penganyamkata.net
current   |   rss

Sayapku Nyaris Patah-patah

Published May 29, 2008

Tidak sampai seminggu, aku mesti berkunjung ke sebuah SMA lagi. Kalau minggu lalu ke SMAN 39 Jakarta, kini ke sebuah SMA di Bandung saja, SMK 11 Bandung.

 

Dalam rangka? Kalau minggu lalu jadi juri lomba mading tingkat SMA propinsi DKI Jakarta, kali ini diminta berbicara soal novel pada anak SMA.

 

Tak hanya itu, kata panitia yang mengontakku. Setelah acara di SMA, STV, sebuah stasiun tv lokal Bandung, memintaku berbicara soal tema yang sama. Rupanya ini satu paket.

 

Aku sempat ragu mengiyakan ketika Ilva berkali-kali menelponku. Bukan apa-apa, pikiranku sedang bercabang. Pekerjaan sedang seabrek. Sayapku nyaris patah-patah. Tapi setelah kupikir-pikir, memangnya ada saat di mana pekerjaan tidak seabrek? Sementara jawabanku ditunggu segera. 

Bangun pagi hari ini aku berbicara pada semesta: tolong dukung aku menjalani hari ini. Tak selamanya aku kuat kalau mesti memanggul seorang diri. Sekonyong-konyong telpon dan SMS bertubi-tubi masuk dari berbagai arah. Esensi isinya: “You are not alone, Dan!Law of Attraction kurasakan betul-betul berjalan.

Tak berapa lama, Ilva, si gadis manis mungil itu kembali mengontakku:

“Gimana, Niel?”

“Ehmmm…”

“Bisa kan?”

“Oke. Kamu jemput aku ke kantor tapi.”

“Nggak bisa ke STV aja? Dari sana kita bisa bareng.”

“Ehm, nggak praktis, Va. STV di Bandung utara, aku di Bandung selatan, dan aku sedang repot sekali. Aku minta tolong kamu yang jemput aku, please.”

“Emh, what ever you want deh, Niel…”

Good girl!

“Yang cakep ya!”

“Halah!”

 

Ya. Aku memulai hari ini dengan mengurai setiap apa yang datang padaku. Bukan menjadikannya pokok masalah. Tapi mencoba mengurai dan memecahkan setiap apa yang datang. Begitu pun dengan kalian, kuharap. 

Bandung, 29 Mei 2008, 10.01 wib.