Pertanyaan itu kulontarkan pada beberapa kawan. Rata-rata jawaban yang kudapat: karena saat itu lah Boedi Oetomo didirikan. Ada apa dengan Boedi Oetomo? tanyaku kemudian. Lanjutan jawaban yang kudapat: karena Boedi Oetomo dianggap sebagai organisasi modern pertama, di mana sampai dengan 1908 belum ada organisasi modern yang didirikan dalam pola pikir semangat kebangsaan secara nasional.

 

Organiasi modern? Apa pengertian organisasi modern saat itu? Apakah organisasi bentukan para mahasiswa kedokteran School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) itu disebut sebagai organisasi modern? Apakah pengertian organisasi modern adalah sekumpulan orang yang bekerja sama dan mempunyai tujuan tertentu plus dengan dilengkapi AD/ART? 

Bagaimana dengan pola pikir kebangsaan secara nasional? Tak dapat dipungkiri, AD/ART Boedi Oetomo (kalau pengertian modern adalah dengan dilengkapinya organisasi tersebut dengan AD/ART, di mana perkumpulan yang ada saat itu belum mengenal AD/ART) menggunakan Bahasa Belanda. Bahasa Belanda!

Siapa yang bisa menjadi anggota Boedi Oetomo? Tak syak lagi: priyayi Jawa. Bahasa apa yang digunakan dalam percakapan organisasi? Bahasa Jawa. Bagaimana kalau ada orang Jawa yang bukan priyayi? Jelas tak bisa jadi anggota. Bagaimana kalau ada priyayi Sunda yang jelas-jelas bukan Jawa? Jelas tak bisa jadi anggota. Lantas di mana pola pikir kebangsaan secara nasionalnya?

 

Orang Sunda, orang Minang, Orang Bali, Orang Manado, dan orang-orang bukan Jawa lainnya jelas tak dapat menjadi anggota Boedi Oetomo. Jadi, untuk tujuan siapa organisasi didirikan? Menyatukan pola pikir nasional atau sekumpulan para priyayi Jawa semata?

 

Pada kongres pertama Boedi Oetomo, Bupati Karanganyar, Tirtokoesoemo, secara aklamasi terpilih sebagai ketua. Semangat jiwa muda yang diusung Sutomo, Gunawan, dan Tjipto Mangunkusumo, dll pun berangsur-angsur menguap dan hijrah ke golongan tua. Golongan yang secara kapasitas memiliki kekuasaan terstruktur.

 

Aku sama sekali tidak menafikan apa yang sudah digagas dan diperbuat oleh Boedi Oetomo. Aku tetap menghormatinya. Hanya saja, jika pengertian “kebangkitan nasional” adalah masa bangkitnya semangat persatuan, kesatuan, dan nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, yang sebelumnya tidak pernah muncul selama penjajahan 350 tahun, mengapa Boedi Oetomo yang dijadikan parameter?

 

Bandung, 20 Mei 2008, 17.04 wib

100 tahun sejak 1908, what have we done, eh?