
Prolog
Ini adalah sebuah catatan. Setumpuk catatan milik seorang kawan. Berupa rekaman atas sebuah peristiwa. Pengalaman pribadi, begitu katanya. Aku sendiri enggan membacanya. Mengapa aku harus membaca sebuah catatan harian seseorang? Adakah sesuatu yang istimewa di dalamnya?
Kalau isinya cuma soal cinta atau luka yang menganga karena patah hati, lebih baik lupakan saja. Klise! Berjuta ragam cerita cinta, baik yang membahagiakan maupun yang berakhir dengan duka nestapa, sudah ditulis manusia sejak dulu hingga kini.
Cinta memang tak pernah mati, tak pernah kering, juga tak pernah surut dikomsumsi manusia. Cinta memang dapat membuat manusia tetap hidup, tetap bertahan, tidak mudah menyerah, dan berani untuk terus bermimpi. Tapi cinta pun tak kalah dahsyat dalam menghancurkan, memporak-porandakan, serta meniadakan hidup manusia.
Memang orang bisa punya seribu juta argumen kalau sudah berbicara tentang cinta. Namun aku sendiri sudah enggan mengkonsumsi hal-hal yang berbau cinta.
Cinta bagiku hanya indah saat dibaca di buku-buku roman yang menghanyutkan. Setelah itu, cinta cukup ditaruh di rak-rak buku perpustakaan saja. Hingga suatu hari nanti, jika kerinduan tersempat datang pada cinta, kita tinggal membukanya kembali serta membacanya dengan penuh kegenitan.
Apakah cinta sekadar bentuk teks? Entahlah. Tapi cinta juga seperti halnya saat kita membuka sebungkus album foto tua berisi kenangan-kenangan lama yang sudah entah tercerabut ke mana. Bisa jadi ada rindu, nestapa, dan seribu perasaan sentimentil di sana. Tapi tak apa toh.
Karena betapa seperti apa rasa yang terbit, tetap saja ia sekadar sebungkus album foto tua yang tak dapat berbuat apa-apa. Hanya pantas untuk dikenang. Ya, dikenang. Betapa manis dan pahit ceritanya, tetap indah untuk dikenang. Meski terkadang mengenang kerap menyiksa jiwa. Tetapi sebagai album foto tua: patut cukup dikenang saja.
Maka kedatangannya di Minggu sore lalu dengan segala semangat yang membabi-buta cukup menghentak perhatianku juga. Haikal nama lelaki itu. Sudah puluhan tahun aku mengenalnya. Sejak di bangku Sekolah Dasar, hingga kini sama-sama berusia tiga puluh lima tahun. Meski begitu kami jarang bertemu. Jarang pula berkomunikasi. Ia seorang kawan lama yang kini muncul kembali dengan tiba-tiba.
Sore itu dengan gopoh-gapah ia memboyong setumpuk catatan ke atas meja perpustakaanku di rumah. Setumpuk!
Bersambung…
