Mengapa 20 Mei Dijadikan Hari Kebangkitan Nasional?
Pertanyaan itu kulontarkan pada beberapa kawan. Rata-rata jawaban yang kudapat: karena saat itu lah Boedi Oetomo didirikan. Ada apa dengan Boedi Oetomo? tanyaku kemudian. Lanjutan jawaban yang kudapat: karena Boedi Oetomo dianggap sebagai organisasi modern pertama, di mana sampai dengan 1908 belum ada organisasi modern yang didirikan dalam pola pikir semangat kebangsaan secara nasional.
Organiasi modern? Apa pengertian organisasi modern saat itu? Apakah organisasi bentukan para mahasiswa kedokteran School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) itu disebut sebagai organisasi modern? Apakah pengertian organisasi modern adalah sekumpulan orang yang bekerja sama dan mempunyai tujuan tertentu plus dengan dilengkapi AD/ART?
Bagaimana dengan pola pikir kebangsaan secara nasional? Tak dapat dipungkiri, AD/ART Boedi Oetomo (kalau pengertian modern adalah dengan dilengkapinya organisasi tersebut dengan AD/ART, di mana perkumpulan yang ada saat itu belum mengenal AD/ART) menggunakan Bahasa Belanda. Bahasa Belanda!
Siapa yang bisa menjadi anggota Boedi Oetomo? Tak syak lagi: priyayi Jawa. Bahasa apa yang digunakan dalam percakapan organisasi? Bahasa Jawa. Bagaimana kalau ada orang Jawa yang bukan priyayi? Jelas tak bisa jadi anggota. Bagaimana kalau ada priyayi Sunda yang jelas-jelas bukan Jawa? Jelas tak bisa jadi anggota. Lantas di mana pola pikir kebangsaan secara nasionalnya?
Orang Sunda, orang Minang, Orang Bali, Orang Manado, dan orang-orang bukan Jawa lainnya jelas tak dapat menjadi anggota Boedi Oetomo. Jadi, untuk tujuan siapa organisasi didirikan? Menyatukan pola pikir nasional atau sekumpulan para priyayi Jawa semata?
Pada kongres pertama Boedi Oetomo, Bupati Karanganyar, Tirtokoesoemo, secara aklamasi terpilih sebagai ketua. Semangat jiwa muda yang diusung Sutomo, Gunawan, dan Tjipto Mangunkusumo, dll pun berangsur-angsur menguap dan hijrah ke golongan tua. Golongan yang secara kapasitas memiliki kekuasaan terstruktur.
Aku sama sekali tidak menafikan apa yang sudah digagas dan diperbuat oleh Boedi Oetomo. Aku tetap menghormatinya. Hanya saja, jika pengertian “kebangkitan nasional” adalah masa bangkitnya semangat persatuan, kesatuan, dan nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, yang sebelumnya tidak pernah muncul selama penjajahan 350 tahun, mengapa Boedi Oetomo yang dijadikan parameter?
Bandung, 20 Mei 2008, 17.04 wib
100 tahun sejak 1908, what have we done, eh?


Kenapa tak kau lanjutkan untuk mengulas lebih dalam Medan Prijaji dan Mas Adisuryo (Minke) ?
Bagiku kebangkitan nasional itu ya 17 Agustus 1945 atau malah peristiwa Sumpah Pemuda sekalian.
@ DV:
Sengaja.
Masalahnya bukan pada ‘Mengapa 20 Mei dijadikan Hari Kebangkitan Nasional’tapi mungkin pada ‘Mengapa Budi Utomo dijadikan tonggak kebangkitan Nasional’ karena pada dasarnya penetapan hari besar Nasional dilakukan dengan mempelajari sejarah dan bukti yang ada pada saat itu.
Jika sejarah itu menjadi berkembang dengan waktu dengan bukti2 dan penemuan baru, maka tak ada yang salah
dengan tanggal itu…….
