“LARAS PULANG hari Kamis, Ma. Semua syuting darat sudah selesai. Senin besok tinggal pengambilan gambar dari atas. Mudah-mudahan Kamis sudah bisa balik ke Jakarta.” seruku dalam bilik telpon di sebuah wartel di kota Medan.
“Iya, tapi makanmu gimana?”
“Lancar, Ma…”
“Bersih?”
“Iya, Ma…”
“Begadang?”
“Nggak Ma… Keburu capek setelah kerja seharian.”
“Mandinya?”
“Mama, please… Anak gadis mama ini bukan anak kecil lagi… Kita ‘kan di hotel.”
“Iya, tapi kamu ‘kan suka asal kalo udah sok sibuk kayak gitu.”
“Hehe, itu Mama tau…”
“Tuh kamu suka gitu kalo dibilangin,”
“Iya-iya…”
“Sudah kemana saja?”
“Nggak banyak, Ma, tapi lumayan sempet muter-muter sih. Sempet mampir juga ke tetangga di Gang Najib dulu. Mereka kaget Laras datangi. Kita sempat potret-potret. Nanti Mama liat deh. Mereka titip salam untuk semua.”
“Ya sudah. Hati-hati, Laras. Kalau sudah selesai, jangan lama-lama di Jakarta. Cepat pulang ke Bandung. Makannya dijaga.”
“Iya, Ma, iya… Sebelum pulang Laras telpon lagi. Salam buat bapak, Arman juga Ria, Ma.”
“Iya. Salam juga buat Tedi sama Yudin.”
“I love you, Mom…”
“I love you too…”
Aku tertegun beberapa saat. Sayang, aku hanya sempat berbicara pada mama. Bapak, Arman dan Ria sedang tidak di rumah. Padahal aku ingin ngobrol dengan mereka semua. Ngobrol dengan bapak tentang perkunjunganku pada tetangga rumah saat kami masih tinggal di Medan dulu. Atau ngoceh tentang rencana naik helikopter dengan kakakku Arman atau Ria adikku. Tapi, ya sudahlah…
Aku keluar dari bilik telpon.
“Gimana… udah kangen-kangenannya?” ledek Yudin saat aku membayar ongkos telpon.
Aku hanya tersenyum. “Hanya ada mamaku di rumah.”
“Halah-halah… baru ke Medan seminggu aja udah sebegitu kangennya… Medan masih Indonesia, Neng.” Tedi ikut meledek.
“Heh, Lu pada nggak punya emak ya?” balasku tak kalah sewot.
“Haikal nggak ditelpon sekalian…” Yudin meneruskan.
“Salam dari mamaku buat kalian tuh.”
“Haikal?”
“Rese Lu ah!”
“Hahaha!” mereka ngakak.
Aku, Tedi, dan Yudin sama-sama kuliah di IKJ[6]. Aku baru masuk tahun ketiga. Sementara Tedi dan Yudin sudah di tahun keempat. Selain kuliah, kami biasa nge-job sana-sini. Entah bantu-bantu bikin iklan, sinetron atau videoklip musik. Menyenangkan memang. Karena dari situ aku bisa kenal orang-orang yang mati hidup di dunia film. Selain uang (tentu saja!), aku jadi banyak belajar tentang dunia yang bakal kugeluti nantinya.
Di kampus kami memang tidak seangkatan. Mereka lebih dulu masuk IKJ ketimbang aku. Tapi dunia alam bebas mempertemukan kami. Kami sama-sama gemar naik gunung beramai-ramai. Atau sekadar nyeruput kopi di puncak. Lama-lama kami jadi akrab. Lalu mulai mencari kegiatan yang lebih mendukung kuliah kami.
Yudin mengambil jurusan Tata Suara. Sementara aku dan Tedi di jurusan Fotografi Film di fakultas yang sama, Fakultas Film dan Televisi. Sudah macam-macam iklan yang kami ikut buat. Yang kumaksud dengan buat adalah: bantu-bantu. Karena kami tentu saja masih anak kemarin sore di dunia ini. Tapi kami bekerja di sebuah PH[7] milik seorang alumni kami. Meski masih berupa ajang belajar, ada juga kebanggaannya saat aku nonton tv di rumah. Aku bisa berceloteh tentang ini-itu saat iklan atau sinetron di mana aku ikut menggarapnya sedang ditayangkan.
Maka ketika pak Birhi Lantang, seorang wartawan senior majalah Prospek, yang juga mantan koresponden majalah Tempo, mendapat order menggarap sebuah film dokumenter dari sebuah BUMN[8] di daerah Sumatra Utara, beliau menyewa peralatan serta kru dari PH di mana tempat kami bekerja. Maka di sinilah kami berada.
Bersambung…
(Seluruh cerita Epitaph dapat dilihat di: Nukilan).
© Daniel Mahendra



