Epitaph (6)

“Jadi, kemana kita sekarang?” tanya Yudin sembari menyulut rokok.

“Naik becak putar-putar Medan kayaknya asyik.” usulku.

“Naik becak? Nggak salah, Ras?” Tedi mengernyitkan alis.

“Mumpung di Medan nih. Di Jakarta mana bisa puter-puter pake becak.”

“Idemu kadang sableng!”

“Yah… muter-muter aja. Siapa tau nemu tukang duren.”

“Duren? Wah… menarik! Lumayan juga usul Lu, Ras.” sambut Yudin bersemangat.

“Ini mungkin malam terakhir kita di Medan nih… Besok-besok belum tentu kita sempat makan duren.” tukasku pelan.

“Duren melulu pikiran Lu!”

“Iya, tapi jangan ngomong malam terakhir dong… Besok setelah terbang ‘kan, kita nggak langsung cabut ke Jakarta.”

Maka bertiga kami putar-putar kota Medan: mencari tukang duren! 

MEDAN BUKANLAH kota baru bagiku. Aku sempat menghabiskan masa kecilku di kota ini. Saat itu bapak memang ditugaskan di sini. Dalam ingatanku, dulu setiap hari minggu tiba, kami selalu menghabiskan akhir minggu dengan berlibur sekeluarga. Entah itu ke Danau Toba, Brastagi, Pemantang Siantar, Belawan, atau mandi di Sibiru-biru. Setiap hari Minggu! Masa kecil yang indah.

Tetangga sebelah rumah kami adalah sebuah keluarga keturunan Pakistan. Si Bapak berjualan bandrek, sementara si ibu dagang kodok-kodok, sejenis makanan yang terbuat dari singkong. Kalau sore sebelum berangkat ngaji ke langgar dengan Arman kakakku, aku selalu minta jatah sisa kodok-kodok yang tak terjual. Ya, sempat beberapa tahun aku tinggal di Medan.

 

Sebelum pindah ke Bandung, aku sempat bersekolah sampai dengan kelas satu di SD Harapan Medan. Aku ikut pramuka Siaga. Meski Siaga, aku sempat diajak bapak melongok Jambore Nasional di Bumi Perkemahan Sibolangit. Masa kecil yang kembali hadir di saat usiaku menjelang dua puluh dua tahun.

 

Menulusuri kota Medan membuatku teringat pada salah sebuah kejadian di sore hari bersama Arman. Saat itu Arman bersama teman-temannya sepakat beradu menyeberang sungai dengan cara merayap di besi pipa air. Pipa itu kecil sekali ukurannya. Dan mereka nekat mengadakan perlombaan: siapa yang berani merayapi pipa air itu ke seberang sungai tanpa terjatuh ke dalamnya. Sungguh gila! Ternyata tak ada yang berani melakukan itu.

 

Dalam bayanganku, sungai itu nampak deras, kotor dan berwarna coklat pekat. Masyarakat sekitar menamainya sungai busuk. Tapi apa yang dilakukan Arman: ia naik ke tembok pipa, dan mulai bergelantungan pada pipa air. Anak-anak bersorak-sorak menyemangati. Kakakku memang pintar menarik perhatian. Di antara teman sepermainan, ia selalu menjadi pemimpin dan dikenal pemberani.

 

Maka saat anak-anak ribut menyoraki Arman, aku malah berteriak-teriak menyuruhnya kembali. Aku khawatir ia terpeleset dan jatuh tercebur ke dalam sungai. Aku sendiri heran, kenapa aku jadi ingat kejadian itu. Mungkin karena itulah untuk kali pertama aku merasa ketakutan akan kehilangan seorang kakak.

 

Aku berteriak dan terus berteriak. Tapi Arman yang mendengar teriakanku malah melambaikan tangannya ke arahku. Aku bergidik dibuatnya. Ia malah tersenyum bangga.

 

Akhirnya sampai juga ia ke tepi sungai. Aku bisa bernafas lega. Bahkan melonjak-lonjak kegirangan. Ketika ia kembali menyeberangi sungai melewati jembatan, ia datang menghampiriku, “Hebat ya?” ujarnya bangga. Ia tidak tau, betapa ketakutannya aku tadi.

 

Jadinya sesore itu kita bermain-main di pinggiran sungai, sembari menonton peserta berikutnya unjuk keberanian. Saat itu aku bangga sekali pada Arman. Dia bisa membuktikan pada kawan-kawannya: bahwa sungai itu tak ada apa-apanya. Maka kini giliranku menyoraki kawan-kawan Arman merayapi besi pipa air yang membentang lebar sungai.

 

Menjelang Maghrib kami pulang. Badan kami dekil sekali. Dan tentu saja bapak marah melihat kami pulang dalam keadaan kumal seperti itu. Berdua kami disetrap di halaman rumah. Bapak duduk di kursi teras. Kami disuruh berdiri dalam waktu cukup lama.

 

Meski bapak marah, kami malah cekikikan. Karena masih teringat pengalaman hebat di tepi sungai sore tadi. Bapak tidak mengizinkan kami masuk ke dalam rumah sebelum kami membersihkan badan di kamar mandi belakang.

 

Maka di kota ini, aku mengenangkan kembali gambar-gambar masa kecilku yang berkelebatan. Betapa dahsyatnya memory otak manusia dibandingkan harddisk komputer.

 

Bersambung…

 

(Seluruh cerita Epitaph dapat dilihat di: Nukilan). 

© Daniel Mahendra

This entry was posted in Nukilan and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>