Hmmm….pertanyaan yang sama. Tapi gpp lah sedikit kompromi, itung2 ada milestone buat starting, setidaknya ada tonggak dimana ada beberapa dr bangsa kita yang telah mengenyam peradaban Eropa mampu menerjemahkan dalam konteks lokal. Dan ternyata setelah 100 tahun kebangkitan nasional, sebenernya mungkin cuma pengakuan sebagai bangsa dan negara yg berdaulat secara hukum di mata international saja yg baru kita punya, selebihnya baik dari sisi sosial, politik, dan utamnya ekonomi masih menghamba kepada kepentingan yang terkuat di muka bumi ini…..,setidaknya itu yg aku alami sehari2 dalam menjalankan profesi di sebuah MNC xxx ……
@ Prameswari:
Sama saja sebetulnya. Kalau bicara 20 Mei, ya merujuknya pada B.O. Karena pada 20 Mei 1908, jam 09 pagi, Sutomo dan kawan-kawannya berkumpul di salah sebuah ruang kelas di STOVIA. Hari itu dianggap berdirinya B.O.
20 Mei ya B.O. Yang dipersoalkan kan kenapa “Kebangkitan Nasional” dijatuhkan pada 20 Mei yang notabene hari berdirinya B.O.
Justru kalau sejarah menjadi berkembang serta diikuti dengan bukti-bukti dan penemuan baru, maka ada yang salah dengan tanggal itu.
@ Cak Ri:
Analisamu menarik, Cak. Aku suka. Tapi MNC? Ada apa dengan MNC? Kau kerja di sana sekarang?
MNC = MultiNational Company , bukan MNC yang itu tuh…….
@ Cak Ri:
Hehehe! Kirain sudah merapat ke sana…
ooo….klo yg itu, sekarang posisinya sebagai customer…..
saya tertarik dengan pembahasan di site ini, dan yang paling tertarik saya adalah ketika di kembangkan permasalahan dan kita lihat sampe sekarang, seperti nya ada pertarungan kebudayaan di INDONESIA. misalnya adalah dengan penghapusal penjelasan pasal 18 UUD 1945 tentang penjelasan pemakaian nama untuk daerah terkecil ” desa untuk jawa, nagari untuk minang dan dusun untuk palembang.” dan masih banyak yang lain. dan dari ini ada timbul satu pertanyaan di benak saya, berdasarkan sejarah yang ada. dimana Presiden Indonesia dari awal adalah KAUM elite JAWA. pertanyaannya KAPAN KAH ORANG SELAIN JAWA AKAN MENJADI PRESIDEN??
wah bener tu rafles, saya setuju dengan pendapat tentang pertarungan budaya yang anda sampaikan. kita lihat zaman ORDE BARU dengan pimpinan soeharto dimana beliau mengatakan bahwa indonesia sebaiknya memakai satu budaya saja yaitu budaya jawa. Nah ini jelas sudah pertarungan budaya dengan cara menindas budaya lain dan menaikan budaya yang satu. dengan demikian bangsa kita sebanarnya masih di dalam penjajahan. bahkan di jajah oleh bangsa sendiri
saya mendapatkan sesuatu yang menarik tentang B.O di website berikut
http://www.islamuda.com/?imud=rubrik&menu=cetak&kategori=1&id=495
@ Rafles dan Doni:
Terima kasih atas komentarnya.
Diskusinya akan lebih menarik lagi jika dapat dibedah lebih dalam lagi.
Aku selalu terbakar jika sudah berbicang soal ini.
yupe, jangan sampai hagemoni terjadi di negeri sendiri, antar anak bangsa sendiri.
@DM: weh, sampai terbakar?
kk, jadi apa jawabannya, kenapa lahirnya Boedi Oetomo dijadiin hari kebangkitan nasional? plss kk, buat ngerjain PR nih
Hari kebangkitan nasional atau bukan, yang penting kita sebagai anak bangsa sangat beruntung mempunyai keturunan ningrat (yang bisa mengenyam pendidikan dari politik etis Belanda) yang sadar akan penindasan Belanda. yaitulah Dr. Soetomo. yang perjuangannya dilanjutkan Ki Hajar Dewantoro dengan mendirikan Taman Siswo yang cakupannya sudah Nusantara.
Akan tetapi, sudah benarkah yang dilakukan bangsa kita saat ini?
Katanya Merdeka………………..
Tapi Mana?…………………..
Apakah ada yang keliru?……….
Terus apa yang keliru?……..
Kenapa bangsa kita tidak seperti negara-negara lain?
kita sama-sama merdeka…….
kekayaan alam kita punya……
Bangsa Indonesia